Musibah
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
tidak menjadikannya sebagai tempat tujuan. Itu adalah Sunnatullah yang Allah
tetapkan untuk mereka yang hidup di dunia, Dia berfirman,
مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar.” (Terj. Al Baqarah: 155)
أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Qs. Al Mulk: 2)
engkau bersabar terhadap cobaan itu atau bersikap keluh kesah dan tidak
menerima?
kesah, protes, dan tidak menerima tidak dapat menarik dan merubah apa yang
telah terjadi, bahkan hanya menambah dosa, penderitaan di batin, dan murka dari
Allah Sang Pencipta.
mencintaimu, menyiapkan pahala yang besar bagimu, dan Dia akan merubah keadaanmu
yang sebelumnya terpuruk menjadi baik dan bahagia, Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu.
– الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ — أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ
رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
sabar.–(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (artinya: Sesungguhnya kami
adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali).–Mereka itulah yang
mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al Baqarah: 155-157)
أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)
مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] ، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي
مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ
خَيْرًا مِنْهَا
mengucapkan seperti yang diperintahkan Allah, “innaa lillahi wa innaa ilaihi
raji’un…dst.” (artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali
kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala terhadap musibahku, dan gantikanlah
untukku dengan yang lebih baik daripadanya),” melainkan Allah akan menggantikan dengan yang
lebih baik daripadanya.” (Hr. Muslim)
jangan engkau kira, bahwa hamba Allah yang paling baik adalah orang yang paling
jauh dari cobaan, bahkan cobaan merupakan tanda keimanan.
bapaknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah orang
yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab,
فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ
بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا
يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ
خَطِيئَةٌ»
setelahnya dan setelahnya. Seseorang akan diuji sesuai keadaan imannya. Siapa
yang agamanya kuat, maka ujiannya pun berat, dan siapa yang agamanya lemah maka
ujiannya disesuaikan dengan kadar agamanya itu. Ujian ini akan tetap menimpa
seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi,
dinyatakan hasan shahih oleh Tirmidzi dan Al Albani)
kepada hamba-hamba-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً
ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَي، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu
kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia akan
mendapatkan keridhaan-Nya, dan barang siapa yang kesal terhadapnya, maka ia
akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi
menghasankannya).
Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan kesalahanmu. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ ، حَتَّى
الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا »
suatu musibah menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menggugurkan
dosa-dosanya, meskipun hanya terkena duri.” (HR. Bukhari)
وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا،
إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
kesedihan, gangguan, dan kegundahan, bahkan duri yang mengenainya, melainkan
Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya dengannya.” (Hr. Bukhari)
adalah untuk kebaikanmu; untuk menghapuskan kesalahan-kesalahanmu agar engkau
meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih dari dosa, sehingga alam kubur nanti
maupun alam akhirat menjadi tempat istirahatmu. Oleh karenanya, cobaan merupakan
tanda Allah memberikan kebaikan kepadamu. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا
أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِىَ بِهِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat
sanksi di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya maka
ditahan hukuman itu karena dosa-dosanya sehingga ia mendapatkan balasannya pada
hari kiamat.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)
berkata, “Berbahagialah orang yang meninggal dunia dalam keadaan
dosa-dosanya ikut wafat meninggalkannya,
dan kesengsaraan yang panjang bagi orang yang meninggal dunia, sedangkan
dosa-dosanya masih tetap menemaninya. Oleh karena itu selama seratus atau dua
ratus tahun dia disiksa di kubur dan terus diminta pertanggungjawaban hingga
habis dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman,
catat apa yang mereka kerjakan dan sisa-sisa peninggalan mereka.” (Terj. Qs. Yasin : 12) (Al Muwafaqat 1/361)
karena musibah, tentu kita akan mendatangi hari Kiamat dalam keadaan bangkrut.”
(Uddatush Shabirin karya Ibnul Qayyim hal. 147)
yang merupakan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat, Dia berfirman,
وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Qs. Al A’raaf: 168)
ini sampai melupakan akhirat, agar engkau mempersiapkan bekal yang banyak
menuju akhirat sehingga engkau bahagia di sana, dan akhirat itu lebih baik lagi
kekal abadi. Allah Ta’ala berfirman,
الزَّادِ التَّقْوَى
bersabarlah.
مَنْزِلَةٌ، لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي
مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ
الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى»
seorang hamba yang telah ditetapkan Allah memiliki suatu kedudukan tinggi,
namun amalnya tidak dapat mencapainya, maka Allah akan memberikan ujian pada
badannya, hartanya, atau anaknya, lalu Dia menjadikan hamba itu sabar
menghadapinya sehingga Allah menyampaikan dengan musibah itu kepada kedudukan
yang telah ditetapkan Allah baginya.” (Hr. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al
Albani)
seorang yang saleh, maka cobaan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang lalu
dan mengangkat derajatnya. Namun jika ia seorang pelaku maksiat, maka cobaan
itu akan menghapuskan dosa-dosanya dan sebagai peringatan terhadap bahaya
dosa-dosa itu.
enak tanpa mendapatkan cobaan padahal dirinya berbuat maksiat pertanda keadaan
mereka baik. Sekali-kali tidak, bahkan yang demikian merupakan istidraj
(penangguhan azab dari Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
اللهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلىَ مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ
فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“فَلَمَّا نَسُوا ….الاية.
kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia yang disenangi kepada seorang
hamba padahal ia berada di atas maksiat, maka sebenarnya hal itu adalah
istidraj”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat,
بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada
mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka
terdiam berputus asa. (Qs. Al An’aam: 44). (HR. Ahmad dengan isnad yang jayyid, Shahihul
Jami’ no. 561)
peristiwa dahsyat seperti gempa bumi, tsunami, tenggelam, tertimpa reruntuhan,
terbakar dan sebagainya, maka boleh jadi itu lebih baik bagi mereka sebagai
penebus kesalahan mereka dan agar mereka mendapatkan pahala yang besar dari
Allah dengan memperoleh derajat syuhada. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
وَالمَبْطُونُ، وَالغَرِقُ، وَصَاحِبُ الهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
yang melanda yang membinasakan manusia), orang yang wafat karena penyakit
perut, orang yang wafat tenggelam, orang yang wafat tertimpa reruntuhan, dan
orang yang syahid di jalan Allah.” (Hr. Bukhari)
الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ
ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي
يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ
yang terkena tha’un adalah syahid, orang yang wafat tenggelam adalah syahid,
orang yang wafat karena terkena dzatul janbi (TBC, ada pula yang mengartikan
bisul besar di bagian dalam rusuk, atau penyakit pada bagian rusuk lainnya) adalah
syahid, orang yang wafat karena penyakit pada perut adalah syahid, orang yang wafat
karena terbakar adalah syahid, orang yang wafat karena tetimpa treruntuhan
adalah syahid, dan wanita yang wafat karena melahirkan adalah syahid.” (Hr. Abu
Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani)
sallam walhamdulillahi Rabbil alamin,
Marwan bin Musa






































