الله الرحمن الرحيم
shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
pengantar ilmu Balaghah agar kita mengetahui tingginya sastra Al Qur’an, semoga
Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Qur’an
مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat
(yang mukmin) yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri
kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa
azab yang pedih dari kami.” (Qs. Hud:
48)
kali, namun para pembaca Al Qur’an tidak merasakan kesulitan dalam membacanya,
dan tidak terasa berat saat disimak.
فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ
قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan
korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak
diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti
membunuhmu!” Habil menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya menerima
(korban) dari orang-orang yang bertakwa.”
(Qs. Al Maidah: 27)
kali, namun para pembaca Al Qur’an merasakan ringan diucapkan padahal sifatnya
syiddah (tertahan suara), qalqalah (memantul), jahr (tertahan nafas), dan
isti’al (naiknya bagian belakang lisan sehingga menjadi tebal).
Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Al Qamar: 17)
ucapan seorang budak wanita, lalu ia berkata kepadanya, “Alangkah fasih
perkataanmu!” Budak itu berkata, “Apakah ini masih dianggap fasih di hadapan
firman Allah Ta’ala,
فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ
مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia
ke sungai (Nil). Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati,
karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya
(salah seorang) dari para rasul.” (Qs. Al
Qashas: 17)
perintah, dua larangan, dua berita, dan dua kabar gembira.
(30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)
sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang.–Bahwa janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah
kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Qs. An Naml: 30-31)
siapa surat itu, isinya apa, dan kebutuhannya apa?
Bayan, dan Badi
pembicara salah dalam menerangkan makna di luar makna yang diinginkan (salah
mengungkapkan).
رَبُّهُمْ رَشَدًا
(dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang
di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (Qs. Al Jinn: 10)
bentuk majhul (tidak diketahui pelakunya), sedangkan kalimat terakhir (setelah
huruf “أَمْ
”) bentuknya ma’lum (diketahui pelakunya).
tidak dihubungkan kepada Allah, bahkan kebaikan itulah yang dihubungkan
kepada-Nya. Alangkah terjaga sekali kalimat Al Qur’an!
dan Insya.
artinya kalimat berita, dimana terhadapnya bisa dinyatakan benar atau dusta.
Sedangkan insya adalah kalimat perintah atau larangan, dimana terhadapnya tidak
bisa disebut benar atau dusta.
memberitahukan orang lain isi pernyataan yang terkandung dalam kalimat. Contoh:
الْأَمِيْرُ
untuk tujuan lain:
Nabi Musa ‘alahis salam,
memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Qs. Al Qashash: 24)
perkataan Nabi Zakariya alaihis salam,
lemah.” (Qs. Maryam: 4)
perkataan istri Imran,
melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang
dilahirkan itu.” (Qs. Ali Imran: 36)
hendaknya singkat saja; sekedar yang perlu. Hal ini untuk menghindari omong
kosong. Tentunya hal ini jika pendengar akan menerima berita yang disampaikan,
tetapi jika dikhawatirkan mengingkari khabar yang disampaikan, maka sebaiknya
menguatkan dengan taukid sebagaimana firman Allah Ta’ala,
mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Bahkan, demi
Tuhanku, kamu benar-benar akan dibangkitkan.”
(Qs. At Taghabun: 7)
sebagai permintaan dari pembicara untuk dikerjakan (perintah) atau ditinggalkan
(larangan), namun terkadang memiliki arti lain sesuai siyaqul kalam
(arah pembicaraan) dan qara’inul ahwal (kondisi yang diisyaratkan),
seperti firman Allah Ta’ala,
nikmat-Mu.” (Qs. An Naml: 27).
perkataan Nabi Harun alaihis salam kepada Nabi Musa alaihis salam,
musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah engkau masukkan aku ke dalam
golongan orang-orang yang zalim.” (Qs. Al
A’raaf: 150)
tanya), tamanni (angan-angan), dan nida (panggilan).
terkadang mengandung arti lain sesuai siyaqul kalam, seperti firman Allah
Ta’ala,
peringatan atau tidak kamu beri peringatan,”
(Qs. Al Baqarah: 6)
keadaan.
(pula).” (Qs. Ar Rahman: 60)
” di atas untuk penafian, yang artinya ‘tidak’.
” di atas mengandung arti perintah untuk berhenti.
sebagaimana firman Allah Ta’ala,
Allah lebih berhak kamu takuti.” (Qs. At
Taubah: 13)
firman Allah Ta’ala,
Allah tanpa izin-Nya?” (Qs. Al Baqarah: 255)
(tasywiq) sebagaimana firman Allah Ta’ala,
yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?”
(Qs. Ash Shaff: 10)
Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
bin Musa
Maraji’:
Maktabah Syamilah versi 3.45, Qawa’idul
Lughatil Arabiyyah (Hifni Bek Dayyab, dkk.), Hidayatul
Insan bitafsiril Qur’an (Penulis),
https://www.alukah.net/sharia/0/103195/ , https://mawdoo3.com/الأساليب_البلاغية_في_اللغة_العربية#. , http://www.3refe.com/vb/showthread.php?t=225470 , http://kertugas.blogspot.com/2018/01/majaz-aqli-dalam-ilmu-balagah-kata.html, l.
Dll.





































