ROMAJI:“Boku to kimi nara kitto koete ikeru sa”
Sou itta kimi no koe ga hosoku furuete itan da
Ato ikutsu no “yoru” to “karappo” kamishimetara
Tadori tsukeru no kamo shiru hito sae kaimu
“Atarimae” ga modotte kita to shite
Sore wa mou aka no tanin
Kitto onaji sekai ni wa mou modoranai
“Tadaima” to aketa doa no saki wa “shinsekai”
Bokura nagai koto kuzureru ashimoto wo
“Ue muite arukeyo” to me wo sorashisugita
Naite naite naite nankanai yo
Naite naite naite naitenai yo
“Naide” “naide” “naide” naitenai de
Naite naite naite naitenai yo tte
Mitetai mono dake ni pinto wo awasete wa
Ato wa mozaiku de chikyuu wo ootta no
Bokura sora ni ochiteku biru wa hagare ochiteku
Kane wa hifu wo haideku basei wa hanekaetteku
Ikenie wa tsumotteku unmei wa ibiki kaiteru
Kirei na zero wo egaite sa atarashiku shiyou “ima”
Kizudarake no maigo dake ga
Umareru koto wo yurusareta kono chikyuu no ue de
Nani wo “yuuretsu” nado to notamau?
Jikkyou seki de kyou mo kamaeru kami yo, nani wo omou
Anata no me de mitodoketa mae
Jono katasutorofi no ketsumatsu wo
“Boku to kimi nara kitto koete ikeru sa”
Sou itta kimi no koe ga hosoku furuete itan da
Yume wa sameru made wa mada yume de wa nai sa
Uso ga bareru made wa uso de wa nai you ni
“Kono jikuu de saigo no koi naraba
Kimi to koete yukitai”
Yodomi kitta shinjitsu nante hoshiku nain desho
Kawaii kao no uso ga suki de shikatanain desho?
Kimi ga kachitai nara boku wa make de ii kara
Sore de ureshiin nara jaa egao wo misete yo
Kimi to egakitai no sa yureta sen de ii kara
Asu no asa atari sekai wo kae ni ikou ka ne
INDONESIA:“Jika aku bersamamu, kita pasti dapat melaluinya”
Suaramu yang mengatakannya terlihat gemetar dengan lemah
Jika kita melalui “malam” dan “kehampaan” itu berkali-kali
Mungkin kita dapat meraihnya, tak ada satu pun yang tahu
Jika “hari-hari yang biasa” itu datang kembali
Maka tak ada hubungannya dengan orang lain
Kuyakin dunia yang sama tak akan kembali lagi
Di balik pintu yang berkata “tadaima” adalah “dunia baru”
Pada kaki kita yang telah lama merasa ambruk ini
Kita berkata “terus melangkah” sementara mengalihkan mata
Menangis, menangis, menangis, sepertinya tidak
Menangis, menangis, menangis, aku tak menangis
“Tenanglah”, “tenanglah”, “tenanglah”, jangan menangis
Menangis, menangis, menangis, berkata “aku tak menangis”
Ketika mencoba fokus pada hal yang ingin kita lihat
Hal itu lalu menjadi mozaik, apakah bumi tertutup?
Kita terjatuh dari langit, terjatuh dari bangunan tinggi
Uang melepaskan kulitnya, suara kasar terus berdengung
Pengorbanan terus bertambah, takdir tidur dengan mendengkur
Mari menggambar 0 yang indah, mari memperbarui “sekarang”
Hanya anak hilang yang penuh dengan luka
Yang diperbolehkan terlahir di atas bumi ini
Lalu kenapa ada yang namanya “superioritas”?
Wahai Tuhan yang duduk di kursi komentar, apa yang kau pikirkan?
Kumohon lihatlah dengan matamu sendiri
Tentang akhir dari katastrofi ini
“Jika aku bersamamu, kita pasti dapat melaluinya”
Suaramu yang mengatakannya terlihat gemetar dengan lemah
Itu bukanlah mimpi jika kita belum terbangun dari mimpi
Itu bukanlah kebohongan jika kebohongan belum terungkap
“Jika ini adalah cinta terakhir di ruang waktu ini,
Aku ingin melaluinya bersamamu”
Kau pasti tak menginginkan kebenaran yang stagnan itu, kan?
Kau tak bisa apa-apa selain berbohong dengan wajah cantik, kan?
Jika kau ingin menang maka tak masalah jika aku yang kalah
Jika kau merasa bahagia maka perlihatkanlah senyummu
Aku ingin melukisnya denganmu, meski dengan garis tak lurus
Mari kita mengubah dunia ini pada waktu pagi di esok hari