‘alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat,
amma ba’du:
Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H).
Semoga
Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini ikhlas karena-Nya dan
bermanfaat, Allahumma aamin.
هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
-: ((أَثْقَلُ الصَّلاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ: صَلاةُ الْعِشَاءِ , وَصَلاةُ
الْفَجْرِ. وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا. وَلَقَدْ
هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاةِ فَتُقَامَ , ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّيَ
بِالنَّاسِ , ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إلَى
قَوْمٍ لا يَشْهَدُونَ الصَّلاةَ , فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ
بِالنَّارِ)) .
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,”Shalat yang paling berat bagi kaum munafik adalah shalat Isya dan
shalat Subuh. Kalau
sekiranya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya, tentu mereka akan
mendatanginya meskipun
sambil merangkak.
Sungguh, aku ingin shalat segera ditegakkan, lalu aku perintahkan seseorang
untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi dengan beberapa orang yang membawa
seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah
agar aku bakar rumah mereka dengan api.”
بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((إذَا
اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمْ امْرَأَتُهُ إلَى الْمَسْجِدِ فَلا يَمْنَعُهَا. قَالَ:
فَقَالَ بِلالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: وَاَللَّهُ لَنَمْنَعَهُنَّ. قَالَ: فَأَقْبَلَ
عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ , فَسَبَّهُ سَبّاً سَيِّئاً , مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ
مِثْلَهُ قَطُّ , وَقَالَ: أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
– وَتَقُولُ: وَاَللَّهُ لَنَمْنَعَهُنَّ؟)) وَفِي لَفْظٍ ((لا تَمْنَعُوا إمَاءَ
اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ)) .
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau bersabda, “Jika istrimu meminta izin
ke masjid, maka janganlah mencegahnya,” lalu Bilal bin Abdullah berkata, “Demi
Allah, kami akan mencegahnya.” maka Abdullah mendatanginya dan mencaci-makinya
dengan cacian yang belum pernah kudengar seperti itu sebelumnya, sambil
berkata, “Aku menyampaikan kepadamu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, tetapi kamu malah mengatakan, “Demi Allah, kami akan mencegahnya.”
Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Janganlah kalian mencegah hamba-hamba wanita
Allah mendatangi masjid-masjid Allah.”
بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: ((صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله
عليه وسلم – رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ,
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ,
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ)) . وَفِي لَفْظِ: ((فَأَمَّا الْمَغْرِبُ
وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ: فَفِي بَيْتِهِ)) .
حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم -: ((كَانَ
يُصَلِّي سَجْدَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَعْدَمَا يَطْلُعُ الْفَجْرُ. وَكَانَتْ
سَاعَةً لا أَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فِيهَا)) .
berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dua rakaat sebelum shalat Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah shalat
Jum’at, dua rakaat setelah shalat Maghrib, dan dua rakaat setelah shalat Isya.”
Isya, dan Jum’at, maka Beliau melakukannya di rumah.”
menceritakan kepadaku, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat
dua rakaat yang ringan setelah terbit fajar. Itu adalah waktu dimana aku tidak
menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
اللهُ عنْها قالَتْ: ((لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – على شيءٍ
منَ النَّوافِلِ تَعاهُدَاً منْهُ على ركْعَتَي الفَجْرِ)) . وفي لفْظٍ
لِمُسْلِمٍ: ((رَكْعَتا الفَجْرِ خيرٌ منَ الدُّنيا وما فيها)) .
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjaga sekali shalat sunah seperti halnya
shalat sunah dua rakaat sebelum Subuh.” Dalam lafaz Muslim disebutkan, “Dua
rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ((أُمِرَ بِلالٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ , وَيُوتِرَ
الإِقَامَةَ)) .
diperintahkan menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamat.”
جُحَيْفَةَ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ السُّوَائِيِّ قَالَ: ((أَتَيْتُ
النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ فِي قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ
– قَالَ: فَخَرَجَ بِلالٌ بِوَضُوءٍ , فَمِنْ نَاضِحٍ وَنَائِلٍ , قَالَ: فَخَرَجَ
النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ , كَأَنِّي
أَنْظُرُ إلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ , قَالَ: فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلالٌ , قَالَ:
فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا وَهَهُنَا , يَقُولُ يَمِيناً وَشِمَالاً:
حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ ; حَيَّ عَلَى الْفَلاحِ ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ عَنَزَةٌ ,
فَتَقَدَّمَ وَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ , ثُمَّ نَزَلَ يُصَلِّي
رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ إلَى الْمَدِينَةِ)) .
berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau
berada di kemah merah dari kulit, lalu Bilal hadir membawakan air wudhu,
kemudian orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan bekas wudhu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar
mengenakan pakaian merah yang sepertinya aku melihat putihnya kedua betis
Beliau, kemudian Beliau berwudhu dan Bilal pun azan. Ketika itu, aku
memperhatikan mulutnya ke sana kemari, ia mengucapkan ke kanan dan ke kiri “Hayya
‘alash shalah” dan “Hayya ‘alal falah,” lalu ditancapkan tongkat
kecil (sebagai sutrah), Beliau maju dan shalat Zhuhur dua rakaat, lalu turun lagi
untuk melakukan shalat dua rakaat (yang asalnya berjumlah empat rakaat) sampai kembali
ke Madinah.”
بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ
قَالَ: ((إنَّ بِلالاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ , فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى
تَسْمَعُوا أَذَانَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ)) .
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya Bilal
melakukan azan di malam hari, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar
azan Ibnu Ummi Maktum.”
الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
-: ((إذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ))
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian
mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya.”
رضي الله عنهما: ((أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُسَبِّحُ
عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ , حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ , يُومِئُ بِرَأْسِهِ , وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ)) . وَفِي رِوَايَةٍ: ((كَانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِهِ))
. وَلِمُسْلِمٍ: ((غَيْرَ أَنَّهُ لا يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ)) . وَلِلْبُخَارِيِّ:
((إلاَّ الْفَرَائِضَ)) .
shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunah di atas hewan kendaraannya
ke mana hewan kendaraannya menghadap. Beliau berisyarat dengan kepalanya, dan
Ibnu Umar melakukan hal yang sama.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Beliau
berwitir di atas untanya.” Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Hanyasaja Beliau
tidak shalat fardhu di atas hewan kendaraannya.” Dalam riwayat Bukhari disebutkan,
“Selain shalat fardhu.”
بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: ((بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءَ فِي صَلاةِ
الصُّبْحِ إذْ جَاءَهُمْ آتٍ , فَقَالَ: إنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم –
قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ , وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ
الْقِبْلَةَ , فَاسْتَقْبِلُوهَا. وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إلَى الشَّامِ ,
فَاسْتَدَارُوا إلَى الْكَعْبَةِ)) .
berkata, “Ketika para sahabat berada di Quba melakukan shalat Subuh, tiba-tiba
ada seorang yang datang sambil berkata, “Sesungguhnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam semalam telah diturunkan Al Qur’an, dan Beliau diperintahkan menghadap
kiblat, maka menghadaplah ke arahnya.” Ketika itu wajah mereka menghadap ke
Syam, lalu mereka pun berputar ke Ka’bah.”
سِيرِينَ قَالَ: ((اسْتَقْبَلْنَا أَنَساً حِينَ قَدِمَ مِنْ الشَّامِ ,
فَلَقِينَاهُ بِعَيْنِ التَّمْرِ , فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حِمَارٍ ,
وَوَجْهُهُ مِنْ ذَا الْجَانِبِ – يَعْنِي عَنْ يَسَارِ الْقِبْلَةِ – فَقُلْتُ:
رَأَيْتُكَ تُصَلِّي لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ؟ فَقَالَ: لَوْلا أَنِّي رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَفْعَلُهُ مَا فَعَلْتُهُ)) .
mendatangi Anas saat ia datang ke Syam, lalu kami menemuinya di ‘Ainut Tamr. Ketika
itu aku melihat beliau shalat di atas keledai sedangkan wajahnya menghadap ke
kiri kiblat, maka aku pun bertanya, “Mengapa aku lihat dirimu shalat tidak menghadap
kiblat?” Ia menjawab, “Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam melakukannya, tentu aku tidak akan melakukannya.”
مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -:
((سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ))
.
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan
shaf termasuk kesempurnaan shalat.”
بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنهما , قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
– يَقُولُ: ((لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ
وُجُوهِكُمْ)) . وَلِمُسْلِمٍ: ((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –
يُسَوِّي صُفُوفَنَا , حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ , حَتَّى إذَا
رَأَى أَنْ قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ , ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ , حَتَّى إذَا
كَادَ أَنْ يُكَبِّرَ , فَرَأَى رَجُلاً بَادِياً صَدْرُهُ , فَقَالَ: عِبَادَ
اللَّهِ , لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ
وُجُوهِكُمْ)) .
bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian harus meluruskan barisan kalian
atau Allah akan memindahkan wajah kalian (dari tempatnya atau membuat hati kalian
berselisih).”
shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan barisan kami seperti meratakan kayu
anak panah sampai Beliau telah merasakan bahwa kami telah memahami perintah
itu. Suatu ketika Beliau keluar untuk shalat lalu berdiri, sehingga ketika
Beliau hendak takbir, Beliau melihat ada seorang yang mengedepankan dadanya,
maka Beliau bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, luruskanlah shaf kalian atau
Allah akan memalingkan wajah kalian.”
Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa






































