الله الرحمن الرحيم
bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya,
dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:
ketika seseorang lupa. Dalil disyariatkan sujud sahwi adalah sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَوْ نَقَصَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ
kekurangan (dalam shalat), maka hendaknya ia bersujud dua kali.” (HR. Muslim)
dimana Beliau pernah lupa dalam shalatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga bersabda, “Aku adalah manusia; aku lupa seperti kalian lupa. Jika aku
lupa, maka ingatkanlah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
sujud adalah lupa. Lupa di sini adalah karena salah satu di antara tiga sebab
berikut ini:
Kelebihan dalam
shalat karena lupa, bisa karena kelebihan rakaat atau selainnya. Misalnya seseorang shalat
Zhuhur lima rakaat, atau ia menambah sujud dan sebagainya, maka ketika itu, ia
melakukan sujud sahwi.
Kekurangan dalam
shalat karena lupa, seperti meninggalkan yang rukun atau yang wajib. Jika ia
meninggalkan rukun, maka ia wajib melakukan rukun itu, kemudian melakukan sujud
sahwi. Tetapi, jika ia meninggalkan yang wajib seperti tasyahhud awwal, maka ia
tutupi dengan sujud sahwi.
Ragu-ragu. Misalnya, ia
ragu-ragu apakah sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat? Maka dalam hal
ini, ia wajib mendasari atas hal yang yakin, jika ia tidak dapat memastikan,
maka yang yakin adalah yang paling sedikit, yaitu bahwa ia telah melakukan
shalat tiga rakaat, sehingga ia tambahkan satu rakaat lagi, kemudian sujud
sahwi.
dalam shalat; ia bertakbir lalu sujud dan mengucapkan, “Subhaana Rabbiyal
A’laa” 3 X, lalu bangun sambil bertakbir dan duduk di antara dua sujud
sambil membaca doa duduk antara dua sujud, kemudian sujud lagi seperti sujud
sebelumnya, lalu bangun sambil bertakbir dan mengucapkan salam tanpa tasyahhud
(lihat buku Al Fiqh –fi’ah An Naasyi’ah- oleh Dr. Abdullah bin Musaa Al
‘Ammar).
sahwi dilakukan setelah salam, maka ia mengucapkan salam lagi setelah sujud dua
kali.
yang dihapal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikr khusus untuk
sujud sahwi, bahkan dzikrnya adalah sama seperti dzikr sujud yang lain dalam
shalat. Adapan ucapan “Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu,” maka
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya, tidak pula
sahabat dan tidak ada dalil dari As Sunnah sama sekali.”
sujud sahwi ini, baik sebelum salam atau setelahnya. Namun ada khilaf dalam
masalah yang lebih afdhal(utama)nya, yang utama adalah memberlakukan Sunnah
dalam hal ini; sehingga dalam masalah lupa yang Sunnah menjelaskan sebelum
salam, maka kita melakukannya sebelum salam, dan dalam masalah lupa yang Sunnah
menjelaskan setelah salam, maka kita sujud setelah salam (lihat penjelasannya
di ‘Rincian letak Sujud Sahwi yang paling utama’) . Al Hafizh Abu Bakar Al Baihaqi, “Yang dekat dengan kebenaran adalah boleh
kedua-duanya, dan inilah yang dipegang oleh sahabat-sahabat kami (yakni dari
kalangan ulama).”
utama; sebelum atau setelah salam.
Ketika
kelebihan dalam shalat, seperti kelebihan ruku’, sujud,
berdiri atau duduknya. Maka ketika ia telah salam, ia sujud sahwi dua kali lalu salam. Dalilnya
adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berikut:
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي
الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ
بَعْدَ مَا سَلَّم
sallam pernah shalat Zhuhur lima
rakaat, lalu ada yang berkata kepada Beliau, “Apakah shalat ditambah?” Beliau
bertanya, “Memangnya ada apa?” Ia menjawab, “Engkau shalat lima rakaat.” Maka Beliau sujud dua kali
setelah salam. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu
Majah)
ia berdiri ke rakaat kelima kemudian ingat atau diingatkan maka ia kembali
tanpa takbir dan duduk membaca tasyahhud akhir serta mengucapkan salam,
kemudian sujud sahwi dua kali lalu salam lagi. Demikian pula apabila ia tidak
tahu kelebihan rakaat kecuali setelah selesai shalat maka ia sujud sahwi dua
kali lalu salam.
Ketika
kekurangan rakaat, misalnya ia mengucapkan salam sebelum
sempurna shalatnya karena lupa kemudian ingat atau diingatkan maka ia tambahkan
shalatnya kemudian mengucapkan salam, setelah salam ia sujud dua kali lalu
salam lagi. Dalilnya adalah hadits Imran bin Hushshain berikut:
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ
ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ
وَكَانَ فِي يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ
وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ
أَصَدَقَ هَذَا قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ
سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّم
wa sallam pernah shalat ‘Ashar, lalu salam pada rakaat ketiga, lalu masuk ke
rumahnya, maka ada seorang yang bangkit menemuinya bernama Khirbaq, dimana pada
kedua tangannya panjang, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah,…dst.” ia pun
menyebutkan perbuatan Beliau, maka Beliau keluar dalam keadaan marah sambil
menarik selendangnya sehingga sampai di hadapan manusia dan bersabda, “Apakah
orang ini benar?” Mereka menjawab, “Ya.” Maka Beliau mengerjakan satu rakaat
lagi, lalu salam, kemudian sujud dua kali lalu salam.” (HR. Muslim, Abu Dawud,
Nasa’i dan Ibnu Majah)
dengan ingatnya tidak terlalu lama, jika sudah lama maka ia ulangi shalatnya
dari awal lagi.
Ketika
lupa tidak tasyahhud awwal atau lupa mengerjakan yang wajib lainnya dalam
shalat maka ia sujud sahwi dua kali sebelum salam.
Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia
berkata:
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ مِنْ بَعْضِ الصَّلَوَاتِ ثُمَّ
قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ
وَنَظَرْنَا تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ قَبْلَ التَّسْلِيمِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ
جَالِسٌ ثُمَّ سَلَّمَ
shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salah satu shalat bersama kami dua
rakaat, lalu Beliau bangkit tanpa duduk (tasyahhud awwal), lalu orang-orang
ikut bangkit bersama Beliau. Setelah mengakhiri shalatnya, dan kami menunggu
salam Beliau, maka Beliau bertakbir sebelum salam, lalu sujud dua kali dalam
keadaan duduk, kemudian salam.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud,
Tirmidzi dan Ibnu Majah)
lainnya adalah ia lupa tasyahhud awal dan langsung berdiri, lalu ia ingat atau
diingatkan; maka jika belum sempurna berdiri ia kembali untuk duduk tasyahhud
dan ia tidak perlu sujud sahwi[i],
tetapi jika sudah sempurna berdiri, maka ia tidak perlu kembali duduk tetapi meneruskan
saja dan sebelum salam ia sujud sahwi dua kali.
Hal ini berdasarkan hadits Mughirah bin Syu’bah, bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ
سَجْدَتَيْ السَّهْوِ
salah seorang di antara kamu bangun dari dua rakaat (tidak tasyahhud awwal),
tetapi belum sempurna berdiri, maka hendaknya ia duduk. Tetapi, apabila ia
telah sempurna berdiri, maka janganlah ia duduk, dan hendaknya ia sujud sahwi dua
kali.”
Jika
seorang lupa, sehingga tidak mengerjakan salah satu rukun shalat, maka ia
kerjakan rukun itu dan perbuatan setelahnya, lalu
melakukan sujud sahwi nanti setelah salam.
jika seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat dan sudah masuk mengerjakan
perbuatan shalat yang lain, setelah itu ia ingat, maka ia wajib mengerjakan
kembali rukun itu lalu mengerjakan rukun-rukun setelahnya.
Jika
ia ragu-ragu dalam shalatnya apakah ia shalat sudah dua rakaat ataukah sudah
tiga rakaat, dan ternyata salah satunya lebih kuat baginya, maka ia dasari
terhadap hal yang kuat itu, lalu ia sujud sahwi dua kali setelah
salam lalu salam lagi. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud berikut:
قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا
صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَسَجَدَ
سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ إِنَّهُ
لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا
بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ
عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
shalat (Ibrahim perawi hadits ini berkata, “Kelebihan atau kekurangan[ii].”)
setelah Beliau salam, ada yang berkata kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, apakah
terjadi sesuatu dalam shalat?” Beliau menjawab, “Memangnya ada apa?” Mereka
menjawab, “Engkau shalat begini dan begini.” Lalu Beliau melipat kedua kakinya
dan menghadap kiblat, kemudian sujud dua kali, lalu salam. Kemudian Beliau
menghadap kepada kami dengan wajahnya dan bersabda, “Sesungguhnya jika terjadi
sesuatu dalam shalat tentu aku beritahukan, akan tetapi aku adalah seorang
manusia; aku lupa sebagaimana kamu lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku.
Dan apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, maka
hendaklah ia pilih yang benar, lalu ia sempurnakan kemudian sujud dua kali.”
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)
pun ragu-ragu di rakaat kedua; apakah sudah tiga rakaat atau dua rakaat? Lalu
setelah ia pastikan ternyata sudah tiga maka ia tetap jadikan tiga rakaat dan
menyempurnakan shalatnya lalu salam, kemudian sujud sahwi dua kali lalu salam
lagi.
Jika
ia ragu-ragu dalam shalatnya apakah ia sudah shalat dua rakaat atau tiga rakaat, ia
telah berusaha untuk mengingat-ingat namun tidak dapat memastikan salah
satunya, maka ia anggap masih sedikit/kurang karena itulah yang yakin, lalu
sujud sahwi dua kali sebelum salam kemudian salam. Dalilnya adalah sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحْ
الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ
أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ
صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
ia tidak mengetahui berapa yang telah ia lakukan; tiga rakaat atau empat, maka
hendaknya ia singkirkan keraguan itu dan mendasari dengan yang ia yakini, lalu
ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia melakukan shalat lima rakaat, maka sujud itu menggenapkannya,
tetapi jika ia shalat tepat empat rakaat, maka sebagai penghinaan bagi setan.”
(HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
rakaat kedua, ia pun ragu-ragu apakah sudah tiga ataukah masih dua dan belum
bisa memastikan mana yang benar maka ia anggap masih dua rakaat, kemudian ia
menyempurnakan shalatnya lalu sujud sahwi dua kali sebelum salam kemudian
salam.
Jika
selesai shalat ia ragu-ragu maka tidak perlu diperhatikan hingga benar-benar
yakin (pasti), namun jika banyak keraguan, maka tidak perlu diperhatikan keraguan itu
karena hal itu termasuk was-was.
shalat, maka ia tidak perlu sujud sahwi sendiri ketika lupa, bahkan ia harus
mengikuti imamnya. Tetapi jika ia sebagai masbuq dan lupa dalam melaksanakan
apa yang luput, maka ia sujud sahwi setelah dilaksanakan apa yang telah luput
itu.
adalah sbb:
mengingatkan dengan cara membacakan ayat yang benar. Dalilnya adalah hadits
Ibnu Umar berikut:
صَلَّى صَلاَةً فَقَرَأَ فِيْهَا فَالْتَبَسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ لِاَبِيْ
: ( أَشَهِدْتَ مَعَنَا ؟ ) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : ( فَمَا مَنَعَكَ أَنْ تَفْتَحَ
عَلَيَّ ؟ )
sallam pernah shalat, lalu ada (bacaan) yang rancu bagi Beliau, maka setelah
selesai shalat, Beliau bersabda kepada bapakku, “Apakah kamu ikut shalat
bersama kami?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Apa yang menghalangimu
untuk mengingatkanku?” (HR. Abu Dawud dan lainnya, para perawinya adalah
tsiqah).
atau jumlah rakaat, maka makmum (yang laki-laki) mengingatkan dengan membaca
“Subhaanallah.” Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berikut:
وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ و زَادَ مُسْلِمٌ فِي اَلصَّلَاةِ)
itu untuk wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim. Muslim menambahkan, “Dalam shalat.”)
(tashfiiq). Caranya menurut Isa bin Ayyub adalah dengan menepuk ke atas punggung
telapak tangan yang kiri dengan menggunakan dua jari tangan kanan.
nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraaji’: Al Fiqh (Dr. Abdullah bin
Musa Al ‘Ammar), Asy’yaa’ min Ahkaam sujuudis Sahwi fish shalaah (Syaikh Ibnu
‘Utsaimin), Al Hidayah fii Masaa’il Fiqhiyyah Muta’aaridhah (A. Zakariyya), Al Wajiiz
(Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi), Sujuudus Sahwi (Dr. Sa’id Al Qahthani) dll.
bahwa sebagian Ahli Ilmu berpendapat, bahwa dalam keadaan ini ia tetap sujud
sahwi karena hendak bangun itu merupakan tambahannya dalam shalat, wallahu
a’lam.
sahih adalah kelebihan sebagaimana diterangkan Ibnul Atsir dalam Jaami’ul
Ushuul (5/541).







































