AMAL
seorang hamba adalah BERIBADAH DENGAN IKHLAS untuk mencari ridha dan
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman :
ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ
وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Allah DENGAN IKHLAS mentaati-Nya semata mata karena (menjalankan) agama dan
juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah
agama yang lurus. (Q.S al Baiyinah 5).
menjaga keikhlasan dalam beribadah adalah dengan menyembunyikan amal itu dari
orang lain yaitu dengan cara tidak memperlihatkan dan tidak pula
memperdengarkannya.
amal bisa disembunyikan dari orang banyak. Bahkan ada amal amal yang sebaiknya
atau sangat dianjurkan untuk dilakukan bersama orang banyak. Diantaranya shalat
wajib berjamaah di masjid bagi laki laki. Dan juga shalat taraweh yang
dianjurkan untuk dilakukan bersama imam serta shalat dua hari raya dan yang
lainnya.
dianjurkan terutama sekali sebagai penghambat perasaan ujub dan riya. Sungguh
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan bahwa orang yang
menyembunyikan amalnya MENDAPAT KECINTAAN ALLAH TA’ALA, sebagaimana sabda
beliau :
التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّSesungguhnya Allah mencintai hamba
yang bertakwa, berkecukupan dan suka sembunyi sembunyi dalam beramal. (H.R Imam
Muslim).
adalah salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari Kiamat kelak,
sebagaimana disabdakan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :
فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ.…
shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang
diinfaqkan tangan kanannya …. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu
Hurairah)
: Setelah mereka mengetahui syarat ini (syarat diterimanya suatu ibadah, pen.)
mereka pun berusaha amal shalih yang mereka kerjakan seraya berharap amal
mereka diterima dan menghindari riya. Diantara mereka dengan Allah ada rahasia
rahasia amal shalih yang tidak diketahui seorang pun.
harus ada rahasia berupa amal shalih. Jika rahasia ini kuat
terjaga maka akan ditambah lagi dengan rahasia yang lain. Jika tambahan ini
juga kuat terjaga maka ditambah lagi dengan rahasia yang lain. Sehingga antara
dirinya dengan Allah terdapat banyak rahasia. Jika dia terhimpit kesulitan, dia
akan memohon kepada Allah Ta’ala dengan rahasia rahasia itu. (Dinukil dari
Kitab al Akhfiyaa).
berusaha menyembunyikan amalnya. Ketahuilah, dalam satu riwayat, yang amat
mengagumkan tentang seseorang
menyembunyikan amalnya,
disebutkan bahwa ketika Maslamah Ibnu Abdul Malik bersama pasukannya
mengepung sebuah benteng Romawi, hanya ada satu jalan masuk ke dalamnya.
Maslamah berseru kepada pasukannya :
Barangsiapa berani menerobos pintu, kalau dia mati saat menerobosnya
maka dia akan mendapatkan surga, insya Allah. Kalau dia selamat maka tanah yang
ada dibalik pintu (benteng) pantas untuknya. Lalu dia harus membuka pintu itu
agar pasukan Islam dapat masuk ke dalam benteng sebagai pemenang.
berdiri seraya berkata : Aku akan melakukannya wahai panglima.
bertanya tanya : Siapakah orang yang mengenakan tutup muka itu ?. Siapakah dia
yang telah membuka pintu benteng musuh ?. Tapi tak seorang pun yang mengaku.
perang berkata : Aku bersumpah, agar orang yang mengenakan tutup muka itu
menemui aku. Kapan pun waktunya, siang ataupun malam.
tendanya. Maslamah bertanya : Engkaukah orang yang mengenakan tutup muka ?.
Orang itu menjawab bahwa dia minta tiga
syarat sebelum sebelum Maslamah melihat wajah orang itu.
itu syaratnya ?. Orang itu menjawab : (1) Engkau tidak boleh
mengumumkan namanya kepada orang banyak. (2) Engkau tidak boleh memberinya
imbalan apa pun, dan (3) Engkau tidak boleh memandangnya sebagai orang yang
memiliki keistimewaan.
orang itu berkata : Memang, akulah orang yang mengenakan tutup muka dan telah
membuka pintu benteng Romawi.
Setelah itu Maslamah selalu berdoa : Ya Allah, kumpulkan aku bersama orang yang
menutup muka. Ya Allah, kumpulkan aku bersama orang yang menutup muka. (Dinukil
dari Kitab al Akhfiya).
muka ini dibandingkan dengan orang orang di zaman sekarang. Mungkin jalan
ceritanya akan lain. Wallahu A’lam. (1.519).




































