الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat, amma ba’du:
pembahasan tentang penyakit ‘ain dan cara mengobatinya, semoga Allah menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
‘Ain Setelah Terjadi
tertimpa penyakit ‘ain maka mengobatinya dengan beberapa cara:
syar’iyyah yang dilakukan oleh orang
yang saleh dan biasa mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.
salam pernah meruqyah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan doa
berikut:
مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ
يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ»
meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitkanmu, dari setiap jiwa atau mata
yang hasad. Allah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu.” (Hr.
Muslim)
Maksudnya meminta orang yang menurut perkiraan kuat menimpakan penyakit ‘ain
kepada orang lain untuk berwudhu, lalu diambil air bekas wudhunya, kemudian
dituangkan ke kepala orang yang terkena penyakit ‘ain dari belakangnya berikut
punggungnya. Dengan cara seperti ini, maka orang yang terkena penyakit ‘ain
akan sembuh insya Allah.
hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif ia berkata,
فَقَالَ: لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ، وَلَا جِلْدَ مُخَبَّأَةٍ فَمَا لَبِثَ أَنْ لُبِطَ
بِهِ، فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ: أَدْرِكْ
سَهْلًا صَرِيعًا، قَالَ «مَنْ تَتَّهِمُونَ بِهِ» قَالُوا عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ،
قَالَ: «عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ
مَا يُعْجِبُهُ، فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ» ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ، فَأَمَرَ عَامِرًا
أَنْ يَتَوَضَّأَ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَرُكْبَتَيْهِ
وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ
Rabi’ah melewati Sahl bin Hunaif yang sedang mandi, lalu ia berkata, “Aku belum
pernah melihat kulit wanita gadis yang dipingit seperti pada hari ini!” Maka
tidak lama kemudian Sahl bin Hunaif jatuh pingsan, kemudian dibawa kepada Nabi
shallallahu alaihi wa sallam dan dikatakan kepada Beliau, “Sahl pingsan.”
Beliau pun bersabda, “Siapa orang yang menurut kalian membuatnya demikian?”
Mereka menjawab, “Amir bin Rabi’ah.” Beliau pun bersabda, “Atas dasar apa salah
seorang di antara kalian menyakiti saudaranya? Apabila salah seorang di antara
kalian melihat hal yang mengagumkan pada diri saudaranya, maka doakanlah
keberkahan untuknya.” Lalu Beliau meminta disiapkan air dan menyuruh Amir
berwudhu, ia pun membasuh muka dan kedua tangannya sampai kedua sikut, serta
kedua lutut dan bagian dalam sarungnya. Setelah itu, Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyiram Sahl (dengan air wudhu Amir).”
berkata, “Dari Az Zuhriy, “Beliau memerintahkan agar menuangkan wadah air dari
belakang tubuhnya.”
sarungnya’ adalah bagian tertentu dari badannya, atau bagian dzakarnya, atau
bagian paha dan pinggulnya, atau sarung bagian dalamnya yang berhadapan
langsung dengan badannya, wallahu a’lam.
rahimahullah berkata, “Mandi yang kami dapatkan dari pada ulama kami adalah disiapkan
wadah (berisi air) untuk seorang yang menimpakan ‘ain, lalu ia memasukkan
telapak tangannya ke dalamnya dan berkumur-kumur, kemudian membuangnya ke dalam
wadah, lalu ia membasuh mukanya di wadah, kemudian memasukkan tangan kirinya
dan menuangkan air ke atas telapak tangan kanannya di wadah, lalu memasukkan
tangan kanannya dan menuangkan air ke atas telapak tangan kirinya sekali saja,
kemudian ia masukkan tangan kirinya lalu menuangkan air ke atas sikut kanannya
dan memasukkan tangan kanannya lalu menuangkan air ke atas sikut kirinya, lalu
ia masukkan tangan kirinya ke dalam wadah
dan menuangkan air ke atas kaki kanan dan memasukkan tangan kanannya ke dalam
wadah lalu menuangkan air ke atas kaki kirinya, kemudian ia masukkan tangan
kirinya lalu menuangkan air ke atas lutut kanannya dan memasukkan tangan
kanannya lalu menuangkan air ke atas lutut kirinya. Semua itu dilakukan di atas
wadah air, lalu ia membasuh bagian dalam sarungnya (dan membiarkan sisa air
jatuh ke dalam wadah), dan wadah itu tidak diletakkan di atas tanah, kemudian
airnya disiramkan ke kepala orang yang terkena ‘ain dari bagian belakangnya
sekali saja.” (As Sunan, karya Baihaqi 9/252)
orang yang menimpakan ‘ain untuk mandi
alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ، وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا»
sesuatu yang bisa mendahahului takdir, maka tentu ‘ain dapat mendahuluinya.
Jika kalian diminta mandi, maka mandilah.” (Hr. Muslim)
berkata, “Orang yang menimpakan ‘ain diminta untuk mandi, lalu ia berwudhu, dan
orang yang terkena ‘ain mandi darinya.” (Hr. Abu Dawud)
menunjukkan disyariatkan wudhu atau mandi bagi orang yang menimpakan ‘ain untuk
orang yang tertimpa ‘ain.
ke kepala orang yang terkena ‘ain, lalu membaca,
نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ
nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari setiap
jiwa dan mata yang hasad. Allah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu.” (Hr. Muslim)
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
nama Allah yang menyembuhkanmu dan menjagamu, dari segala penyakit, dari segala
kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki, dan dari kejahatan orang yang
matanya hasad.” (Hr. Muslim)
وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah penyakit yang ada,
Engkaulah yang menyembuhkan; tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu,
kesembuhan dari-Mu tidak meninggalkan penyakit.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Allah Tuhan Pemilik Arsyi yang besar agar Dia menyembuhkanmu.” [i]
(7 X) (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)
bagian badan yang sakit lalu membacakan surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas.
bacakan padanya surah mu’awwidzat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas), kemudian
membaca doa,
وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah penyakit yang ada,
Engkaulah yang menyembuhkan; tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu,
kesembuhan dari-Mu tidak meninggalkan penyakit.” (3 X)
نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ
nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari setiap
jiwa dan mata yang hasad. Allah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu.” (3 X)
atas kepala orang yang terkena ‘ain sekali saja dari bagian belakang dan bagian
punggung badannya.
dan mu’awwidzat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) di gelas berisi air, lalu
diminum oleh orang yang terkena penyakit ‘ain dan sisanya dituangkan kepadanya,
atau membaca pada minyak zaitun, kemudian minyaknya dioleskan kepadanya, atau
membaca surah Al Fatihah dan mu’awwidzat pada air zamzam atau air hujan jika
mudah baginya.
dalam hadits Sahl bin Hunaif yang disebutkan oleh Abdurrazzaq dalam As Sunan,
“Beliau memerintahkan untuk meminumnya, lalu Sahl meminumnya beberapa tegukan.”
(Dinyatakan shahih isnadnya oleh pentahqiqnya)
ruqyah sambil meniup (disertai air liur
sedikit) di akhir setiap ayat atau di akhir seluruh ayat, atau setelah
membacakan ruqyah.
dapat menolak penyakit ‘ain dari orang yang hasad/dengki
kepada Allah dari keburukan hasad,
Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Allah Azza wa Jalla.
orang yang dengki, memaafkannya, dan tidak mengeluhkannya.
tidak disibukkan fikirannya oleh hal tersebut.
ikhlas karena-Nya, dan mencari keridhaan-Nya.
dan maksiat, karena dosa dan maksiat yang membuat manusia berkuasa kepada dirinya.
berbuat ihsan, karena yang demikian merupakan sebab terhindar dari musibah,
‘ain, dan kejahatan orang yang dengki.
kedengkian dengan berbuat baik kepadanya, dan tidak membalas keburukan dengan
keburukan serupa, bahkan membalasnya dengan kebaikan.
kepada Allah Azza wa Jalla, dimana tidak ada yang dapat menimpakan bahaya dan
manfaat kecuali dengan izin-Nya (Lihat Bada’iul Fawaid 2/238-245)
shahbihi wa sallam.
Maraji’: Al Ilaj bir Ruqa Minal Kitab was Sunnah (Dr.
Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani), Kaifa
Tu’alij Maridhaka bir ruqyah Asy Syar’iyyah (Syaikh
Abdul Aziz As Sadhan), http://www.nour-alchifaa.com, http://www.alukah.net/sharia/0/74841/#ixzz5Qe716Xyw, http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=303682,
http://alroqya.com/portal/about_eye/effection/ Maktabah Syamilah versi
3.45, dll.
sakit yang belum tiba ajalnya, lalu ia mengucapkan sebanyak tujuh kali “As’alullahal
‘azhim Rabbal ‘Arsyil ‘Azhim an yasyfiyak,” melainkan Allah akan sembuhkan
orang itu dari penyakitnya.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al
Albani).





































