الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
penting Asma’ul Husna, namun mengenai beberapa syubhat sekaligus bantahannya,
semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
aamiin.
Ahlus sunnah tentang nash-nash shifat, mereka menyatakan bahwa Ahlus sunnah
juga melakukan ta’wil nash dari zhahirnya. Mereka berkata, “Bagaimana
kalian mengingkari ta’wil yang kami lakukan, padahal kalian sendiri juga melakukan
ta’wil!?”
sangkaan itu dengan dua jawaban –sambil memohon pertolongan kepada Allah
Ta’ala– dengan jawaban yang mujmal (garis besar) dan jawaban yang
mufashshal (rinci).
tidak menerima pernyataan bahwa kaum salaf memalingkan juga dari zhahirnya,
karena zhahir dari kalimat ada yang maknanya langsung dipahami, dan maknanya
berbeda-beda tergantung susunannya dan kalimat yang dihubungkan kepadanya. Hal
itu, karena kata itu maknanya dapat berbeda-beda tergantung penyusunannya,
sedangkan kalimat tersusun dari beberapa kata, di mana maknanya akan jelas dan
dapat ditentukan setelah digabungkan antara kata yang satu dengan kata yang
lainnya.
pun di antara mereka ada yang memalingkan dari zhahihrnya, namun mereka
memiliki alasan dari Al Qur’an dan As Sunnah, baik muttashil (bersambung/ada
dalam kalimat itu, seperti adanya istitsna (pengecualian), syarat dan sifat)
maupun munfashil (terpisah, seperti karena indera, akal maupun syara’).
mufashshalnya adalah jawaban terhadap penta’wilan Ahlus sunnah terhadap nash yang
mereka sebutkan. Misalnya apa yang disebutkan oleh Al Ghazaaliy dari sebagian
ulama madzhab Hanbali, bahwa Imam Ahmad tidak melakukan penta’wilan kecuali
dalam tiga perkara saja; tentang hajar aswad adalah tangan kanan Allah di
muka bumi, hati manusia di antara dua jari dari jari-jari Allah dan tentang perkataan,
“saya mendapatkan nafas (pertolongan) Ar Rahman dari arah Yaman.
5 hal. 398, lalu ia berkata, “Cerita ini adalah dusta terhadap Imam
Ahmad.”
jawaban terhadap masing-masingnya.
disebutkan bahwa hajar aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi adalah
hadits yang tidak sahih sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Jauziy dalam Al
‘Ilalul Mutanaahiyah, Ibnu ‘Arabiy menyebutnya sebagai hadits batil yang
tidak perlu ditengok, sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa
hadits itu diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa isnad
yang sahih. Dengan demikian tidak perlu membicarakan secara mendalam. Namun
Ibnu Taimiyah berkata;
ia berasal dari Ibnu Abbas, di mana ia berkata:
Allah, barangsiapa yang menyalaminya dan menciumnya, maka seakan-akan ia
menyalami Allah dan mencium tangan kanan-Nya[i].“
tersebut niscaya akan jelas baginya bahwa tidak ada kemusykilan di sana, karena
ia berkata, “Tangan kanan Allah di muka bumi” tidak disebutkan
secara mutlak “Tangan kanan Allah.” Hukum terhadap lafaz muqayyad
(yang tidak disebut secara mutlak) berbeda dengan hukum terhadap lafaz yang
mutlak.” Selanjutnya (dikatakan), “Barang siapa yang menyalaminya dan
menciumnya, maka seakan-akan ia menyalami Allah dan mencium tangan kanan-Nya.”
Hal ini menunjukkan dengan tegas bahwa orang yang sedang bersalaman tidaklah
bersalaman sama sekali dengan tangan kanan Allah, akan tetapi seperti orang
yang bersalaman dengan Allah. Awal dan akhir hadits itu menerangkan bahwa hajar
bukanlah termasuk sifat Allah Ta’ala sebagaimana hal itu diketahui oleh orang
yang berakal.” (Majmu’ Fatawa Juz 6 hal. 398)
jari dari jari-jari Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ » .
hati anak Adam semuanya di antara dua jari dari jari-jari Ar Rahman seperti
satu hati, Dia membolak-balikkan sesuai yang dikehendaki-Nya.” (HR.
Muslim)
mereka berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki jari-jari secara
hakikat, kita menetapkannya sebagaimana telah ditetapkan oleh Rasul-Nya
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang demikian tidaklah mesti menyatu
sehingga memberikan kesan bahwa hadits itu menunjukkan ikut menyatu, oleh
karenanya harus dialihkan dari zhahirnya. Perhatikanlah awan yang ditundukkan
antara langit dan bumi, ia tidak menyentuh langit dan tidak menyentuh bumi.
Demikian juga dikatakan, “Badar itu tempat di antara Makkah dan Madinah”
dengan jauhnya jarak masing-masing kota itu sehingga hati anak Adam semuanya di
antara jari dari jari Ar Rahman secara hakikat, namun tidak menunjukkan menempel
dan menyatu.”
“Saya mendapatkan nafas (pertolongan) Ar Rahman dari arah Yaman.”
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ وَأَجِدُ نَفَسَ رَبِّكُمْ مِنْ قِبَلِ الْيَمَنِ
iman itu ada di kanan, hikmah merupakan bagian kanan dan saya mendapat nafas
Tuhanmu dari arah Yaman.[ii]“
perawinya adalah para perawi hadits shahih selain Syabib, namun ia
tsiqah.”
isim masdar dari naffasa –yunaffisu- tanfiisan wa nafasan sebagaimana
farraj-yufarriju- tafriijan wa farajan. Dalam Maqaayisul lughah disebutkan,
“Nafas bagi segala sesuatu adalah yang menghilangkannya dari derita.”
Oleh karena itu, makna hadits ini adalah bahwa pertolongan Allah Ta’ala kepada
kaum mukminin berasal dari penduduk Yaman. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Mereka adalah orang-orang yang membunuh orang-orang yang murtad dan
menaklukkan berbagai kota, melalui mereka Allah menolong kepada kaum mukmin dari
penderitaan.” (Majmu’ Fatawa Juz 6 hal. 398).
ini:
Allah Ta’ala:
Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia
Maha mengetahui segala sesuatu.” (Terj. QS. Al Baqarah: 29)
tersebut. Tafsiran pertama adalah bahwa artinya di atas langit, dan inilah yang
dikuatkan Ibnu Jarir. Tafsiran kedua adalah bahwa istiwa’ di sini maksudnya
adalah menuju secara sempurna, inilah yang dipegang oleh Ibnu Katsir pada
tafsir surat Al Baqarah dan Al Baghawi pada tafsir surat Fushshilat . Ibnu
Katsir berkata, “Yakni menuju ke langit”. Istiwaa’ di sini mengandung
makna “menuju kepada” karena ada kata “ilaa.” Al Baghawiy
berkata, “Yakni menuju untuk menciptakan langit.”
zhahihrnya, hal itu karena fi’il (kata kerja) istawaa digandengkan dengan ilaa,
sehingga maknanya berpindah kepada makna yang sesuai dengan huruf yang
digandengkan tersebut. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala:
mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka
dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (Terj. QS. Al
Insaan: 6)
dahaganya karena air itu, karena fi’il “yasyrabu” ditambahkan huruf
“baa” sehingga maknanya berpindah kepada makna yang sesuai, yaitu
“yarwaa” (hilang dahaga).
Ta’ala di surat Al Hadid:
Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu
kerjakan.” (Terj. QS. Al Hadid: 4)
hakikat dan zhahirnya, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah apa hakikat
dan zhahirnya? Apakah zhahir dan hakikatnya adalah bahwa Allah Ta’ala bersama
makhluk-Nya yang menunjukkan bahwa Dia ikut menyatu dengan makhluk-Nya atau
menempati tempat-tempat mereka, atau apakah zhahir dan hakikatnya bahwa Allah
Ta’ala bersama makhluk-Nya menghendaki meliputi mereka pengetahuan-Nya,
Kekuasaan-Nya, Pendengaran-Nya, Penglihatan-Nya, Pengaturan-Nya dan
Kekuasaan-Nya dan makna yang terkandung dari rububiyyah lainnya, sedangkan Dia
tetap berada Tinggi di atas ‘arsyi-Nya; di atas semua makhluk-Nya?
pertama tidak ditunjukkan oleh susunan ayat tersebut dan tidak ditunjukkan
demikian dari berbagai segi. Hal itu, karena kebersamaan di sini dihubungkan
kepada Allah Ta’ala, sedangkan Dia Maha Agung dan Maha Besar sehingga tidak
mungkin diliputi oleh satu pun makhluk-Nya. Di samping itu, kebersamaan dalam
bahasa Arab; bahasa yang dengannya Al Qur’an diturunkan tidaklah menghendaki
bersatu atau bersama tempatnya, bahkan hanyalah menunjukkan kebersamaan mutlak
yang kemudian ditafsirkan menurut yang sesuai.
Ta’ala:
langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-benar berkuasa.” (Adz Dzaariyaat: 56)
menafsirkan kata “Aiid” di ayat tersebut dengan kekuatan. Sebagian
orang mengira bahwa Ibnu Abbas dan yang sama seperti beliau telah melakukan
ta’wil, karena mengartikan dengan “kekuatan.” Terhadap persangkaan
ini kita jawab, bahwa “yad” dengan “Aiid” itu dalam bahasa
Arab berbeda. Yad artinya tangan, sedangkan aiid artinya quwwah (kekuatan),
seperti pada ayat:
Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh
mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff: 14)
Maraji’:
Al Qawaa’idul Mutsla fi Asmaa’illahi wa shifaatihil ‘Ula karya Syaikh
Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
atsar ini juga sangat dha’if, disebutkan oleh Ibnu Qutaibah dalam Ghariibul
hadits (3/107/1) dari Ibrahim bin Yazid dari ‘Athaa’ dari Ibnu Abbas secara
mauquf, sepertinya lebih tampak mauquf, meskipun dalam sanadnya terdapat orang
yang sangat dha’if, karena Ibrahim ini, yakni Al Khauziy adalah seorang yang
matruk (ditinggalkan) sebagaimana dikatakan Ahmad dan Nasa’i. (Lihat Adh
Dha’iifah (1/ hal. 391) cet. Al Ma’aarif-Riyadh [Dari tahqiq Haaniy Al Haaj].
Isnadnya tidak mengapa, diriwayatkan oleh Ahmad (2/541), Thabrani dalam Musnad
Syaamiyin (2/183). Al Haafizh dalam Takhrij Al Kasysyaaf (4/541)
berkata, “Disebutkan oleh Thabrani dalam Al Awsath dan Musnad orang-orang
Syam dari jalan Jarir bin Utsman dari Syabib bin Rauh dari Abu
Hurairah…isnadnya tidak mengapa. Hadits ini juga memiliki syahid dari hadits
Salamah bin Nufail As Sukuuniy dalam Musnad Al Bazzar, Thabrani dalam Al
Kabir dan Baihaqi dalam Al Asmaa’. Dalam isnadnya terdapat Sulaiman
Al Afthas, Al Bazzar berkata, “Sesungguhnya ia tidak masyhur.” [Dari
Takhqiq Haaniy Al Haaj].







































