الله الرحمن الرحيم
Urgensi Shalat Dalam Islam
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga
hari Kiamat, amma ba’du:
semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya
dan bermanfaat, Allahumma aamin.
(definisi) Shalat
istilah, shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan
tertentu, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
shalat dalam Islam
ditandingi oleh ibadah-ibadah yang lain. Bahkan shalat adalah tiang agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْجِهَادُ
Islam. Barang siapa yang masuk Islam, maka ia akan selamat, tiangnya shalat,
dan puncaknya jihad.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah, dan Baihaqi
dalam Asy Syu’ab, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’
no. 5136)
kepada hamba-hamba-Nya. Allah mewajibkannya secara langsung kepada Rasul-Nya
shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra’-Mi’raj tanpa perantara. Anas
berkata, “Shalat diwajibkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada
malam Beliau diisrakan berjumlah lima puluh kali shalat (sehari-semalam), lalu
dikurangi menjadi lima kali, kemudian ada seruan, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya
ketetapan-Ku tidak dapat dirubah. Dengan lima kali itu, kamu mendapatkan
(pahala) lima puluh kali shalat.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, dan ia menshahihkannya).
bersabda:
الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ
فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka
baiklah seluruh amalnya dan jika shalatnya buruk, maka buruklah seluruh
amalnya.” (HR. Thabrani dalam Al Awsath dan Adh Dhiya dari Anas, dan
dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2573).
‘alaihi wa sallam saat Beliau hendak meninggal dunia, Beliau bersabda,
أَيْمَانُكُمْ .
Allah terhadap budak yang kalian miliki.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari
Ali, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4614).
agama ini, yang jika shalat telah hilang, maka agama ini akan hilang
seluruhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيَهَا فَأَوَّلُهُنَّ
نَقْضًا الْحُكْمُ وَ آخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ .
ikatan yang satu lepas, maka orang-orang berpegang dengan ikatan setelahnya.
Yang pertama kali lepas adalah hukumnya, dan yang terakhir lepas adalah
shalat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim dari Abu Umamah, dishahihkan oleh
Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5075)
mengetahui betapa seringnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan shalat dan
terkadang menggandengkannya dengan dzikr, Dia berfirman,
وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (Terj. QS. Al ‘Ankabut: 45)
beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),-Dan dia ingat nama
Tuhannya, lalu dia melakukan shalat.” (Terj. QS. Al A’laa: 14-15)
menggandengkannya dengan zakat, Dia berfirman,
sabar, Dia berfirman,
menggandengkannya dengan berkurban, Dia berfirman,
وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Terj. QS. Al An’aam: 162)
menyebutkan shalat di bagian awal dan bagian akhirnya. Hal ini sebagaimana yang
disebutkan dalam surah Al Mu’minun ayat 1-10, dan surah Ma’arij ayat 23-35.
sehingga memerintahkan pemeluknya untuk menjaga shalat baik ketika safar maupun
mukim, ketika kondisi aman maupun menakutkan. Dia berfirman,
الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ
wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Terj. QS. Al Baqarah: 238)
yang menjelaskan tatacara shalat ketika safar, ketika perang, dan ketika aman.
Dia berfirman,
عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن
يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُواْ لَكُمْ عَدُوّاً
مُّبِيناً—وَإِذَا كُنتَ
فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ
وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَآئِكُمْ
وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ
وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ
تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم
مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن
مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُواْ أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُواْ حِذْرَكُمْ
إِنَّ اللّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَاباً مُّهِيناً—فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً
وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ
إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.
Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.–Dan apabila
kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan
shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri
(shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat
besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah
dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang
kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka
bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu
lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan
sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu
mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap
siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi
orang-orang kafir itu.– Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.
Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu
(sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Terj. QS. An Nisaa’: 101-102)
meremehkan shalat dan menyia-nyiakannya dengan firman-Nya,
وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan
menemui kesesatan,” (Terj. QS. Maryam:
59)
orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Terj. QS. Al Maa’un: 4-5)
bimbingan khusus, maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta kepada Allah
Subhaanahu wa Ta’ala agar menjadikan Beliau dan keturunannya sebagai
orang-orang yang mendirikan shalat, ia berdoa,
ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (Terj. QS. Ibrahim: 40)
a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa
Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Fiqhussunnah (S. Sabiq), Mausu’ah Haditsiyyah Mushaghgharah (Markaz
Nurul Islam Liabhatsil Qur’ani was Sunnah), Maktabah Syamilah versi 3.45,
dll.





































