diturunkan Allah Ta’ala kepada orang orang beriman adalah disyariatkannya
qiyamul lail atau shalat malam. Diluar Ramadhan dikenal dengan sebutan shalat
tahajjud sedangkan di bulan Ramadhan disebut qiyam Ramadhan atau shalat
taraweh.
beriman akan mendapat tambahan kebaikan dan keutamaan dalam beribadah
kepada-Nya. Diantaranya adalah :
mengamalkan shalat taraweh.
menyebutkan :
رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مَنْ
قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Abu Hurairah, dari Rasulullah Salllahu ‘alaihi Wasallam, beliau bersabda : Jika
seseorang melaksanakan shalat taraweh atas dasar iman dan mengharap pahala dari
Allah akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu. (H.R Imam Bukhari dan Imam
Muslim)
menurut Imam Nawawi adalah shalat taraweh. Hadits ini memberitahukan, bahwa
shalat taraweh itu bisa mendatangkan maghfirah dan bisa menggugurkan semua
dosa. Tetapi dengan syarat : (1) Karena berlandaskan iman. (2) Membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan
oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah Ta’ala. (3) Bukan karena
riya’ atau sekedar (mengikuti) adat kebiasaan. (Fathul Bari).
shalat semalam penuh.
melakukan shalat sepanjang malam apalagi terus menerus selama sebulan. Tapi
dengan kasih sayang-Nya, Allah Ta’ala mendatangkan Ramadhan dan ada kesempatan
untuk shalat taraweh yang bernilai pahala seperti shalat semalam penuh.
‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau
bersabda :
قِيَامُ لَيْلَةً
sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh. (H.R
Imam Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).
ini merupakan anjuran serta motivasi
agar kaum muslimin mengerjakan shalat taraweh secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai. Dan mereka
yang mengamalkannya akan mendapatkan pahala shalat semalam penuh.
sebagian orang yang bertanya : Berapa jumlah rakaat qiyam Ramadhan ?.
Ketahuilah bahwa hakikatnya jumlah rakaat shalat ini tak dibatasi bilangan
tertentu karena Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam tak menentukan batasannya
secara tegas. Beliau hanya sangat menganjurkan untuk melakukan qiyam Ramadhan.
pernah ditanya tentang shalat lail, beliau menjawab sebagaimana disebutkan
dalam sabdanya :
خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ
صَلَّى
antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan
itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir. (H.R Imam Bukhai dan Imam
Muslim).
jumlah raka’at dalam shalat malam, tidak mengapa ditambah atau dikurang.
Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila seseorang
menambah jumlah raka’atnya maka bertambah pula pahalanya. (Al Minhaj Syarh
Shahih Muslim, an Nawawi)
muslimin bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’atnya. Shalat malam adalah
shalat nafilah (shalat sunnah) dan termasuk amalan kebaikan. Seseorang boleh
semaunya mengerjakan dengan jumlah raka’at yang sedikit atau pun banyak. (At
Tamhid Ibnu Abdil Barr)
longgar jumlah rakaatnya. Boleh dilakukan dengan 20 rakaat taraweh dan 3 rakaat
witir. Yang ingin melakukan 10 rakaat taraweh dan 1 witir boleh pula. Boleh
juga dengan 8 rakaat taraweh dan 3 rakaat witir. Juga tidak mengapa
melakukannya kurang dari itu.
ada satu hadits menjelaskan bahwa Rasulullah shalat
lail 11 rakaat. Dari Abu Salamah bin
Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha : Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam di bulan Ramadhan ?. ‘Aisyah mengatakan :
يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat
lainnya lebih dari 11 raka’at. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
shalat malam. Yang menjadi masalah penting bahkan sangat penting adalah
bagaimana kesungguh sungguhan kita melaksanakan shalat lail ini di bulan
Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Dan
ini harus dibuktikan dalam melaksanakannya yaitu DENGAN MENJAGA : (1) Hadirnya
hati ketika shalat. (2) Senantiasa khusyu’. (3) Tak mengabaikan tuma’ninah saat
berdiri, duduk, ruku’ serta sujud, tidak tergesa gesa. (4) Membaguskan bacaan.
taraweh yang tergesa gesa, mengabaikan tuma’ninah maka dianjurkan mencari masjid lain yang lebih
baik pelaksanaan shalat tarawehnya.
Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.629)





































