الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat, amma ba’du:
tentang penyakit ‘ain dan cara mengobatinya, semoga Allah menjadikan penyusunan
risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
ditimbulkan oleh orang yang hasad melalui matanya saat dia takjub terhadap
seseorang.
ketika seseorang melihat nikmat yang ada pada orang lain, lalu dirinya takjub
dan tidak menyebut nama Allah (seperti mengucapkan ‘maasya Allah’, ‘subhaanallah
laa quwwata illaa billah’) serta tidak mendoakan keberkahan padanya
(seperti mengucapkan ‘barakallah fiik’). Terkadang pandangannya disertai
kata-kata atau hanya perasaan tanpa kata-kata, dan terkadang kedua matanya
melotot dengan kuat kepada orang lain itu.
seseorang memandang sesuatu yang menakjubkan dan tidak menyebut nama Allah
padanya kemudian mengungkapkan kalimat yang menunjukkan sangat takjubnya.
yaitu seseorang memandang sesuatu atau seseorang atau suatu keadaannya yang
membuat dirinya tercengang namun dia tidak menyebut nama Allah di sana.
Misalnya seseorang melihat orang yang sangat gemuk atau sangat kurus sampai
tulangnya hampir kelihatan, lalu dia tercengang melihatnya dan mengungkapkan
kata-kata yang menunjukkan keheranannya atau melihatnya dengan pandangan yang
berbeda dari biasanya.
berbahaya, karena bahayanya yang lebih besar dan pelakunya pun dengki atau
hasad kepada orang lain itu, seperti ketika dirinya melihat kenikmatan yang ada
pada orang lain, ia pun dengki dan berkeinginan agar nikmat itu hilang dari
orang lain itu.
dengan hasad (dengki)
daripada ‘ain, sedangkan ‘ain lebih khusus; dimana setiap orang yang menimpakan
‘ain sudah tentu berhasad, namun belum tentu orang yang berhasad menimpakan
‘ain. Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam surah Al Falaq tentang memohon
perlindungan diri dari hasad, mencakup hasad dan ‘ain, dan ini di antara bukti
akan cakupan surah Al Falaq yang begitu dalam dan luas, kemukjizatannya, dan
sastranya yang tinggi (lihat Bada’i’ul Fawa’id 2/232).
bahwa hasad disebabkan oleh dengki dan keinginan nikmat yang ada pada orang
lain hilang darinya, sedangkan ‘ain disebabkan takjub dan tercengang terhadap
sesuatu.
hasad menimpakan bahaya kepada orang yang didengkinya tanpa harus berpapasan
langsung dengan orang yang didengkinya, adapun orang yang menimpakan ‘ain maka
dengan berpapasan langsung melihat dengan pandangan matanya, lalu diungkapkan,
kemudian ada keinginan buruk terhadapnya. Dengan demikian, ‘ain dapat menimpa
kita sekalipun dari orang yang tidak kita kenal ketika bertemu dalam kesempatan
tertentu, lalu ia takjub dengan penampilan kita, pakaian, keelokan, anak-anak
kita, dsb. Adapun hasad tidak menimpa orang lain kecuali dari orang yang
mengenal dan mengetahui keadaan dirinya.
pandangan dan hati, sedangkan hasad disebabkan hati dan jiwa, meskipun begitu
keduanya merupakan energi negatif. Di samping itu, hasad muncul dari orang yang
berjiwa buruk, sedangkan ‘ain bisa dari orang yang saleh sebagaimana yang
terjadi pada Amir bin Rabi’ah radhiyallahu anhu saat menimpakan ‘ain kepada
Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu.
ditimpakan oleh jin
Khudriy radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
meminta perlindungan dari pandangan ‘ain oleh jin, lalu dari pandangan ‘ain
oleh manusia, namun setelah turun dua surat mu’awwidzatain (surah Al Falaq dan
An Naas), maka Beliau berpegang dengan keduanya dan meninggalkan selainnya.”
(Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)
radhiyallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat di rumahnya seorang
anak perempuan yang di wajahnya ada bagian yang hitam, maka Beliau bersabda,
padanya ada bekas ‘ain dari jin.”
ini, maka ‘ain bisa ditimpakan oleh jin maupun manusia. Oleh karena itu,
hendaknya seorang muslim menyebut nama Allah saat melepas pakaiannya, memandang
di cermin, atau melakukan suatu pekerjaan agar dirinya terhindar dari gangguan
jin.
alaihi wa sallam bersabda,
بِالْعَيْنِ
setelah karena qadha Allah dan qadarnya adalah karena disebabkan penyakit
‘Ain.” (Hr. Abu Dawud Ath Thaylisi, Bukhari dalam At Tarikh, Al Hakim At
Tirmidzi, Al Bazzar, Adh Dhiya dalam Al Mukhtarah, semuanya melalui
jalur Jabir bin Abdullah . Al Hafizh dalam Al Fat-h berkata, “Sanadnya hasan,”
dan diiikuti pula oleh As Sakhawi. Al Haitsami berkata, “Para perawinya adalah
para perawi kitab shahih selain Thalab
bin Habib bin Amr, namun ia tsiqah.” Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami no. 1206)
Penyakit ‘Ain
menunjukkan seseorang terkena penyakit ‘ain, di antaranya: Jatuh mendadak tanpa
sadar, adanya saf’ah (kehitaman atau pucat, atau merah kehitam-hitaman, atau
hitam disertai warna lain) pada wajah, badannya kurus, terasa sempitnya dada,
panasnya punggung dan dinginnya ujung-ujung bagian badannya, lemahnya badan,
banyak bersendawa padahal tidak makan, banyak menguap, rasa takut yang tidak
biasanya, hati berdebar-debar, mudah
marah dan sensitif, rasa sakit di bagian bawah punggung dan antara kedua bahu,
tidak dapat tidur di malam hari, tertimpa penyakit aneh, seringnya mengeluarkan
air mata dari salah satu mata, tiba-tiba tidak bisa bicara, tidak bisa mendengar,
atau melihat, atau sakit tiba-tiba yang tidak diketahui sebabnya, dan
sebagainya. Tanda-tanda ini baik semuanya atau sebagiannya tergantung kuat atau
lemahnya ‘ain, namun terkadang bukan karena ‘ain, tetapi karena faktor penyakit
pada fisik atau kejiwaan, wallahu a’lam.
dimiliki peruqyah
karena Allah Ta’ala.
baik kepada Allah Azza wa Jalla.
Qur’an dan doa ruqyah sambil menghayati.
yang membuat seseorang terkena ‘ain. Hal ini dapat diperoleh dengan mendapatkan
informasi, mimpi yang menunjukkan pelaku ‘ain, atau merasakan di hatinya orang
yang menimpakan ‘ain namun dengan tidak memastikan dan sambil bersikap baik dan
bersangka baik kepada orang lain.
firman Allah Ta’ala (ayat-ayat Al Qur’an), doa-doa dari Nabi shallallahu alaihi
wa sallam, doa-doa yang benar yang tidak mengandung syirik, bid’ah, dan
kata-kata yang tidak difahami. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,
لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ»
ruqyah kalian. Tidak mengapa ruqyah yang tidak mengandung syirik.” (Hr. Muslim)
terdapat perintah agar peruqyah ketika menggunakan doa-doa ruqyah menyampaikan
kepada para ulama, agar doa-doa itu tidak menyelisihi syariat, wallahu a’lam.
dan diruqyah yakin bahwa yang menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla, dan
bahwa yang dilakukannya hanyalah sebab yang hanya akan bermanfaat dengan
izin-Nya.
Nabi shallallalhu alaihi wa sallam melakukan ruqyah jama’i dengan meminta
orang-orang berkumpul di suatu tempat, lalu mereka diruqyah.
‘Ain Sebelum Terjadi
meliputi sebelum terkena penyakit ‘ain dan setelah terkena penyakit ‘ain.
‘ain atau sebagai tindakan pencegahan adalah dengan cara berikut:
orang yang hendak kita bentengi dengan membiasakan berdzikir baik mutlak (tidak
ditentukan kapan dan di mana dibaca) maupun muqayyad (ditentukan kapan dan di
mana dibaca), rutin membaca Al Qur’an, berdoa, dan menggunakan dzikir
perlindungan yang diajarkan oleh syariat, seperti ucapan,
اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي
السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Allah yang jika disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan
berbahaya, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (sebanyak tiga
kali di pagi hari dan sore hari).[i]
وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
Allah dengan kalimat-Nya yang sempurna, dari setan dan serangga beracun, dan
dari setiap penyakit ‘ain yang mengumpulkan keburukan bagi orang lain.” (Hr.
Bukhari)
sesuatu yang mengagumkan pada diri orang lain, hartanya, anaknya, saudaranya,
dan sebagainya mendoakan keberkahan sambil menyebut nama Allah Ta’ala, seperti
mengucapkan,
Allah, tidak ada upaya melainkan dengan pertolongan-Nya. Ya Allah, berikanlah
keberkahan padanya.”
alaihi wa sallam bersabda,
بِالْبَرَكَةِ
di antara kamu melihat sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya, maka doakanlah
keberkahan untuknya.” (Hr. Malik, Ibnu Majah, dan Ahmad, dishahihkan oleh Al
Albani)
berkata, “Sesungguhnya ‘ain itu bersama sikap kagum meskipun tidak hasad, dan
sekalipun dari orang yang suka kepadanya atau orang yang saleh. Oleh karena
itu, orang yang kagum sesuatu hendaknya segera mendoakannya dengan keberkahan,
sehingga hal itu sebagai ruqyah darinya.” (Fathul Bari 10/215)
keindahan yang dimiliki yang dikhawatirkan mengakibatkan tertimpa penyakit
‘ain.
shahbihi wa sallam.
Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani), Kaifa
Tu’alij Maridhaka bir ruqyah Asy Syar’iyyah (Syaikh
Abdul Aziz As Sadhan), http://www.nour-alchifaa.com, http://www.alukah.net/sharia/0/74841/#ixzz5Qe716Xyw, http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=303682,
http://alroqya.com/portal/about_eye/effection/ Maktabah Syamilah versi
3.45, dll.
Majah 2/332.




































