الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
karya Imam Nawawi rahimahullah, kami sebutkan dalam risalah ini
mengingat di dalamnya terdapat kaedah-kaedah penting dalam Islam. Kami pun
membuatkan tarjamah (tema) terhadapnya yang insya Allah dapat mewakili kandungan
hadits secara umum sekaligus kandungannya secara singkat. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Kebaikan
مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ،
أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ
: لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيْمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلىَ مَنْ يَسَّرَهُ
اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ : تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ،
وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكَ
عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ
الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ
اللَّيْلِ، ثُمَّ قَالَ : } تَتَجَافَى
جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ.. –حَتَّى بَلَغَ- يَعْمَلُوْنَ{ُ ثمَّ قَالَ : أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ
وُعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ :
رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ
الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ :
بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ
بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ عَلَيْكَ
هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ
بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ
يُكَبُّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ
مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ .
berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah aku tentang perbuatan yang
dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka, Beliau
bersabda, “Kamu telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut
mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah Ta’ala; yaitu beribadah kepada Allah
dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
berpuasa Ramadhan dan pergi haji.” Kemudian Beliau bersabda, “Maukah kamu
aku beritahukan tentang pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah
akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadaman api, dan shalatnya
seseorang di tengah malam (qiyamullail),” lalu Beliau membacakan ayat
(yang artinya), “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….dst” (QS. As
Sajdah: 16-17). Kemudian Beliau bersabda, “Maukah kamu aku beritahukan
pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya?” Aku menjawab, “Ya
mau, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pokok perkara adalah Islam,
tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad.” Kemudian Beliau
bersabda, “Maukah kamu aku beritahukan sesuatu (yang jika kamu laksanakan)
dapat menopang semua itu?” Saya berkata, “Ya mau, wahai
Rasulullah.” Maka Rasulullah memegang lisannya dan bersabda, “Jagalah
ini.” Saya berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa
karena apa yang kita bicarakan?” Beliau bersabda, “Payah kamu,
bukankah yang menyebabkan seseorang terjungkil wajahnya di neraka –atau sabda
beliau: di atas hidungnya- karena apa yang diucapkan oleh lisan-lisan
mereka.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Haditsnya hasan shahih.”).
amal saleh adalah sebab masuk surga.
bertanya terhadap hal yang bermanfaat bagi mereka.
ini dipandang pertanyaan yang besar karena masuk surga dan selamat dari neraka
adalah perkara yang penting sekali.
sebagian besar yang ditanyakan adalah sebab-sebab masuk surga dan terhindar
dari neraka.
seseorang selalu meminta kepada Allah agar dimudahkan beramal saleh.
kewajiban yang pertama dan paling agung adalah beribadah kepada Allah
Subhaanahu wa Ta’ala.
mengerjakan rukun Islam merupakan sebab masuk surga.
seseorang berusaha menjalani sebab-sebab agar diberi hidayah.
seseorang berusaha mengetahui pintu-pintu kebaikan.
menjaga lisan dan mengendalikannya asal semua kebaikan.
Ta’ala
جُرْثُوْمِ بْنِ نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه
وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا،
وَحَدَّ حُدُوْداً فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا،
وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا
عَنْهَا.
Jurtsum bin Nasyir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan
kewajiban-kewajiban, maka janganlah kamu mengabaikannya, dan telah menetapkan
batasan-batasan, maka janganlah kamu melampauinya. Dia telah mengharamkan
segala sesuatu, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Dia mendiamkan sesuatu
sebagai rahmat bagi kamu, bukan karena lupa maka janganlah kamu
membahasnya.” (Hadits hasan, HR. Daruquthni dan lainnya[i]).
patut mengkaji dan bertanya tentang hal-hal yang didiamkan. Hal ini menunjukkan
mubahnya.
adanya lupa terhadap Allah Ta’ala.
meninggalkan hal-hal yang haram dan larangan.
أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ
اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي
النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا
عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ .
Sa’idi radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Seseorang pernah datang
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai
Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah
akan mencintaiku demikian juga manusia?” Maka Beliau bersabda, “Zuhudlah
terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang
ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya
dengan sanad-sanad yang hasan).
cita-cita para sahabat, dimana mereka bertanya tentang perkara-perkara besar
yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
zuhud di dunia, dan bahwa hal itu merupakan cara untuk memperoleh kecintaan
Allah.
tidak butuh terhadap apa yang ada di tangan manusia, dan bahwa hal itu
merupakan sebab memperoleh kecintaan manusia.
أَبِي سَعِيْدٍ سعْدُ بْنِ سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidak boleh melakukan perbuatan madharat (bahaya) yang
mencelakakan diri sendiri dan orang lain.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh
Ibnu Majah dan Daruqutni serta selainnya dengan sanad yang bersambung, juga
diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattha’ secara mursal dari Amr bin Yahya
dari ayahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak
menyebutkan Abu Sa’id. Akan tetapi hadits ini memiliki jalan-jalan yang
menguatkan sebagiannya dengan sebagian yang lain).
menimpakan madharrat (bahaya) kepada orang lain.
agar tidak menzalimi orang lain.
menjaga jiwa dan harta manusia.
Mengingkari
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه
وسلم : لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ
وَدِمَاءَهُمْ، لَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنَ عَلَى مَنْ
أَنْكَرَ ))
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya setiap pengaduan
manusia diterima, niscaya setiap orang akan mengadukan harta milik suatu kaum
dan darah mereka. Oleh karena itu, bagi pendakwa harus mendatangkan bukti dan
sumpah bagi yang mengingkari.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Baihaqi
dan lainnya, tetapi sebagiannya ada dalam As Shahihain).
Islam untuk menjaga hak.
syariat datang untuk menjaga harta dan darah manusia.
jiwa kepada harta.
bagi seorang hakim memutuskan dengan adil.
tidak dihukumi untuk seseorang hanya berdasarkan dakwaannya saja.
sumpah tertuju kepada si terdakwa secara mutlak.
Kemampuan
أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ
صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ
بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang
siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu,
maka rubahlah dengan lisannya dan jika tidak mampu, maka (tolaklah) dengan hatinya;
yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
mencegah kemungkaran.
meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.
hadits ini terdapat penjelasan bagaimana merubah kemungkaran dan tingkatannya.
antara syarat amr ma’ruf dan nahi munkar adalah kemampuan.
merubah kemungkaran sesuai kemampuan.
wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Syarhul Arba’in An Nawawiyyah (Imam Nawawi), Syarhul
Arba’in An Nawawiyyah (Sulaiman Al Luhaimid), Al Maktabatusy Syamilah
versi 3.35, dll.
ini didhaifkan oleh Al Albani, dalam Dha’iful Jami’ no. 1597 dan oleh
Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam.






































