Dokterpedia – Setiap orang tua tentu memiliki harapan dan impian bagi
anak-anak mereka. Namun, dalam perjalanan membesarkan anak, terkadang tekanan
dan harapan yang besar membuat beberapa orang tua mengucapkan kata-kata yang
dapat melukai perasaan anak mereka. Kalimat-kalimat seperti “Kamu selalu
mengacaukan segalanya” atau “Bunda kecewa banget sama kamu”
mungkin muncul saat orang tua merasa frustrasi.

Namun, ucapan-ucapan ini,
meskipun tidak dimaksudkan untuk menyakiti, dapat memiliki dampak yang mendalam
dan jangka panjang pada perkembangan emosional anak. Artikel ini akan mengulas
dampak negatif dari beberapa ucapan orang tua yang sering terlontar secara
tidak sadar, serta memberikan alternatif yang lebih positif dan membangun.
Inilah
Dampak Negatif Ucapan Orang Tua Terhadap Anak dan Cara Mengatasinya :
1. “Kamu selalu
mengacaukan segalanya”
Kalimat seperti ini sering kali terlontar saat orang tua
merasa frustrasi dengan kesalahan yang dilakukan anak. Meskipun mungkin
dilontarkan dalam kemarahan, dampaknya bisa sangat merusak bagi anak. Ucapan
ini bisa membuat anak merasa tidak berharga dan cenderung merasa bahwa semua
usaha mereka akan selalu salah di mata orang tua. Ketika anak terus-menerus
mendengar bahwa mereka selalu mengacaukan, rasa percaya diri mereka bisa
tergerus, membuat mereka ragu untuk mencoba hal-hal baru karena takut gagal.
Alih-alih menggunakan kata-kata yang keras, orang tua bisa
mencoba mengatakan, “Ayo kita cari tahu bersama apa yang bisa kita
perbaiki.” Ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar dari
kesalahan, tetapi juga memperkuat ikatan antara orang tua dan anak, serta
membangun kepercayaan diri anak.
2. “Apa yang
sudah Bunda lakukan sehingga punya anak seperti kamu?”
Ucapan ini mengandung unsur penghakiman yang sangat kuat dan
bisa membuat anak merasa tidak diinginkan atau tidak dicintai. Anak mungkin
merasa bahwa mereka adalah sumber masalah dalam kehidupan orang tua mereka.
Dampaknya bisa sangat merusak, membuat anak merasa tidak layak atau merasa
mereka harus menjadi orang lain agar dapat diterima dan dicintai.
Sebaliknya, orang tua bisa mencoba untuk fokus pada perilaku
tertentu yang menjadi perhatian, bukan pada karakter anak secara keseluruhan.
Misalnya, “Bunda tahu kamu bisa berbuat lebih baik dari ini, ayo kita coba
cari solusi bersama.” Dengan fokus pada masalah spesifik dan mencari solusi,
anak akan merasa didukung dan didorong untuk memperbaiki diri.
3. “Bunda kecewa
banget sama kamu”
Mengekspresikan kekecewaan secara langsung bisa
menghancurkan semangat anak. Anak-anak cenderung ingin menyenangkan orang tua
mereka dan ketika mereka mendengar bahwa orang tua mereka kecewa, hal itu dapat
menghancurkan kepercayaan diri dan rasa harga diri mereka. Kekecewaan yang
diungkapkan secara langsung dapat membuat anak merasa bahwa mereka tidak cukup
baik, tidak peduli seberapa keras mereka mencoba.
Orang tua bisa mengganti ucapan ini dengan, “Bunda tahu
kamu bisa lebih baik dari ini, yuk kita bicara tentang apa yang bisa
diperbaiki.” Dengan pendekatan ini, anak diajak untuk merenung dan
memperbaiki kesalahan tanpa merasa bahwa mereka sepenuhnya mengecewakan orang
tua mereka.
4. “Bunda tidak
mau mendengarnya”
Ketika orang tua menolak untuk mendengarkan anak, anak bisa
merasa tidak penting atau diabaikan. Ini bisa menyebabkan mereka menarik diri
dan enggan berbicara atau berbagi perasaan mereka di masa depan. Anak-anak yang
merasa tidak didengar oleh orang tua mereka mungkin akan mencari tempat lain
untuk didengar, yang kadang-kadang bisa mengarah ke lingkungan yang kurang
sehat.
Sebagai gantinya, cobalah untuk tetap mendengarkan meskipun
situasinya sulit, dengan mengatakan, “Bunda perlu waktu untuk menenangkan
diri dulu, setelah itu kita bisa bicara.” Ini menunjukkan bahwa orang tua
tetap peduli dan mau mendengarkan, hanya saja butuh waktu sejenak untuk
menenangkan diri sebelum berkomunikasi dengan baik.
5. “Kamu harus
mulai menurunkan berat badan!”
Ucapan ini bisa sangat merusak bagi citra tubuh anak dan
dapat memicu masalah kesehatan mental seperti gangguan makan atau rendahnya
harga diri. Ketika berat badan menjadi fokus utama perhatian orang tua, anak
bisa mulai merasa bahwa nilai diri mereka hanya dilihat dari penampilan fisik.
Daripada menekankan pada penurunan berat badan, orang tua
bisa mengatakan, “Mari kita mulai hidup lebih sehat bersama-sama.”
Dengan mengubah fokus ke gaya hidup sehat dan kesejahteraan, anak akan merasa
didukung tanpa merasa ditekan untuk mengubah penampilan mereka semata-mata
untuk menyenangkan orang lain.
6. “Minggir,
biar Bunda yang melakukannya”
Meskipun mungkin dimaksudkan untuk membantu, mengambil alih
tugas anak tanpa memberinya kesempatan untuk mencoba bisa mengajarkan
ketidakberdayaan. Anak bisa merasa tidak percaya diri dalam menyelesaikan tugas
atau tantangan jika mereka selalu disingkirkan oleh orang tua.
Orang tua bisa mencoba untuk membimbing anak melalui
prosesnya, dengan mengatakan, “Ayo kita coba lakukan bersama, Bunda akan
bantu kalau kamu butuh.” Ini tidak hanya memberikan anak kesempatan untuk
belajar dan tumbuh, tetapi juga memperkuat keterampilan pemecahan masalah dan
rasa percaya diri mereka.
Rangkuman
Ucapan yang terlontar dari orang tua, meskipun tidak
disengaja, bisa membawa dampak yang signifikan pada perkembangan emosional dan
mental anak. Penting bagi orang tua untuk selalu sadar akan kata-kata yang
mereka ucapkan, karena setiap kata bisa membentuk kepribadian dan pandangan
anak tentang diri mereka sendiri. Dengan mengganti ucapan negatif dengan yang
lebih positif dan membangun, orang tua bisa membantu anak tumbuh menjadi
individu yang percaya diri, mandiri, dan sehat secara emosional. Mari
bersama-sama menciptakan lingkungan yang penuh cinta dan dukungan untuk
generasi masa depan.



























