الله الرحمن الرحيم
Hadits-Hadits Seputar Adab Berhias
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan
penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Indah
اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ
رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً،
قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ
النَّاسِ»
‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Tidak masuk surga orang yang dalam
hatinya terdapat kesombongan meskipun sebesar debu,” lalu ada seorang yang
berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya indah dan sandalnya
bagus,” maka Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah indah dan menyukai
keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR.
Muslim)
اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: «سَيَكُونُ آخِرُ أُمَّتِي نِسَاءً كَاسِيَاتٍ عَارِيَاتٍ عَلَى
رُؤُسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ، الْعَنُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ
berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan
ada di akhir umatku kaum wanita yang berpakaian namun telanjang, di atas kepala
mereka ada seperti punuk unta, laknatlah mereka, karena mereka wanita yang
dilaknat.” (HR. Thabrani dalam Al Mu’jamush Shagir).
عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ فَرَأَى فَخِذَهُ مَكْشُوفَةً فَقَالً: «غَطِّ فَخِذَكَ فَإِنَّ
فَخِذَ الرَّجُلِ مِنْ عَوْرَتِهِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang laki-laki,
lalu dilihat pahanya terbuka, maka Beliau bersabda, “Tutuplah auratmu,
karena paha seseorang itu aurat.” (HR. Ahmad dan Hakim, dan dishahihkan
oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4158)
Kanan Ketika Memakai dan Mendahulukan Bagian Kiri Ketika Melepas
عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ
التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ
‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan, baik ketika memakai sandal,
menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ,
وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا
تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ
‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
salah seorang di antara kamu memakai sandal, maka mulailah dengan yang kanan.
Dan jika hendak melepas maka mulailah dengan yang kiri, hendaklah yang kanan
pertama dipakai dan yang terakhir dilepas.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pakaian
بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ،
وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ» قَالَ: وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي
هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي، وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ»
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa
yang memakan makanan kemudian mengucapkan, “Al Hamdulillah…sampai,
“Walaa quwwah.” (Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah
memberiku makanan ini dan mengaruniakannya kepadaku tanpa susah payah dariku),
maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Dan barang
siapa yang memakai pakaian, lalu ia mengucapkan, “Al Hamdulillah…sampai,
“Walaa quwwah.” (Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah
memakaikan kepadaku pakaian ini dan mengaruniakannya kepadaku tanpa susah payah
dariku), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”
(HR. Abu Dawud, dan dinyatakan hasan oleh Al Albani tanpa tambahan “wa
maa ta’akhkhar,”)
Pakaian
بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
” سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ
أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ “
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang menutupi antara mata jin
dengan aurat anak cucu Adam apabila salah seorang di antara mereka masuk ke
jamban adalah mengucapkan, “Bismillah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan
Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Sutera dan Memakai Emas Bagi Laki-Laki
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ:”حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ
وَالذَّهَبُ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ”
Abu Musa Al Asy’ariy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Diharamkan memakai pakaian sutera dan emas bagi laki-laki umatku dan
dihalalkan bagi kaum wanitanya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i, dan
dishahihkan oleh Al Albani)
بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ،
فَأَلْقَاهُ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، فَقَالَ: ” هَذَا شَرٌّ ، هَذَا
حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ “، فَأَلْقَاهُ، فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ، فَسَكَتَ
عَنْهُ
Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam melihat di antara sahabatnya ada memakai cincin dari emas, lalu Beliau
berpaling darinya. Maka sahabat itu membuang cincin itu, lalu ia memakai cincin
besi, maka Beliau bersabda, “Ini buruk. Ini adalah perhiasan penghuni
neraka.” Maka sahabat itu membuang cincin itu, kemudian ia memakai cincin
perak, lalu Beliau mendiamkan.” (HR. Ahmad, dan dinyatakan shahih oleh
Pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah).
Memakai Cincin Pada Jari Telunjuk dan Jari Tengah
قَالَ قَالَ عَلِىٌّ نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنْ أَتَخَتَّمَ فِى إِصْبَعِى هَذِهِ أَوْ هَذِهِ . قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى
الْوُسْطَى وَالَّتِى تَلِيهَا
Abu Burdah ia berkata: Ali berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarangku memakai cincin di jari ini atau ini.” Ia berisyarat ke
jari tengah dan jari sebelahnya (jari telunjuk).” (HR. Muslim)
sandal
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di
antara kamu berjalan dengan satu sandal, pakailah keduanya atau lepaslah
keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Model Qaza’ (mencukur
sebagian rambut dan membiarkan bagian yang lain)
عُمَرَ: «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْقَزَعِ»
Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam melarang qaza’.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ
رَأْسِهِ وَتَرَكَ بَعْضًا، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ، وَقَالَ: «احْلِقُوهُ كُلَّهُ أَوِ
اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»
Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang anak
yang mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian lagi, maka Beliau
melarang hal itu, Beliau bersabda, “Cukurlah semuanya atau biarkan
semuanya.” (HR. Nasa’i, dan dishahihkan oleh Al Albani)[ii]
Mentato
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: «لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ، وَالوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ»
shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Allah melaknat wanita
yang menyambung rambut dan meminta disambung, wanita yang mentato dan yang
minta ditato.” (HR. Bukhari)
ia berkata, “Allah melaknat wanita yang menatato dan wanita yang minta ditato,
wanita yang mencabut bulu alis dan wanita yang meminta dicabut bulu alisnya
serta wanita yang membuat celah pada gigi untuk kecantikan sebagai
wanita-wanita yang merubah ciptaan Allah. Mengapa saya tidak melaknat wanita
yang dilaknat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)
بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ
وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ»
Jabir bin Abdullah ia berkata: Abu Quhafah pernah dihadapkan pada saat Fathu
Makkah, sedangkan rambut dan janggutnya sudah sangat putih seperti kapas, maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rubahlah uban ini
dengan sesuatu, dan jauhilah warna hitam.” (HR. Muslim)
Kumis
عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” خَالِفُوا
المُشْرِكِينَ: وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “
Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
“Selisihilah orang-orang musyrik; biarkanlah janggut dan potonglah
kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)[iii]
هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «جُزُّوا
الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ»
Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ratakan kumis dan biarkanlah janggut. Selisihilah orang-orang
Majusi.” (HR. Muslim)
Bulu Ketiak, dan Tidak Membiarkan Semua Itu Lebih dari 40 hari
«وَقَّتَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَلْقَ الْعَانَةِ،
وَتَقْلِيمَ الْأَظْفَارِ، وَقَصَّ الشَّارِبِ، وَنَتْفَ الْإِبِطِ، أَرْبَعِينَ يَوْمًا
مَرَّةً»
‘alaihi wa sallam memberi waktu kepada kami dalam memotong kumis, memotong
kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak lebih dari 40
hari.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain, dan dishahihkan oleh Al Albani).
Mata Kaki)
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau
bersabda, “Kain yang melewati mata kaki adalah di neraka.” (HR.
Bukhari)
ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ
اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ» قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ثَلَاثَ مِرَارًا، قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟
قَالَ: «الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Ada tiga golongan yang
tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat-Nya, tidak dibersihkan-Nya
(dari dosa) dan bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan
berulang kali, Abu Dzar bertanya, “Sungguh celaka dan rugi mereka, siapakah
mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang isbal, orang yang
menyebut-nyebut pemberiannya dan orang yang melariskan barang dagangannya
dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim)
wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Al Qur’anul Karim, Maktabah Syamilah versi 3.45, Mausu’ah
Haditsiyyah Mushaghgharah (Nurul Islam Li Abhatsil Qur’ani was Sunnah), Jilbabul Mar’atil
Muslimah (M. Nashiruddin Al Albani), Fiqhus Sunnah (S. Sabiq), Untaian
Mutiara Hadits (Penulis), Modul Akhlak jilid 5 (penulis), dll.
aurat wanita adalah seluruh tubuhnya selain muka dan telapak tangan. Allah
Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.” (Terj. QS. An Nuur:
31) Ibnu Abbas berkata, “Yaitu mukanya, kedua
telapak tangannya dan cincin.” Jika ditutup mukanya (seperti memakai cadar) dan
tangannya maka lebih utama. Ibnu Khuwaiz Mandad berkata, “Wanita itu jika
cantik dan dikhawatirkan timbul fitnah dari muka dan telapak tangannya
hendaknya menutupnya, dan jika wanita itu sudah tua atau jelek maka tidak
mengapa membuka wajah dan telapak tangannya.”
mencukur secara acak, mencukur bagian tengah kepala dan meninggalkan
pinggir-pinggirnya, mencukur pinggir-pinggir kepala dan meninggalkan bagian
tengahnya, mencukur bagian depan kepala dan meninggalkan bagian belakang.
tengah-tengah, yakni jika ia memendekkannya, maka jangan terlalu pendek dan
jangan juga membiarkan janggut hingga panjang sekali tidak terurus. Imam Bukhari
meriwayatkan, bahwa Ibnu Umar apabila naik hajji atau umrah, ia menggenggam janggutnya,
selebihnya ia cukur. Lihat kitab Fiqhussunnah (1/38) karya Syaikh S.
Sabiq.






































