الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
telah kami sebutkan sebelumnya, yang kami ingin jelaskan lebih lanjut adalah
beriman kepada Allah.
di muka, bahwa beriman kepada Allah mencakup beriman kepada wujud Allah,
rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, dan beriman kepada nama
dan sifat-Nya. Maka berikut ini, kami akan terangkan dalilnya.
kepada wujud Alllah
bukanlah yang menciptakan dirinya sendiri, karena sebelumnya ia tidak ada. Dan
sesuatu yang tidak ada tidak bisa mengadakan sesuatu. Manusia tidak pula
diciptakan oleh ibunya dan tidak pula oleh bapaknya serta tidak pula muncul
secara tiba-tiba. Sesuatu yang terwujud sudah pasti ada yang mewujudkannya.
Dari sini kita mengetahui akan keberadaan Allah Subhanahu
wa Ta’ala Pencipta kita dan Pencipta alam semesta.
berfirman,
خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36)
(Pencipta) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?—Ataukah
mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya
mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). “(QS.
Ath Thuur: 35-36)
banyak dalil. Dari mulai dalil sam’i (wahyu), dalil
‘aqli (akal), dalil hissiy (indera) maupun dalil
fithriy (fitrah).
jelas.
tentang adanya Allah adalah alam semesta, akal yang sehat menolak dengan keras
jika alam semesta yang tersusun rapi dan indah ini muncul secara tiba-tiba. Dan
kita pasti mengingkari jika ada sesorang yang datang,
memberitahukan kepada kita bahwa dirinya telah melihat sebuah rumah beserta
isinya muncul dengan sendirinya. Ini adalah hal yang mustahil, lalu bagaimana
dengan alam semesta yang rapi dan indah ini? Sudah pasti ada yang
menciptakannya.
adanya Allah adalah terkabulnya doa. kita sering mendengar dan menyaksikan
ketika seseorang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, lalu permintaannya
dikabulkan, apa yang diinginkannya ada di hadapan matanya. Ini juga menunjukkan
adanya Allah.
menunjukkan adanya Allah adalah manusia merasakan bahwa alam semesta ini pasti
ada yang menciptakannya, menguasainya,, dan mengaturnya. Dialah
Allah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam semesta yang sangat
luas, yang menguasai dan mengaturnya.
kepada Rububiyyah Allah
akalnya mengakui bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, mengaturnya, dan
mengurusnya. Karena mustahil sekali alam semesta yang tersusun rapi dan indah
ini tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya.
yang didakwahi Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam agar menyembah Allah
saja, mengakui bahwa Pencipta alam semesta ini dan Penguasanya adalah Allah.
Namun mereka mengingkari uluhiyyah Allah (keberhakan Allah saja untuk diibadati; tidak selain-Nya)[i]. Allah Subhaanahu wa
Ta’aala berfirman,
وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ
مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau
siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah
yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan?” Maka mereka akan menjawab,
“Allah.” Katakanlah,
“Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS.
Yunus: 31)
juga menyatakan bahwa tidak mungkin alam semesta ini diatur oleh banyak tuhan,
kalau sekiranya ada Tuhan yang lain di samping Allah
dalam mengatur alam semesta ini, maka pasti di alam semesta ini akan
ada banyak ketetapan dan yang satu dengan yang lain akan saling mengalahkan;
yang mengakibatkan hancurnya alam semesta. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
tentulah keduanya itu telah rusak
binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka
sifatkan.” (QS. Al Anbiyaa’: 22)
kepada uluhiyyah Allah
menciptakan, mengatur, dan menguasai alam semesta, seharusnya keyakinan ini membuat kita
hanya beribadah dan menyembah kepada Allah saja.
makhluk yang telah dicipta, diurus, dan diberi rezeki
malah menyembah kepada makhluk sesamanya yang tidak bisa mencipta dan memberi rezeki. Hal
ini sama saja tidak bersyukur dan sebuah kebodohan.
Apalagi sampai menyembah kepada makhluk yang tidak bisa berbuat
apa-apa seperti patung dan berhala, bahkan kalau sekiranya ada makhluk yang
hendak mencelakakannya, patung-patung itu tidak
dapat menyelamatkan dirinya. Perhatikanlah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam yang menghancurkan patung-patung seorang diri.
tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri,
bagaimana bisa menyelamatkan yang lain?
فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا
ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا
يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
manusia! Telah
dibuat perumpamaan, maka
dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain
Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka
bersatu menciptakannya. Dan jika
lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Mereka tidak
dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sangat
lemah yang menyembah dan sangat lemah yang disembah.” (QS.
Al Hajj: 73)
kepada nama-nama dan sifat Allah
hal di atas, kita pun wajib mengimani nama-nama dan sifat Allah yang disebutkan
Allah dalam kitab-Nya serta disebutkan Rasul-Nya dalam As Sunnah, tanpa ta’thil
(meniadakan), takyif (menanyakan “bagaimana?”), tamtsil (menyamakan dengan
sifat makhluk) serta tanpa ta’wil (mengartikan lain).
dan sifat Allah sama saja menolak berita yang Allah sampaikan tentang Diri-Nya.
memaksakaan diri/takalluf.
sifat makhluk adalah haram, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
الْبَصِيرُ
pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang
Maha Mendengar dan Melihat.
(QS. Asy Syuuraa: 11)
menta’wil sifat Allah juga sama saja memaksakan diri serta sama saja
berkata-kata tentang Allah tanpa ilmu.
adalah menta’wil sifat “Tangan”
bagi Allah dengan kekuasaan, atau menta’wil “Istawaa”
pada ayat “Ar Rahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa” (Ar Rahman bersemayam di
atas ‘Arsy) dengan “istawlaa” (menguasai). Hal ini tidak dibenarkan, karena
masuk ke dalam berkata tentang Allah tanpa ilmu. Sikap yang paling selamat
adalah sikap yang dilakukan kaum salaf (generasi pertama Islam). Mereka tidak
menta’wil, menta’thil, mentakyif, dan mentamtsil.
Oleh karena itu, kaum salaf dalam mengimani nama-nama dan sifat
Allah mengatakan,
sebagaimana datangnya.”
memaksakan diri untuk mengetahui hakikatnya (menanyakan “bagaimana?”),
menyamakan seperti sifat makhluk-Nya, menafsirkannya (menta’wilnya) dan jangan
juga meniadakan.
وَبِمَا جَاءَ
عَنِ اللهِ
عَلَى مُرَادِ
اللهِ، وَآمَنْتُ بِرَسُوْلِ
اللهِ وَبِمَا جَاءَ
عَنْ رَسُوْلِ
اللهِ عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ
اللهِ
maksud yang Allah inginkan. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang
datang dari Rasulullah sesuai maksud yang diinginkan Rasulullah.”
shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
“Laailaahaillallah.”






































