Suasana pagi di Kota Solo pagi itu terasa begitu syahdu. Mendung tipis menggelayut di antara mega. Pagi itu saya janjian bertemu dengan kawan di kawasan Pasar Gede Solo, sekalian sarapan pagi dan mencari beberapa jajajan tradisional. Dari Hotel Loji, saya sengaja memilih menggunakan transportasi becak agar lebih bisa menikmati suasana pagi di Kota Solo ini. Jalanan di Solo pagi itu terasa cukup ramai dengan lalu-lalang kendaraan yang menuju ke tempat kerja. Beberapa pedagang sudah nampak sibuk membuka toko dan membenahi lapak dagangan mereka. Akhirnya, setelah sepuluh menit perjalanan saya pun tiba di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro.

Sesuai dengan instruksi kawan, saya pun menanti kedatangannya tepat di area pintu masuk pasar. Nampak para penjual dan pembeli sudah sibuk dengan kegiatan jual-beli. Oh, iya, saya ingat, di dekat pintu masuk pasar ini biasanya terdapat penjual pecel ndeso yang enak itu. Sayang, setelah saya berkeliling dan bertanya kepada tukang parkir, saya mendapatkan informasi jika beliau sedang tidak berjualan hari ini. “Duh mas, kalau pecel ndeso biasanya hanya jualan hari Sabtu dan Minggu, kalau hari biasa gini beliau tidak jualan”, jelas bapak tukang parkir yang berjaga di sekitar pintu masuk pasar. Ketika saya sedang asyik mengamati lapak pedagang di dekat pintu masuk pasar, kawan saya pun datang menghampiri. “Yuk, cobain nasi liwet, rasanya gak kalah enak sama yang di Keprabon !” ajaknya pagi itu.
Dia mengajak saya menuju ke gedung sebelah barat pasar (gedung pasar yang berada di seberang pintu masuk utama Pasar Gede). Dahulu, bagian ini digunakan sebagai pasar ikan yang menjual berbagai macam ikan hias. Kini, setelah pasar ikan dipindahkan ke Pasar Depok, bagian pasar ini digunakan untuk pedagang buah dan foodcourt di lantai atasnya. Kami pun langsung menuju ke lantai dua bagian pasar ini. Tak jauh dari tangga, kios nasi liwet Bu Sri langsung bisa ditemukan. Tanpa babibu saya pun langsung memesan satu porsi nasi liwet.

Lapak Nasi Liwet Bu Sri memang nampak sederhana. Hanya terdapat dua buah meja panjang dan tiga buah kursi panjang yang digelar di dalam kiosnya. Tak banyak atribut yang dipasang di dalam ruangan, hanya beberapa spanduk nama warung saja yang dipasang di sana. Tak lama menunggu, satu piring nasi liwet pun sudah tersaji di atas meja. Nasi liwet merupakan sajian khas Kota Solo yang terdiri dari nasi gurih yang diberi lauk suwiran daging ayam, tahu terik (tahu yang dimasak bumbu kuning), telur masak kecap, kemudian disiram dengan sambel goreng yang biasanya terbuat dari labu siam dan diberi kuah areh, yaitu kuah yang berasal dari santan yang diberi bumbu lalu dikentalkan. Nasi Liwet Bu Sri ini memiliki cita rasa yang pas di lidah saya. Penyajiannya pun cukup tradisional dan menggugah selera. Nasi liwet disajikan di atas piring rotan yang beralaskan daun pisang. Aromanya makin khas dan menggugah selera. Cara memakan nasi liwet harus sekaligus dalam satu suapan, yaitu nasi, sayur labu, daging ayam dan telur agar perpaduan antara rasa gurih dari nasi serta lauknya sert cita rasa pedas dari sayur labu siam beradu pas dalam indera pengecap. Jika masih kurang pedas, bisa ditambahkan sambal agar cita rasanya makin nikmat.

Porsi nasi liwet di warung Bu Sri ini bisa dikatakan cukupan. Tidak terlalu banyak, pun juga tidak terlalu sedikit, porsinya cukupan untuk sarapan. Satu porsi nasi liwet di warung ini dijual seharga Rp 8.000,00 saja (data April 2016). Harga yang cukup murah untuk sepiring nasi liwet yang nikmat. Satu kekurangan warung ini adalah tidak tersedianya minuman (baik hangat maupun dingin). Warung ini hanya menyediakan air mineral kemasan gelasan saja sebagai penggantinya. Padahal akan lebih nikmat jika menyantap nasi liwet dengan teh hangat manis untuk sarapan.
Ada yang bilang jika nasi liwet Solo ini mirip seperti nasi ayam khas Semarang. Hal yang membedakan nasi liwet dengan nasi ayam adalah cara penyajiannya. Sego liwet cenderung disajikan kering, tanpa diberi kuah yang melimpah seperti nasi ayam yang dijual di Semarang. Hal yang menjadi pembeda lainnya adalah adanya kuah areh yang menjadi semacam signature dish sajian sego liwet khas Solo ini.

Menurut penuturan Ko Halim, nasi liwet Bu Sri ini cukup terkenal semenjak masa orde baru. Beliau pernah diundang khusus ke istana negara untuk menyajikan nasi liwet ini. Usaha warung nasi liwet Bu Sri kini ditersukan oleh adik perempuannya dengan masih mempertahankan resep aslinya sehingga cita rasa nasi liwet yang dijajakan masih terjaga. Sebelum adanya renovasi bangunan pasar, warung nasi liwet Bu Sri ini menggelar lapak dagangannya di emperan pasar. Namun, sejak awal tahun 2016 ini, warung nasi liwet Bu Sri pindah di lantai dua foodcourt pasar. “Semenjak dipindah ke lantai dua emang agak sepi mas pembelinya, banyak yang tidak tahu kalau pindah ke sini, ada pula langganan yang sudah manula tidak kuat lagi naik tangga untuk ke sini. Semoga sih bisa ramai lagi lapak dagangannya”, keluh sang penjual kepada saya menutup perbincangan pagi itu.
keterangan :
Warung Nasi Liwet “Bu Sri” Pasar Gede
Foodcourt lantai dua Pasar Gede Solo (gedung bagian barat, seberang pintu masuk utama)
buka setiap hari, kecuali hari Senin, dari pukul 05.30 – 12.30 WIB





























