
Apabila seseorang mampu menahan dirinya dari keluh kesah, kegelisahan,
dan kegundahan akibat berbagai macam cobaan, maka ia tergolong
orang-orang yang sabar. Sebaliknya, tatkala seseorang suka mengeluh,
mengaduh, dan selalu merasa jengah dan khawatir atas berbagai macam
musibah, maka ia bukanlah termasuk bagian orang-orang yang sabar.
Jamaluddin al-Qasimi menyatakan, “Barangsiapa yang tetap tegak bertahan
sehingga dapat menundukkan hawa nafsunya secara terus-menerus, orang
tersebut termasuk golongan orang yang sabar.” [Al-Qasimi, Mau’idlaat
al-Mukminiiin].
telah Kubebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hambaKu pada
badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar
yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada
kiamat atau membukakan buku catatan amalan baginya.” [HR. al-Dailamiy,
dari Anas ra].
Kami akan uji kalian dengan suatu cobaan berupa ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang ketika ditimpa
kesusahan (musibah) mereka berkata, ”Sesungguhnya kami adalah milik
Allah dan kepadaNya pula kami akan kembali.” Mereka adalah orang-orang
yang mendapatkan karunia, kehormatan, dan rahmat dari Allah dan
merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah.” [al-Baqarah:155-157]
banyak nash-nash al-Quran yang bertutur tentang kesabaran serta pahala
yang diberikan Allah kepada orang-orang yang sabar.
Kesabaran merupakan perhiasan hati yang sangat agung dan mulia.
Kesabaran akan menjadikan seseorang menjadi qana’ah, mulia dan dihormati
oleh siapapun. Selain itu, kesabaran juga merupakan syarat-syarat yang
harus dipenuhi seseorang untuk mendapatkan sebuah kemenangan. Dalam
sebuah ayat, Allah swt berfirman,
orang-orang yang beriman, berlakulah sabar dan perkuat kesabaran di
antara sesama kalian, dan bersiagalah kalian serta bertaqwalah kepada
Allah, supaya kalian memperoleh kemenangan.” [Ali Imran:200]
yang dimaksud di sini adalah kesabaran dalam menghadapi segala bentuk
kesulitan dan penderitaan tatkala menjalankan perintah Allah swt.
dalam peperangan harus diwujudkan dengan cara menjalankan seluruh
kausalitas peperangan, misalnya mempersiapkan strategi yang jitu,
melengkapi diri dengan persenjataan yang memadai, serta mentaati
instruksi-instruksi dari kepala pasukan. Selanjutnya, ia berserah diri
kepada Allah swt atas semua hal yang akan menimpanya, baik menang maupun
kalah.
dalam bekerja harus direfleksikan dengan cara mengorganisasikan seluruh
hal yang bisa menunjang keberhasilan pekerjaan. Ia mempersiapkan
seluruh potensi dirinya untuk meraih rejeki yang halal, dan berserah
diri kepada Allah atas semua hasil yang diterimanya.
dalam berdakwah Islam harus diwujudkan dengan cara berjalan sesuai
dengan manhaj dakwah Rasulullah saw walaupun jalan itu terasa sulit,
panjang, berliku dan penuh dengan cobaan dan musibah. Selanjutnya, ia
membuat rencana-rencana program yang terarah, realistis, dan jelas.
Dirinya juga kreatif dalam menciptakan uslub-uslub/cara-cara yang sesuai
dengan kondisi dan fakta yang ada, dan secara logis akan mengantarkan
kepada keberhasilan. Ia juga selalu mencari dan menciptakan cara-cara
baru yang bisa mempermudah akses dakwahnya di tengah-tengah masyarakat.
dasar itu, kesabaran harus diwujudkan dengan cara mempersiapkan diri
menghadapi segala macam kesulitan dan derita dalam menjalankan seluruh
perintah Allah swt.
Pertama, kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat fisik. Kedua,
kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik.
dalam menghadapi cobaan bersifat fisik adalah tabah dalam memikul
tugas-tugas yang berat , tabah dalam menghadapi kemiskinan, cacat, atau
menderita rasa sakit (akibat penyakit maupun siksaan).
teguh dalam menghadapi musibah, kesulitan, dan bencana tanpa ada keluh
kesah, mengumpat, tidak menunjukkan rasa kekesalan dan sebagainya.
Kesabaran semacam ini sering dianggap sebagai bentuk kesabaran secara
umum.
(keberanian), yakni mampu menahan diri dari sifat kepengecutan di medan
peperangan. Lawan dari sifat syaja’ah adalah jubun (pengecut).
yakni menahan diri untuk tidak menyampaikan suatu aib atau rahasia –
baik rahasia diri sendiri, orang lain dan negara – kepada orang lain.
akan membuahkan keberhasilan dan kebahagiaan. Sebaliknya, sifat
tergesa-gesa, gelisah dan berlebihan akan menjatuhkan seseorang ke dalam
kegagalan dan kemurkaan Allah swt.






































