الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
yang disusun oleh Divisi Dakwah Al Jaliyat di Saudi Arabia yang telah kami
terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan
risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « أَلاَ أَدُلُّكُمْ
عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ » .
قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى
الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ
بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ » .
Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kamu
aku tunjukkan amalan yang dengan amalan itu Allah menghapuskan dosa-dosa dan
meninggikan derajat?”
“Ya, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Menyempurnakan wudhu ketika merasa
segan, banyak melangkahkan kaki ke masjid dan menunggu dari shalat yang satu ke
shalat berikutnya; itulah ribath (pertahanan).” [HR. Muslim: 587].
هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « إِذَا
أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ
وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ
فَأَتِمُّوا » .
ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila shalat ditegakkan, maka janganlah kamu mendatanginya dengan
terburu-buru, tetapi datangilah sambil berjalan. Tetaplah tenang! Jika kamu
mendapatkan imam, maka ikutlah shalatnya, namun jika tertinggal, maka
sempurnakanlah.” [Muttafaq ‘alaih: 908-1359].
darinya.
حُمَيْدٍ – أَوْ عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم « إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى
أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ . وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ
مِنْ فَضْلِكَ » .
atau dari Abu Usaid ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, maka ucapkanlah:
لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
keluar, maka ucapkanlah:
أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
1652].
طَلْحَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِذَا
وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَلاَ
يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ » .
Musa bin Thalhah, dari bapaknya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu menaruh di depannya
(sutrah) setinggi cagak pelana (setinggi kira-kira sejengkal atau dua jengkal),
maka shalatlah dan jangan pedulikan orang yang lewat di baliknya.” [HR. Muslim:
1111].
adalah benda yang berada di depan orang yang shalat ketika hendak shalat,
seperti dinding, tiang dsb. Sedangkan cagak pelana itu setinggi kira-kira 2/3
hasta.
dua sujud.
الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا يَقُولُ قُلْنَا لاِبْنِ عَبَّاسٍ فِى
الإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ فَقَالَ هِىَ السُّنَّةُ . فَقُلْنَا لَهُ إِنَّا
لَنَرَاهُ جَفَاءً بِالرَّجُلِ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ بَلْ هِىَ سُنَّةُ
نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم .
Abuz Zubair bahwa ia mendengar Thawus berkata: Kami bertanya kepada Ibnu Abbas
tentang iq’aa di atas kedua kaki. Maka ia mengatakan, “Itu adalah Sunnah.” Lalu
kami berkata kepadanya, “Sesungguhnya kami memandangnya sebagai sikap tidak pantas
bagi laki-laki.” Lalu Ibnu Abbas berkata, “Bahkan itu adalah Sunnah Nabimu
shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Muslim: 1198].
menegakkan kedua kaki dan duduk di atas kedua tumit, hal ini dilakukan pada
saat duduk antara dua sujud.
(akhir)
حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ
الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ .
As Saa’idiy radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam apabila duduk pada rakaat terakhir mengedepankan kaki kirinya dan
menegakkan kaki yang satunya (yang kanan) dan duduk di atas pinggulnya.” [HR.
Bukhari: 828].
اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ
النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ,اِلَى اَنْ قَالَ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرَ مِنَ
الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو » .
Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Kami apabila bersama Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam…dst. sampai sabdanya, “Kemudian hendaklah ia memilih doa yang
disukainya, lalu ia berdoa dengannya.” [HR. Bukhari: 835].
حَبِيبَةَ أَنَّهَا سَمِعْتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « مَا
مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
Habibah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunat karena Allah dalam
sehari dua belas raka’at, kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya
di surga.” [HR. Muslim: 1696].
rawatib dalam sehari semalam berjumlah dua belas rakaat; empat rakaat sebelum
Zhuhur, dua rakaat setelahnya. Dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah
Isya dan dua rakaat sebelum Subuh.
عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ « يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ
سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ
تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ
وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ
مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى » .
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Pada
pagi hari setiap persendian kamu harus bersedekah; setiap tasbih adalah
sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laailaahaillallah)
adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi
mungkar juga sedekah dan hal itu bisa terpenuhi oleh dua rakaat yang
dikerjakannya di waktu Dhuha.” [HR. Muslim: 1671].
utama (shalat Dhuha) adalah ketika matahari sudah agak naik dan hari semakin
panas. Habis waktunya adalah sampai matahari berada di tengah-tengah. Jumlah rakaatnya
paling sedikit dua rakaat dan jumlah rakaat paling banyak tidak ada batasnya[1].
هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سُئِلَ أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ فَقَالَ
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ
اللَّيْلِ
radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
ditanya, “Shalat apa yang paling utama setelah shalat fardhu?” Beliau menjawab,
“Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam.”
[HR. Muslim: 2756].
رضي الله عنهما اَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ :« اجْعَلُوا آخِرَ
صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً » .
radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jadikanlah shalat terakhirmu di malam hari adalah witir.” [Muttafaq ‘alaih:
998-1755].
suci).
مَالِكٍ : أَكَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى فِى نَعْلَيْهِ ؟ قَالَ
: نَعَمْ .
radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
shalat dengan memakai kedua sandalnya?” ia menjawab, “Ya.” [HR. Bukhari 386].
– رضى الله عنهما – قَالَ : كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَأْتِى قُبَاءً
رَاكِباً وَ مَاشِياً . زَادَ ابْنُ عُمَيْر: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ
نَافِعٍ: فَيُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ
radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
mendatangi Quba’ dengan menaiki kendaraan dan berjalan kaki.” Ibnu Numair
menambahkan, “Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’, “Lalu
Beliau melakukan shalat dua rakaat di
[Muttafaq ‘alaih: 1194-2390].
الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِذَا قَضَى
أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِى مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ
صَلاَتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِى بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا » .
radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu selesai mengerjakan shalat di
masjid, maka berikanlah untuk rumahnya bagian dari shalat itu, karena Allah
menjadikan di rumahnya kebaikan karena shalatnya itu.” [HR. Muslim: 1822].
عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنهما – قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ
مِنَ الْقُرْآنِ
Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan kepada kami cara beristikharah untuk semua masalah
sebagaimana Beliau mengajarkan kepada kami sebuah
sebagaimana yang disebutkan dalam (lanjutan) hadits di atas; yaitu seseorang
shalat dua rakaat. Setelah itu mengucapkan:
بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ
فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ
الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي
دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ
فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ
أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ
قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ
وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي
aku meminta pilihan kepada-Mu, meminta upaya dengan kekuasaan-Mu. Aku meminta
kepada-Mu sebagian di antara karunia-Mu yang besar. Engkau kuasa, aku tidak
kuasa, Engkau tahu aku tidak tahu. Engkau Maha Mengetahui yang gaib. Ya Allah,
jika hal ini (ia sebut pilihannya) baik untukku, agamaku, duniaku dan
akibatnya, cepat atau lambat, maka tetapkanlah untukku dan mudahkanlah ia
bagiku, kemudian berikanlah keberkahan padanya. Namun, apabila hal itu buruk
bagiku baik bagi agamaku, duniaku dan akibatnya; cepat atau lambat, maka
hindarkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku darinya, tetapkanlah untukku yang
baik di mana pun aku berada, lalu ridhailah aku.”
shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Allah- paling banyak adalah 12 rakaat (lihat keterangannya di kitab Bughyatul
Mutathawwi’ oleh M. bin Umar Bazmul) –pent.






































