![]() |
| Ilustrasi |
bersamaislam.com – Dalam sebuah kesempatan Training saya melemparkan pertanyaan yang sama-sama sulit jawabannya.
“Apakah anda lebih ingin menjadi yang dibutuhkan atau menjadi yang tak tergantikan?”
Sebagian peserta ada yang menjawab “Menjadi yang dibutuhkan” dan sebagian lagi menjawab “Menjadi yang tak tergantikan”, Peserta training menjadi penasaran mana jawaban yang lebih baik diantara 2 pilihan itu, karena memang tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah.
Mereka bertanya “Pak Adi, Bagaimana jawaban yang seharusnya?”, Lalu saya menjawabnya bahwa hidup ini memang akan selalu ada pilihan dan terkadang pilihan itu sulit untuk di tentukan tetapi harus walaupun tidak enak.
Bagaimana menjadi yang dibutuhkan?ย
Seseorang yang dibutuhkan itu hanya berharga saat ada dan terhina saat tidak diperlukan lagi, selalu nyesek di dada.
Kapan anda dikategorikan menjadi orang yang hanya dibutuhkan, misalnya tatkala istri lagi nggak ada uang lalu menelpon anda meminta. Padahal selain meminta uang, istri tak pernah menelpon dan atau bahkan tak pernah memperhatikan anda selama ini.
Di tempat kerja juga sama, atasan baru akan memuji-muji anda setinggi langit tatkala dia memiliki keinginan yang harus dikerjakan, kemudian saat tak lagi dibutuhkan, anda bisa didepak bahkan bisa diganti dengan orang lain dengan cara yang sangat sadis.
Saat anda dibutuhkan maka dia akan mengatakan “Saya minta tolong ya… kamu kan ahlinya soal ini”. Tapi saat tak lagi dibutuhkan “Sorry ya… anda tak lagi dibutuhkan, Sudah ada yang bisa menggantikan anda saat ini”.
Nyesek bukan? Ya, Atasan yang seperti ini akan memiliki kebiasaan dalam pekerjaanya mengakui segala keberhasilan anda sebagai keberhasilannya dan alat baginya untuk cari muka tetapi saat ada masalah dan kesalahan maka anda akan menjadi kambing hitamnya, namanya juga anda hanya menjadi yang dibutuhkan. Anda tak perlu bersedih hati, karena atasan akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kelak di akhirat, bersiap saja menjadi saksi dalam persidangan nanti dihadapan Tuhan.
Bagaimana menjadi yang tak tergantikan?
Menjadi yang tak tergantikan adalah ketika apapun kondisinya bahkan hal-hal yang sederhanapun yang seharusnya bisa berjalan tetapi anda tidak ada maka tidak berjalan.
Misalnya anda bisa saja memberikan uang, membelikan segala keperluan istri dan anak-anak bahkan anda tidak adapun semuanya tercukupi. Tetapi istri tetap berharap anda ada disisinya untuk menjadi Imam sholat, maka anda adalah sosok yang tak tergantikan. Ini yang terbaik.
Di dalam dunia kerja, bagaimana menjadi yang tak tergantikan? Dalam pekerjaan yang real jika itu terjadi sangat membahayakan perusahaan. Biasanya ini digunakan para pemimpin perusahaan yang menyukai status quo, kondisi diciptakan agar perusahaan bergantung padanya, kalau perlu jika usia pensiun harusnya 55 tahun karena dalam pekerjaan itu tak tergantikan maka pensiunnya bisa ditambah menjadi 65 tahun. Itulah ketergantungan yang diciptakan, Ini tidak sehat. Menguntungkan sedikit orang dan sekaligus merugikan banyak orang.
Terbaiknya adalah menjadi yang tak tergantikan dalam hal lain, misalnya ada dan tiadanya anda berbeda rasanya, suasananya, dulu saat anda ada semuanya terasa indah, sumringah. Tetapi saat pergi seperti ada yang hilang, berbeda dan begitu terasa kehilangannya. Anda begitu kekal di hati orang-orang yang ditinggalkan, itulah menjadi yang tak tergantikan secara hakiki.
Misalkan hal lainnya, anda meninggal dunia lalu istri menikah lagi tetapi suaminya saat ini tidak benar-benar bisa menggantikan anda. Itulah makna menjadi yang tak tergantikan yang hakiki.
Bahkan Rasulullah SAW pun mengalami hal yang sama, tidak satupun istri-istri Rasulullah SAW yang bisa menggantikan posisi Khadijah rah dihati beliau.
Jadi mana yang terbaik? Yang terbaik adalah menjadi yang tak tergantikan secara hakiki bukan secara fana duniawi, tetapi secara kekal ukhrawi.
Penulis: Adi Supriadi / Haddad Assyarkhan
Twitter : @assyarkhan













