
tertegun sejenak. Matanya tersikap penuh layu. Pikiran pria berbadan tegap ini
hanya tertuju pada kuesioner lusuh yang dipegangnya sedari tadi. Jika ia
mengingat cemoohan Pak Yadi pada Jodi kemarin, tentu langkahnya akan semakin
tak tentu.
pulang saja kamu! Mau ladang tebu saya dicatat kek, saya juga masih miskin.”
Pak, ini untuk kebutuhan data sensus. Ayolah Pak! Data Bapak sangatlah berarti.”
ini ngeyel ya kalau dibilangin orang. Saya bilang tidak ya tidak!”
kembali beranjak dari ingatan yang membuat kepalanya pusing. Ia mengambil tas
berlabelkan sensus pertanian miliknya. Kuesioner lusuh ditangannya ia masukkan
ke dalam tas bercorak kehijauan itu. Dengan sedikit keraguan, ditepiskannya
perasaan yang membuat hatinya gundah. Kali ini ia harus kembali ke rumah Pak
Yadi. Petani tebu itu harus ia taklukan hatinya.
apapun yang terjadi data ini harus diperjuangkan,” bisik Pak Alif dalam terpaan
angin senja.
itu burung camar berbincang dengan asyiknya. Mengitari pedesaan di kawasan
Bukit Barisan. Pak Alif yang sedari tadi sibuk mencermati kuesioner hasil
pencacahan sensus pertanian timnya tertegun seketika. Tatapannya tertuju pada
koran yang sedang tergeletak di atas meja. Baris-baris huruf pada halaman atas
itu ia cermati. Ia tertegun. Menulusuri satu per satu kalimat-kalimat berita
itu membuat wajah pria ini tercengang.
rekaan. Petugas sensus hanya mengarang data itu saja dan….
Alif menghela nafas. Berusaha meratapi kejanggalan media ini. Ia tahu itu tak
benar. Ia tahu bagaimana kerasnya perjuangan sang pencacah lapangan. Jika media
meliput bagaimana ia dan teman pencacah lainnya rela menelusuri pencacahan
sampai akhir, sampai ke ujung bukit pun, mereka akan tahu susahnya perjuangan
itu.
Alif kembali mendesah. Ia tahu benar kualitas data instansi ini. Beberapa tahun
pengabdiannya bergabung sebagai koordinator tim survey dan sensus, membuatnya
bisa berkata seperti itu.
lelaki paruh baya ini bergulir pada kerasnya pencacahan yang dilakukan timnya
saat sensus penduduk 2010 kemarin. Gongongan anjing dari rumah Bu Darti,
pengusiran warga yang tidak mau dicacah, bahkan gelapnya malam pernah
dihadangnya untuk mendapatkan kualitas data ini. Dan sekarang media berkata seenaknya saja.
Ah, tentu hati pejuang data ini akan berguncang.
Drrr… Drrr….
Pak Alif bergetar. Sebuah pesan singkat membuat kening tuanya mengerut.
ini Pak? Pak Yadi ndak mau dicacah. Sekarang kami malah disuruh pulang sama
dia. Beliau masih kukuh ndak mau didata.
kenapa kita ndak buat data fiktif aja? Kenapa mesti capek-capek mencacahnya
segala. Bapak kan tahu, rumah terakhir itu sangat jauh. Letaknya pun di ujung
bukit. Untuk menuju ke sana saja kita harus melewati hutan bambu yang lebat
itu. Mana orang yang tinggal disana sudah sepuh. Kalau ditanya saja kadang dia
ngelantur jawabnya, Pak. Dicacah atau tidak sama saja kan?” ucap Jodi dengan lugunya.
berdarah minang itu tersenyum. Ditatapnya wajah anak buahnya itu dengan mantap.
tahu Nak. Ini bukan hanya sekedar jauh tidaknya, bukan sekedar susah tidaknya.
Sekarang aku tanya padamu. Kau tahu guna data ini untuk bangsa ini? Dan… kau tahu
sebab kita ada disini?” timpal Pak Alif sambil menyeka keringatnya sedari tadi.
sebab saya disini, ya… buat nyari makan Pak, hehe,” ujar Jodi penuh canda.
selain itulah.”
Alif menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal.
disini sedang berjihad Jod….”
Pak Alif melumat wajah lugu Jodi. Raut muka kebingungan yang ditampakkan pria
berwajah tirus ini membuat Pak Alif tersenyum simpul.
kita sedang berjihad untuk mengabdi pada negeri ini. Apapun yang terjadi, data
ini harus diperjuangkan. Tantangan itu memang akan selalu ada. Pengusiran dari
orang lain, ketidakpercayaan media pada data ini, semuanya adalah tantangan
Nak. Tapi coba bayangkan ke depan. Bayangkan dengan lebih dalam…. Semua
kebijakan negeri ini kelak diproyeksikan dengan data ini. Kalau tak ada yang
memperjuangkan kebenarannya, siapa lagi yang akan membenahi negeri kita, Nak?”
tertegun. Ia berusaha memikirkan kalimat Pak Alif. Semuanya memang benar.
Pejuang data itu memang tidak boleh gentar untuk mendapatkan data yang benar.
rumah terakhir yang harus mereka cacah. Urusan dengan Pak Yadi kemarin pun
alhamdulillah sudah selesai. Dan itu semua berkat kepiawaian Pak Alif.
Pembicaraan interaktif yang beliau coba bangun sore itu tentu tidak akan pernah
dilupakan anak muda ini. Setiap kali petani tebu itu berdalih, semakin Pak Alif
cekatan. Jurus-jurus mautpun dikeluarkan. Pak Alif selalu berusaha menyelipkan
kepercayaan kepada petani tebu ini. Dan dengan kesabaran, benih kepercayaan itu
akhirnya membekas dalam hati sang petani. Membukakan pintu keraguan akan
kegunaan sensus ini. Membukakan tabir kebimbangan petani tua yang sudah bosan
dengan berbagai tipu daya dunia.
tahu, ia diam-diam mengangumi sosok pejuang data yang ada di sebelahnya
ini. Sesuatu muncul diam-diam merayap
hatinya.
apapun yang terjadi kita memang harus mengabdi, melayani, menjadi sesuatu yang
berarti bagi negara ini,” ucap Jodi dalam diam.
tertuah
terus bergulir
kesabaran
makna
data
kisah yang terinsipirasi dari pejuang-pejuang data di negeri Bukit Barisan,
Sumatera Barat. Semoga Allah membalas jihadmu para pejuang data–
![[#AYTKTM] Lelaki Penggenggam Data](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2024/10/genggam-data.jpg?fit=320%2C198&ssl=1)







































