الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga
hari Kiamat, amma ba’du:
tentang perhatian Islam terhadap kesehatan dan lingkungan. Semoga Allah
menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
amin.
قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ
فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu sehat dan
waktu luang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ
آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ
لَهُ الدُّنْيَا»
bin Mihshan Al Khathmiy ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Barang siapa yang pada pagi harinya jiwanya aman, badannya
sehat, dan memiliki bahan pangan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia
diserahkan kepadanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad,
Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’
no. 6042)
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ
اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ
الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى : يَا
أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً وَقاَلَ
تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا
رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ
يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ
وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ لَهُ. [رواه مسلم]
Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala baik, tidak menerima
kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana
Dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya, “Wahai Para Rasul! Makanlah
yang baik-baik dan beramal salehlah.” (QS. Al Mu’minun: 51) Dia juga
berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik
dari apa yang Kami rezekikan kepada kamu.” (QS. Al Baqarah: 172)
Kemudian Beliau menyebutkan tentang seorang yang melakukan perjalanan jauh
dalam keadaan berambut kusut dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke
langit sambil berkata, “Ya Rabbi, Ya Rabbi,” padahal makanannya
haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari
sesuatu yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim).
شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r
كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي
غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah,
minumlah, dan bersedekahlah dengan tidak berlebihan dan sombong.” (HR. Abu
Dawud dan Ahmad, dan diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dan
dihasankan oleh Al Albani Al Misykaat (4381)).
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:« عَشْرٌ مِنَ
الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ
وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ
الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ » . قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ
مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada 10 sunnah
yang termasuk fitrah (sunanul fitrah), yaitu, memotong
kumis, membiarkan janggut, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku,
mencuci lipatan jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan
beristinja’.” Zakariyya salah seorang perawi hadits tersebut berkata,
“Saya lupa yang kesepuluhnya, namun jika tidak keliru adalah
berkumur-kumur.” (HR. Muslim)
dari najis
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersuci sebagian
dari iman.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ،
وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»
radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kunci shalat adalah bersuci, masuk ke dalamnya dengan takbir
dan keluarnya dengan salam.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu
Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5885)
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ الْأَذَى، فَإِنَّ
التُّرَابَ لَهُ طَهُورٌ»
Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika
salah seorang di antara kamu menginjak kotoran dengan sandalnya, maka tanah
(setelahnya) menjadi penyucinya.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al
Albani)
فِي المَسْجِدِ، فَثَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ ليَقَعُوا بِهِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوهُ، وَأَهْرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ
ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ
وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang Arab badui yang buang air kecil
di masjid, lalu para sahabat bangkit hendak memberikan sanksi kepadanya, namun
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah dia!
Tuangkanlah ke atas air kencingnya setimba air, karena kalian dikirim untuk
memberikan kemudahan; bukan untuk menyusahkan.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits
selain Muslim)
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r : طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذْ وَلَغَ فِيهِ اَلْكَلْبُ
أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ, أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ (أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي
لَفْظٍ لَهُ: فَلْيُرِقْهُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ: أُخْرَاهُنَّ, أَوْ أُولَاهُنَّ
بِالتُّرَابِ)
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sucinya wadah salah seorang di antara
kamu apabila dijilati anjing adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali; basuhan
yang pertama (dicampur) dengan tanah.” (HR. Muslim, dalam sebuah lafaz Muslim
disebutkan, “Maka hendaknya ia tumpahkan airnya,” sedangkan dalam
riwayat Tirmidzi dengan lafaz, “Basuhan yang akhir atau awalnya (dicampur)
dengan tanah.”)
Air Ketika Bangun Tidur
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا
يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي
أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ» .
sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari tidurnya,
maka janganlah ia masukkan tangannya ke dalam wadah, sampai ia mencucinya tiga
kali, karena ia tidak tahu, di mana tangannya bermalam.“ (HR. Bukhari dan
Muslim, lafaz ini adalah lafaz Muslim)
عُمَرَ بْنَ أَبِى سَلَمَةَ قال : كُنْتُ غُلاَماً فِى حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِى تَطِيشُ فِى الصَّحْفَةِ فَقَال
لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :« يَا غُلاَمُ سَمِّ
اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ
طِعْمَتِى بَعْدُ .
Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku adalah seorang anak yang
berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu
tanganku kesana kemari di piring, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepadaku, “Wahai anak, ucaplah nama Allah, makanlah dengan tangan
kananmu dan makanlah dari yang terdekat denganmu.” Maka cara makanku selalu
seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ النَّفْخِ فِي الشُّرْبِ
Sa’id Al Khudri, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meniup pada
minuman. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Albani)
sallam bersabda terhadap makanan yang sudah hilang panasnya:
hilang panasnya) lebih besar berkahnya.” (HR. Darimi, Ibnu Hibban, Hakim dan
Baihaqi, dishahihkan oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahiihah no.
659)
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
السِّقَاءَ، فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ
بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ، إِلَّا
نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ
bejana dan ikatlah geriba, karena dalam setahun ada satu malam yang di sana
turun wabah (penyakit yang dapat membawa kepada kematian), dimana wabah
tidaklah melewati bejana yang tidak ditutup atau geriba yang tidak diikat
kecuali akan dimasuki wabah itu.” (HR. Muslim)
Tha’un
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ
صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ»
Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada kesialan, tidak
ada kesialan dari burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar, dan
larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa[i].” (HR. Ahmad dan
Bukhari)
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ، وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟»
، فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «فَلاَ تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ
وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا،
وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ
بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ
عَشْرَ أَمْثَالِهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ»
bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Wahai Abdullah! Saya mendapatkan kabar
bahwa engkau terus berpuasa di siang hari dan terus melakukan shalat di malam
hari?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Jangan engkau
lakukan! Berpuasa dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah, karena
jasadmu punya hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu,
dan tetanggamu punya hak atasmu. Cukup bagimu berpuasa dalam sebulan tiga hari,
karena satu kebaikan akan dilipatgandakan untukmu menjadi sepuluh. Sesungguhnya
puasa itu sama seperti puasa setahun penuh.” (HR. Bukhari)
berkata, “Beliau melarang tidur sebelum Isya dan melakukan obrolan
setelahnya.” (HR. Thabrani, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami’ no. 6915)
biasa mereka lalui
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
:
الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ
perkara yang mendatangkan laknat; yaitu buang air di jalan lewat manusia atau
di tempat mereka berteduh.” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)
menggaulinya di dubur
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَتَى حَائِضًا، أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا،
أَوْ كَاهِنًا، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ»
Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang
siapa yang menggauli istri yang haidh atau di duburnya, atau mendatangi dukun,
maka ia telah kufur kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR.
Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani. Tirmidzi berkata, “Maksud hadits
ini adalah untuk menegaskan.”)
« الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ ».
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh
atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan
Laailaahaillallah, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu
yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَتَدَاوَوْا وَ لاَ تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
menurunkan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, namun jangan berobat dengan
yang haram.” (HR. Thabrani dalam Al Kabir dari Ummud Darda’, dan
dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1762)
dan air Zamzam
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فِي ثَلاَثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ،
وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ “
goresan bekam, meminum madu, atau dengan besi panas, namun aku melarang umatku
mengobati dengan besi panas.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)
دَاءٍ، إِلَّا السَّامُ
habbatus sauda ada obat terhadap segala penyakit kecuali maut.”
(HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)
dan obat terhadap penyakit.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Al Bazzar, dishahihkan
oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3572).
‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Makbatah Syamilah versi 3.45, Mausu’ah Haditsiyyah
Mushaghgharah (Markaz Nurul Islam Li Abhatsil Qur’ani was Sunnah), Al ‘Ilaj bir Ruqa
minal Kitab was Sunnah (Dr. Sa’id Al Qahthani), Al ‘Ilaj war Ruqa
(Dr. Khalid Al Jarisi), Untaian Mutiara Hadits (Penulis),
dll.
saddudz dzari’ah (menutup celah), yakni agar orang yang bergaul dengan
orang yang berpenyakit kusta yang kemudian ia juga tertimpa penyakit kusta
secara takdir bukan karena menular sendiri, akhirnya membuatnya meyakini, bahwa
ada penyakit yang menular dengan sendirinya, ia pun jatuh ke dalam dosa karena
keyakinan ini.





































