الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya
hingga hari Kiamat,
amma ba’du:
pembahasan tentang jinayat, semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas
karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
jinayat atau walinya karena sebab jinayat (tindak kriminal). Disebut juga ‘Aql,
karena si pembunuh mengumpulkan diyat berupa unta lalu mengikatnya di pelataran
milik para wali korban untuk menyerahkannya kepada mereka.
Ijma.
مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ
(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat
yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu).” (Qs.
An Nisaa’: 92)
bersabda,
إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقِيدَ (وَفِي رِوَايَة: إِمَّا أَنْ يَعْفُوَ
وَإِمَّا أَنْ يُقْتَلَ)
di antara dua pilihan; meminta dibayarkan diyat atau diqishas.” (Hr. Bukhari
dan Muslim, dalam sebuah riwayat disebutkan: memaafkan atau meminta diqishas)
orang-orang yang tidak bersalah, membuat jera, dan agar tidak menganggap rendah
nyawa manusia.
maka keadaannya tidak lepas dari dua keadaan:
maka wajib diyat secara menyeluruh pada harta si pembunuh jika ia dimaafkan dan
ketika ini qishas pun gugur, karena ganti dari yang dibinasakan wajib
ditanggung oleh orang yang membinasakan. Allah Ta’ala berfirman,
Al An’aam: 164)
(mirip sengaja), maka diyat ditanggung oleh ashabah (keluarga) pembunuh. Hal
ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam menetapkan terhadap janin wanita dari Bani Lihyan yang
keguguran dengan diyat ghurrah[i]
budak laki-laki atau wanita, Lalu wanita yang ditetapkan mendapatkan ghurrah
itu wafat, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menetapkan bahwa
warisannya untuk suami dan anak-anaknya, sedangkan diyat ditanggung oleh
keluarga si wanita (yang membunuh).
(keliru) sering terjadi, sedangkan pelaku jinayat mendapatkan uzur, maka wajib
dibantu dan diringankan berbeda jika sengaja. Di samping itu, orang yang
sengaja mengeluarkan diyat untuk menebus dirinya, karena ia sudah wajib terkena
qishas. Jika dimaafkan, maka ia menanggung diyat.
syara, maka pelakunya tidak bertanggung jawab. Misalnya seseorang memberi adab
(pelajaran dan sanksi untuk mendidik) kepada anaknya atau istrinya, atau
seorang pemimpin kepada salah seorang rakyatnya dan tidak melampaui batas dalam
memberi adab, lalu orang yang diberi adab meninggal dunia, maka bagi yang
memberi adab tidak dikenakan apa-apa, karena ia melakukan tindakan yang
diizinkan syariat dan tidak melampaui batas. Kecuali jika ia melampaui batas
seperti memberinya adab melebihi kewajaran, lalu orang yang diberi adab
meninggal dunia, maka ia bertanggung jawab atas hal itu.
janinnya keguguran karena sebabnya, maka bagi pemberi adab harus bertanggung
jawab dengan memberikan diyat ghurrah budak laki-laki atau perempuan, karena
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menetapkan demikian terhadap
orang yang membuat wanita hamil keguguran, dan ini adalah pendapat kebanyakan
Ahli Ilmu.
keguguran, maka orang yang mengejutkan ini bertanggung jawab terhadapnya dengan
mengeluarkan diyat janin seperti di atas.
memerintahkan seorang yang mukallaf (akil-baligh) turun ke sumur atau menaiki
pohon, lalu ia meninggal karena hal itu, maka orang yang menyuruhnya tidak
bertanggung jawab, karena ia tidak berbuat jinayat dan tidak melampaui batas
terhadap hal itu. Jika yang diperintah itu belum mukallaf (tidak akil-baligh),
maka yang memerintahkannya harus bertanggung jawab, karena ia yang menjadi
sebab anak itu binasa.
sumur atau menaiki pohon, lalu orang ini meninggal dunia, maka orang yang
mempekerjakannya tidak bertanggung jawab, karena ia tidak melakukan tindak
kejahatan dan tidak melampaui batas.
rumahnya, lalu ia meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bukan karena
diruntuhkan oleh seseorang, maka ia tidak bertanggung jawab karena tidak
menzaliminya.
muslim atau bukan, merdeka atau budak, laki-laki atau wanita, hadir dalam dunia
nyata atau masih dalam kandungan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
dishahihkan oleh Al Albani)
مَا كَانَ بِالسَّوْطِ وَالْعَصَا، مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ
sengaja seperti karena cambukan dan tongkat, diyatnya 100 unta.” (Hr. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)
“Nilai diyat di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah 800 dinar
atau 8.000 dirham…dst.” Hal ini terus berlalu sampai diangkat Umar sebagai
khalifah, lalu ia berdiri khutbah dan berkata, “Ingatlah, unta telah mahal,”
maka Umar menetapkan – dalam sebuah riwayat : Menentukan nilainya – bagi
pemilik emas 1.000 dinar (kira-kira 4250 gram emas), sedangkan bagi pemilik
dirham 12.000 dirham[ii],
bagi pemilik sapi 200 ekor sapi, bagi pemilik kambing 2.000 ekor kambing, dan
bagi pemilik pakaian 200 pakaian.” (Hr. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani)
hadits di atas adalah asal(asli)nya, sehingga jika orang yang berkewajiban
membayar diyat membayar dengan salah satu dari semua itu, maka wali korban
wajib menerimanya, baik wali korban adalah orang yang memiliki barang jenis itu
maupun tidak, karena ia telah menunaikan kewajiban dengan pembayaran yang asli.
Namun jumhur (mayoritas) para ulama berpendapat, bahwa hukum asal (alat
pembayaran yang asli) dalam diyat adalah dengan unta. Hal ini karena Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam menetapkan diyat seorang laki-laki mukmin yang
dibunuh adalah seratus ekor unta. Dalam hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya,
dari kakeknya disebutkan,
مِنَ الْإِبِلِ
yang dibunuh karena tersalah (khatha), maka diyatnya seratus ekor unta.”
(Dihasankan oleh Al Albani)
diyat unta terhadap pembunuhan karena sengaja dan meringankan dalam diyat
karena tersalah. Hal ini menunjukkan, bahwa unta itulah asal alat pembayaran
diyat. Inilah yang rajih (kuat), sehingga pembayaran yang disebutkan dalam
atsar Umar di atas dipakai karena mengikuti nilainya.
atau syibhul ‘amdi (mirip sengaja). Pemberatan diyat adalah dengan mencari unta
yang di perutnya ada janinnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Amr bin
Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya yang di sana sebutkan, “Serta 40 ekor
khalifah (unta yang hamil).”
unta, yang terdiri dari 30 hiqqah, 30 jadza’ah, dan 40 khalifah, yakni
unta betina yang dalam perutnya ada anaknya.
20 hiqqah, 20 jadza’ah, 20 bintu labun, 20 ibnu labun, dan 20 bintu makhadh.
disebut Ibnu makhadh. Bintu labun adalah unta betina yang sudah berusia dua
tahun, jantannya disebut ibnu labun. Hiqqah adalah unta betina yang sudah
berusia tiga tahun, sedangkan jadza’ah adalah unta yang berusia empat tahun.
harus menerimanya. Dan jika mau, dibayarkan senilai dengan itu sesuai kategori
yang disebutkan yang disesuaikan dengan masanya.
lebih dari itu, karena mereka memiliki hak qishas, sebagaimana mereka juga
berhak mengurangi diyat.
shahbihi wa sallam.
Al Fiqhul Muyassar (Tim Ahli Fiqih, KSA), Al Wajiz (Syaikh
Abdul Azhim bin Badawi), Al Mulakhkhash Al Fiqhi (Shalih Al Fauzan), Minhajul
Muslim (Abu Bakar Al Jazairiy), Al Ghayah wat Taqrib (Abu Syuja), dll.
atau budak laki-laki kecil yang sudah tamyiz yang selamat dari cacat yang
mengurangi nilainya. Inilah yang wajib dikeluarkan pelaku jinayat untuk
diserahkan kepada Ahli Waris, dan jika tidak ada ghurrah, maka diyat janin
berupa 1/10 dari diyat wanita (5 ekor unta). Sebagian ulama memperkirakan bahwa
nilainya kurang lebih 213 gram emas.
seimbang 7 mitsqal. 1 mitsqal = 1.50 dirham.




































