الله الرحمن الرحيم
semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
lanjutan syarah (penjelasan) ringkas terhadap Kitab Tauhid karya
Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, yang banyak
kami rujuk kepada kitab Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid karya
Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, semoga Allah menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Allah Ta’ala,
يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ
إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ
الْعَذَابِ
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka
melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya,
dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Qs. Al Baqarah: 165)
karena mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan pokok agama Islam. Ketika
sikap ini sempurna, maka agama seseorang menjadi sempurna, dan ketika kecintaan
kepada Allah berkurang, maka tauhid seseorang pun ikut berkurang, maka penyusun
(Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah) mengingatkan hal tersebut dalam
bab ini.
keadaan kaum musyrik di dunia dan balasan yang akan mereka peroleh di akhirat
karena mereka mengadakan tandingan bagi Allah, serta menyamakan
tandingan-tandingan itu dengan Allah dalam hal kecintaan dan pengagungan, bahwa
jika mereka mengetahui kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah
sangat berat siksaan-Nya niscaya mereka akan menyesal
terhadap sikap mereka itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala
juga menerangkan, bahwa kaum mukmin memurnikan kecintaan mereka kepada Allah
sebagaimana mereka memurnikan ibadah mereka kepada-Nya.
Barang siapa yang menjadikan tandingan bagi Allah, dimana
ia mencintai tandingan itu seperti cinta kepada Allah, maka dia telah berbuat
syirik besar.
Di antara kaum musyrik ada yang mencintai Allah dengan
kecintaan yang dalam, namun kecintaan itu tidak bermanfaat baginya karena tidak
memurnikan kecintaan kepada Allah.
Cinta terbagi dua: pertama, cinta yang menjadi
ibadah, yaitu yang di dalamnya terdapat sikap tunduk dan menghinakan diri
disertai cinta, dimana hati seseorang dipenuhi cinta dan pengagungan yang
membuatnya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka hal ini
tidak diperuntukkan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Kedua, cinta
karena tabiat, seperti cinta terhadap makanan dan minuman serta berbagai
kenikmatan, maka dalam hal ini harus sederhana dan tidak berlebihan, dan
sebaik-baik cinta adalah ketika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala,
وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا
أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ
حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.” (Qs. At Taubah: 24)
ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam mereka yang mencintai semua
yang disebutkan itu, dan lebih mengutamakannya di atas cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya, serta di atas mengerjakan amalan yang dicintai Allah dan diridhai-Nya
seperti hijrah, jihad, dsb. Oleh karena itu, barang siapa yang mengaku cinta
kepada Allah, namun ia lebih mengutamakan cinta kepada perkara-perkara yang
disebutkan itu, maka pengakuan cintanya dusta, dan tinggallah ia menunggu
akibatnya.
ayat di atas terdapat kewajiban mendahulukan cinta kepada Allah dan kepada
apa-apa yang dicintai Allah di atas yang lain.
Wajib mencintai Allah dan
mencintai apa-apa yang dicintai-Nya.
Wajibnya mencintai Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam.
Ancaman kepada mereka yang
lebih mencintai delapan macam itu daripada mencintai agamanya.
Anas radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya
daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44.
hadits di atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan, bahwa
seseorang tidak beriman secara sempurna yang membuat kewajiban imannya
terlaksana dan membuatnya berhak masuk surga sampai mendahulukan kecintaan
kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas manusia yang lain
sekalipun orang yang terdekat dengannya. Hal itu, karena dengan sebab Beliau
shallallahu alaihi wa sallam diperoleh kebahagiaan yang abadi dan selamat dari
kesesatan.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menghendaki kita untuk menaati
Beliau, mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan sabdanya,
beribadah kepada Allah sesuai contohnya, dan mendahulukan sabdanya di atas
ucapan semua manusia.
hadits di atas juga terdapat dalil wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di atas semua manusia, dan bahwa keimanan
seseorang tidak akan sempurnya tanpanya.
Wajibnya mencintai Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di atas manusia yang lain.
Amalan bagian dari iman,
karena kecintaan merupakan amalan hati.
Keimanan yang sejati harus
ada atsar (bekas) yang tampak bagi pemiliknya.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas ia berkata, “Rasulullah shallallahu
alahi wa sallam bersabda,
وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا
لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ
اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
tiga yang jika tiga hal tersebut ada pada dirinya, maka ia akan merasakan
manisnya iman, yaitu jika Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain
keduanya, jika dirinya mencintai orang lain karena Allah, dan benci kembali
kepada kekafiran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana keengganannya
jika dicampakkan ke dalam api.”
sebuah riwayat disebutkan, “Seseorang tidak mendapatkan manisnya iman
sebelum…dst.”
di atas dalam Shahih Bukhari no. 16 dan Shahih Muslim no.
43.
hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan, bahwa seorang
muslim jika dalam dirinya terdapat tiga perkara, yaitu mendahulukan kecintaan
kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam di atas
kecintaan kepada yang lain seperti keluarga dan harta, mencintai orang lain
karena iman dan ketaatannya kepada Allah, bukan karena maksud duniawi, serta
benci kembali kepada kekafiran seperti keengganannya dicampakkan ke dalam api,
maka ia akan merasakan manisnya iman; ketaatan menjadi nikmat baginya, dan
dirinya siap menerima berbagai kesukaran agar memperoleh keridhaan Allah Azza
wa Jalla.
Keutamaan mendahulukan
kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam
di atas yang lain.
Keutamaan cinta karena
Allah.
Kaum mukmin cinta kepada
Allah secara murni.
Barang siapa yang memiliki
tiga hal tersebut di atas akan merasakan manisnya iman.
Disyariatkan membenci
kekafiran dan orang-orang kafir.
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata, “Barang siapa yang mencintai
seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela karena Allah,
memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu
diperoleh dengan hal tersebut, dan seorang hamba tidak akan merasakan lezatnya
iman meskipun banyak shalat dan puasanya sampai keadaannya seperti itu. Namun
pada umumnya persaudaraan manusia dibangun di atas kepentingan dunia, dan itu
tidak berguna sedikit pun baginya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir)
Abbas juga berkata tentang firman Allah Ta’ala,
بِهِمُ الأَسْبَابُ
putuslah hubungan di antara mereka.” (Qs. Al Baqarah: 166)
hubungan kasih-sayang.
Abbas menjelaskan, bahwa sebab yang dapat mendatangkan kecintaan Allah Azza wa
Jalla dan pertolongan-Nya adalah ketika
mencintai wali-wali Allah dan membenci musuh-musuh-Nya, dan praktek nyatanya
adalah dengan membela kaum mukmin dan memutus hubungan dengan musuh-musuh Allah
dan berjihad terhadap mereka. Ia juga menerangkan, bahwa seseorang tidak akan merasakan
manisnya iman jika tidak memiliki sifat itu meskipun banyak ibadah yang
dilakukannya. Selanjutnya Ibnu Abbas menerangkan, bahwa keadaan telah berubah,
ternyata manusia membangun kecintaan dan kebencian karena kepentingan dunia. Ia
juga menerangkan, bahwa hubungan kasih sayang yang dibangun di atas hal itu
nanti pada hari Kiamat akan terputus dan satu sama lain akan berlepas diri, disebabkan
tidak didasari karena Allah Azza wa Jalla.
Allah dan pertolongan-Nya.
cinta yang sesuai dengan keagungan-Nya.
benci karena Allah.
kaum mukmin.
dan berjihad terhadap mereka.
benci karena-Nya, yaitu merasakan manisnya iman.
kepentingan dunia, dan akibatnya.
alaa alihi wa shahbihi wa sallam
bin Musa
Maraji’:
Al
Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan
Al Fauzan), Maktabah Syamilah versi 3.45, Aisarut Tafasir
(Abu Bakr Al Jazairiy), Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis), dll.







































