الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga
hari Kiamat, amma ba’du:
pembahasan tentang ajaran tashawwuf dalam timbangan syariat, semoga Allah Azza
wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
amin.
contoh ajaran Shufi
Akidah
dirinya dengan senjata tajam sambil berkata, “Yaa jaddah,”
lalu datang setan kepadanya membantunya melakukan tindakan yang ia inginkan.
Ini termasuk istighatsah (permohonan) kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala
dan merupakan syirk. Namun anehnya, sebagian mereka menganggapnya sebagai
karamah, padahal pelakunya terkadang seorang yang meninggalkan kewajiban agama,
seperti shalat, dsb.
mengetahui yang ghaib melalui kasyaf (penyingkapan tabir). Padahal Al Qur’an
dengan tegas menyatakan,
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ
يُبْعَثُونَ
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah.” (QS. An Naml: 65)
Allah menciptakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nur-Nya, dan
dari nur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah menciptakan segala
sesuatu.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِن طِينٍ
kepada malaikat, “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari
tanah.” (QS. Shaad: 71)
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallama adalah manusia, lihat QS. Al
Kahfi: 110.
hadits yang berbunyi, “Wahai Jabir! Yang pertama kali Allah ciptakan
adalah nur Nabimu,” adalah hadits maudhu (palsu).
Allah menciptakan dunia karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa Dia tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Nya (lihat
QS. Adz Dzaariyat: 56).
bahwa Allah dapat dilihat di dunia (lihat kitab Ihyaa’ Ulumiddin 4/365
pada bab Hikayatul Muhibbin wa Mukaasyaafatihim).
dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah
yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al An’aam: 103)
ini menunjukkan, bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia, adapun di akhirat,
maka Allah dapat dilihat (lihat QS. Al Qiyamah: 23).
mereka pernah melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan
jaga (tidak tidur).
dalam Al Qur’an disebutkan,
sampal hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al Mu’minun: 100)
ini menunjukkan, bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak akan bertemu lagi
dengan orang-orang yang masih hidup di dunia dalam keadaan jaga.
bahwa para wali lebih tinggi tingkatannya daripada para nabi. Al Busthami
berkata, “Kami telah menyelami lautan, sedangkan para nabi berhenti di
tepinya.”
ini jelas bertentangan dengan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Imam Ath Thahawi
berkata,
أَحَدٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ وَنَقُولُ: نَبِيٌّ وَاحِدٌ أَفْضَلُ
مِنْ جَمِيْعِ الْأَوْلِيَاءِ
pun dari para wali di atas seorang pun dari kalangan para nabi ‘alaihimus
shalatu wassalam, bahkan kita mengatakan, “Seorang nabi lebih utama dari
seluruh para wali.”
ilmu ladunni, yakni mereka terima langsung ilmu dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala
tanpa perantara. Mereka mengatakan, “Telah menceritakan kepadaku hatiku
dari Tuhanku.” Hal ini sebagaimana yang dikatakan Abu Yazid Al
Busthami dalam Al Futuhat Al Makkiyyah juz 1 hal. 365.
karena itu, di antara rujukan mereka dalam beragama adalah kasyf, mimpi, dan
bisikan hati. Padahal rujukan hukum
Islam adalah Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’, dan Qiyas shahih.
bahwa mereka dapat melakukan mi’raj (naik) ke langit. Hal ini seperti yang
diyakini Abu Yazid Al Busthami, Abdul Karim Al Jiiliy, dll.
manusia yang Allah isra-mi’rajkan ke langit adalah Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam (lihat QS. Al Israa’: 1), adapun manusia setelah Beliau,
maka tidak ada yang dimi’rajkan ke
langit.
bahwa semua agama adalah sama. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Ibnu Arabi,
aku mengingkari kawanku karena agamanya tidak di atas agamaku
hatiku berubah untuk menerima semua keadaan
rumput untuk kijang, biara untuk rahib
untuk berhala, ka’bah untuk orang yang thawaf
lauh kitab Taurat dan ada mushaf Al Qur’an
Al Qur’an dengan tegas menyebutkan,
غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
shufi berkeyakinan, bahwa Khidhir yang pernah didatangi Nabi Musa ‘alaihis
salam masih hidup, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka
Jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyaa’: 34)
memiliki beberapa tarekat (jalan/cara beribadah), ada tarekat Tijaniyyah,
Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, Syadziliyyah, Rifa’iyyah, dll. Masing-masing tarekat berbeda-beda tatacara ibadahnya,
padahal kita kaum muslim diperintahkan mengikuti tarekat (jalan/cara ibadah)
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu ia berkata:
وَسَلَّمَ خَطًّاثُمَّ قَالَ: ” هَذَا سَبِيلُ اللهِ “، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا
عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: ” هَذِهِ سُبُلٌ – قَالَ يَزِيدُ:
مُتَفَرِّقَةٌ – عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ “، ثُمَّ
قَرَأَ: (وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ،
فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ) [الأنعام:153]
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat sebuah garis, lalu bersabda,
“Ini jalan Allah.” Selanjutnya Beliau membuat garis-garis di kanan
kirinya, kemudian bersabda, “Ini adalah jalan-jalan.” -Yazid (perawi
hadits ini) berkata, “Yang bermacam-macam,” -dimana pada setiap jalan
terdapat setan yang mengajak kepadanya, selanjutnya Beliau membaca ayat, “Dan
bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia,
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)
kita tidak mengikuti jalan atau tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tentu akan menimbulkan banyak perbedaan dan perpecahan, sebagaimana
disebutkan dalam hadits di atas dengan kata-kata “Haadzihi subul,”
(artinya: ini jalan-jalan). Oleh karenanya, engkau lihat tatacara ibadah dan
dzikr mereka berbeda-beda dan bermacam-macam tergantung tarekatnya, fa innaa
lillahi wa innaa ilaihi raajiun.
shalat, puasa, zakat, dan haji hanyalah ibadah yang dilakukan oleh orang-orang
awam, adapun mereka telah mencapai tingkatan khaasah (khusus) atau khaashshatul
khaashshah, sehingga mereka memiliki ibadah yang khusus bagi mereka.
karena itu, di antara mereka ada yang berani meninggalkan shalat dan kewajiban
agama lainnya karena menganggap bahwa ibadah itu bukan untuk tingkatan mereka.
tingkatan ihsan kepada para syaikh mereka, sehingga murid-muridnya dituntut
menggambarkan syaikh mereka saat mereka berdzikr, bahkan saat mereka shalat.
Hal ini sebagaimana disampaikan Syaikh M. bin Jamil Zainu dalam bukunya Ash
Shufiyyah hal. 11, bahwa ia punya kerabat yang menaruh foto syaikhnya di
depannya saat shalat.
penulis pernah melihat mushalla (masjid kecil) yang diurus oleh kaum shufi,
dimana di dindingnya dipajang gambar tokoh-tokoh shufi.
ini sama persis yang dilakukan Ahli Kitab yang mendapatkan laknat, dimana
mereka suka menggambar tokoh-tokoh atau orang-orang saleh mereka di tempat
mereka beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ
الصُّوَرَ ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
mereka itu apabila ada orang saleh di tengah-tengah mereka yang wafat, maka
mereka membangun masjid di atas kuburnya dan mereka menggambar gambar-gambar
(orang saleh) itu. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah
pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Maktabah Syamilah
versi 3.45, Majmu’ Fatawa (Syaikhul Islam Ibnu taimiyah), Ash
Shufiyyah fii Mizanil Kitabi was Sunnah (Syaikh M. bin Jamil Zainu), Al
‘Aqidatuth Thahawiyyah (Imam Ath Thahawi), Al Fikrush Shufi fii Dhau’il
Kitab was Sunnah (Abdurrahman Abdul Khaliq), Al ‘Aqidatush Shahihah
(Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz), dll.





































