Dokterpedia – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah masalah serius
yang dapat menghancurkan fondasi keluarga dan meninggalkan luka mendalam pada
para korbannya. Di Indonesia, KDRT masih menjadi fenomena yang memprihatinkan,
dengan berbagai faktor yang memicu terjadinya tindakan kekerasan ini.
Mengidentifikasi penyebab-penyebab utama KDRT dapat membantu masyarakat lebih
waspada dan berupaya mencegahnya. Artikel ini akan membahas enam hal utama yang
sering menjadi pemicu KDRT dalam rumah tangga.ย

Inilahย 6 Hal Pemicu KDRT Dalam Rumah Tangga
1. Perselingkuhanย
Perselingkuhan adalah salah satu penyebab utama terjadinya
KDRT di banyak rumah tangga. Ketika salah satu pasangan, baik suami maupun
istri, terlibat dalam hubungan di luar pernikahan, hal ini sering kali
menimbulkan ketegangan emosional yang ekstrem. Perselingkuhan dapat memicu rasa
cemburu, marah, dan ketidakpercayaan, yang pada gilirannya bisa berujung pada
tindakan kekerasan fisik atau verbal sebagai bentuk pelampiasan emosi. Selain
itu, rasa malu dan penghinaan yang dirasakan oleh pasangan yang diselingkuhi
sering kali menjadi faktor pendorong kekerasan sebagai bentuk balas dendam atau
upaya mempertahankan harga diri.ย
Dalam beberapa kasus, perselingkuhan tidak hanya memicu
kekerasan tetapi juga memperparah kondisi rumah tangga yang sudah tidak
harmonis. Pasangan yang merasa dikhianati mungkin mulai mencari cara untuk
melampiaskan rasa sakitnya, yang sering kali berujung pada kekerasan fisik atau
psikologis. Perselingkuhan juga sering kali menjadi penyebab terjadinya
perceraian, yang pada prosesnya bisa memperburuk kondisi KDRT di dalam rumah
tangga. Dalam masyarakat yang memiliki norma sosial kuat terkait kesetiaan,
perselingkuhan dianggap sebagai pelanggaran berat yang dapat memicu reaksi
kekerasan dari pasangan yang merasa terkhianati.ย
Selain itu, data menunjukkan bahwa perempuan yang suaminya
terlibat dalam hubungan dengan perempuan lain memiliki risiko lebih besar
mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual. Hal ini menunjukkan bahwa
perselingkuhan tidak hanya merusak kepercayaan dalam pernikahan, tetapi juga
meningkatkan risiko terjadinya KDRT secara signifikan. Kebutuhan akan
kepercayaan dan kesetiaan dalam hubungan pernikahan menjadi alasan mengapa
perselingkuhan sangat berbahaya dan sering kali menjadi pemicu utama kekerasan
dalam rumah tangga.ย
2. Masalah Ekonomiย
Masalah ekonomi sering kali menjadi pemicu utama konflik
dalam rumah tangga, dan dalam beberapa kasus, dapat berujung pada KDRT. Ketika
kebutuhan dasar keluarga tidak terpenuhi, tekanan finansial dapat menyebabkan
ketegangan yang signifikan di antara pasangan suami istri. Ketidakmampuan untuk
mencukupi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal, dan
pendidikan anak-anak, sering kali memicu perasaan frustrasi dan marah, yang
dapat berujung pada tindakan kekerasan sebagai bentuk pelampiasan.ย
Selain itu, ketidakharmonisan dalam pembagian tanggung jawab
keuangan juga sering kali menjadi sumber konflik. Misalnya, jika suami sebagai
kepala keluarga tidak mampu memenuhi kewajiban nafkah, istri mungkin merasa
terbebani dan kecewa, yang dapat memicu pertengkaran dan, pada akhirnya,
kekerasan. Di sisi lain, suami yang merasa gagal dalam peran sebagai penyedia
utama mungkin juga merasa malu atau marah, yang dapat menyalurkan perasaan
negatif tersebut dalam bentuk kekerasan terhadap istri atau anak-anak.ย
Data menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki suami
pengangguran atau tidak memiliki pekerjaan tetap memiliki risiko lebih tinggi
mengalami KDRT dibandingkan dengan perempuan yang suaminya memiliki pekerjaan.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dalam rumah tangga memainkan peran
penting dalam menjaga keharmonisan hubungan suami istri. Oleh karena itu,
masalah ekonomi perlu dikelola dengan baik untuk mencegah potensi konflik yang
bisa berujung pada kekerasan.ย
3. Budaya Patriarkiย
Budaya patriarki, yang memberikan kekuasaan lebih besar
kepada laki-laki dalam rumah tangga, sering kali menjadi akar penyebab KDRT.
Dalam masyarakat yang masih menganut sistem patriarki, laki-laki dianggap
sebagai kepala keluarga yang memiliki hak dan kendali penuh atas istri dan
anak-anaknya. Sikap dominan ini sering kali menyebabkan perempuan menjadi pihak
yang lemah dan rentan terhadap kekerasan. KDRT dalam konteks ini biasanya
muncul sebagai upaya suami untuk mempertahankan atau menegaskan kekuasaannya.ย
Budaya patriarki juga sering kali menghambat perempuan untuk
melaporkan kekerasan yang mereka alami. Ketakutan akan stigma sosial, serta
anggapan bahwa KDRT adalah masalah internal keluarga yang tidak boleh diketahui
orang luar, membuat banyak perempuan memilih untuk bertahan dalam hubungan yang
penuh kekerasan. Sistem ini menciptakan ketergantungan emosional dan finansial
pada suami, yang semakin memperkuat siklus kekerasan dalam rumah tangga.ย
Perempuan yang berasal dari rumah tangga dengan latar
belakang ekonomi yang lebih rendah cenderung lebih rentan terhadap KDRT dalam
sistem patriarki. Ketergantungan pada suami untuk kebutuhan finansial dan
kurangnya akses terhadap pendidikan atau pekerjaan membuat mereka sulit keluar
dari hubungan yang penuh kekerasan. Oleh karena itu, budaya patriarki harus
diatasi melalui edukasi gender yang lebih baik serta pemberdayaan ekonomi bagi
perempuan untuk mengurangi risiko KDRT.ย
4. Campur Tangan
Keluargaย
Campur tangan anggota keluarga dalam urusan rumah tangga
sering kali memicu konflik yang berujung pada KDRT. Keterlibatan orang tua atau
anggota keluarga lainnya dalam urusan pribadi suami istri bisa menciptakan
ketegangan yang sulit diatasi oleh pasangan tersebut. Misalnya, intervensi
dalam keputusan-keputusan penting seperti pengelolaan keuangan, pendidikan
anak, atau urusan domestik lainnya dapat memicu perselisihan yang memperburuk
hubungan suami istri.ย
Selain itu, adanya perbedaan pendapat antara anggota
keluarga dan pasangan suami istri dapat memperburuk situasi. Jika salah satu
pasangan merasa tertekan oleh tuntutan atau kritik dari keluarga besar, hal ini
dapat memicu konflik internal dalam pernikahan. Dalam beberapa kasus, pasangan
yang merasa terpojok oleh tekanan keluarga mungkin melampiaskan rasa frustrasi
mereka melalui tindakan kekerasan terhadap pasangannya.ย
Keterlibatan keluarga dalam urusan rumah tangga juga sering
kali membuat pasangan kehilangan kendali atas keputusan mereka sendiri, yang
dapat mengurangi rasa saling percaya dan menghormati. Ketidakmampuan untuk
menetapkan batas yang jelas antara kehidupan pribadi dan campur tangan keluarga
dapat menciptakan lingkungan yang tidak sehat, yang pada akhirnya meningkatkan
risiko terjadinya KDRT. Oleh karena itu, penting bagi pasangan suami istri
untuk menetapkan batasan yang jelas dan mandiri dalam mengambil keputusan untuk
menjaga keharmonisan rumah tangga.ย
5. Kebiasaan Judiย
Perjudian adalah salah satu kebiasaan yang sering kali
membawa dampak negatif bagi rumah tangga, termasuk memicu KDRT. Ketergantungan
pada judi dapat menyebabkan masalah keuangan yang serius, seperti utang yang
menumpuk, kehilangan aset keluarga, dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Tekanan finansial ini dapat menciptakan konflik yang tak
terhindarkan antara pasangan suami istri, yang sering kali berujung pada
kekerasan fisik atau emosional.ย
Selain dampak finansial, kebiasaan judi juga sering kali
menyebabkan perubahan perilaku pada pelakunya. Suami atau istri yang kecanduan
judi mungkin menjadi lebih tertutup, sering berbohong, atau bahkan menunjukkan
perilaku agresif ketika ditanya tentang masalah keuangan. Ketidakstabilan
emosional ini dapat memicu ketegangan dalam rumah tangga dan meningkatkan risiko
KDRT sebagai bentuk pelarian dari tekanan yang dirasakan.ย
Lingkungan yang tidak stabil akibat kebiasaan judi juga
berdampak pada anggota keluarga lainnya, terutama anak-anak. Anak-anak yang
tumbuh dalam keluarga dengan salah satu atau kedua orang tua yang kecanduan
judi sering kali menjadi saksi kekerasan atau bahkan menjadi korban KDRT. Untuk
itu, penting bagi pasangan suami istri untuk menghindari kebiasaan judi dan
mencari bantuan profesional jika diperlukan untuk mengatasi masalah ini demi
menjaga keharmonisan rumah tangga.
ย
6. Alkoholismeย
Kebiasaan minum alkohol secara berlebihan atau alkoholisme
adalah salah satu faktor yang sering kali memicu KDRT dalam rumah tangga. Suami
yang kecanduan alkohol cenderung mengalami perubahan perilaku yang drastis,
seperti kehilangan kendali diri, peningkatan agresi, dan kesulitan
mengendalikan emosi. Kondisi ini sering kali menyebabkan terjadinya
pertengkaran yang berujung pada kekerasan fisik atau verbal terhadap pasangan
atau anak-anak.ย
Selain itu, alkoholisme juga berdampak negatif pada
stabilitas emosional dan finansial rumah tangga. Kecanduan alkohol sering kali
mengakibatkan pengabaian tanggung jawab, seperti pekerjaan atau pengelolaan
keuangan, yang pada akhirnya memicu konflik dalam pernikahan. Ketidakmampuan
untuk menghadapi masalah sehari-hari tanpa bergantung pada alkohol sering kali
memperburuk situasi dan meningkatkan risiko KDRT.ย
Data menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki suami dengan
riwayat konsumsi alkohol memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekerasan fisik
atau seksual. Hal ini menunjukkan bahwa alkoholisme tidak hanya merusak
hubungan suami istri, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya kekerasan
dalam rumah tangga.
ย




























