الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
aamiin.
banyak orang yang berselisih tentang di mana Allah. Di antara mereka ada yang
mengatakan, bahwa Allah ada di mana-mana, ada pula yang mengatakan, bahwa Allah
ada di hatinya, dan ada pula yang mengatakan bahwa Allah tidak di mana-mana.
Apakah semua pendapat ini benar, atau salah satunya yang benar, atau semua
pendapat itu salah, atau pendapat yang mana yang benar?
muslim ketika menghadapi setiap perselisihan adalah mengembalikan masalah
tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni kepada kitabullah dan sunnah
Rasul-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala,
Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya). Jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.”
(Terj. QS. An Nisaa’: 59)
kita akan temukan bahwa Dzat Allah Subhaanahu wa Ta’ala di atas seluruh
makhluk-Nya, Dia bersemayam di atas ‘arsyi(singgasana)-Nya.
di atas seluruh makhluk-Nya dan bahwa Dia bersemayam di atas Arsyi(singgasana)-Nya
makhluk-Nya sangat banyak, dan ada di dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’,
serta didukung oleh akal dan fitrah.
Baqarah: 255)
makhluk-Nya adalah surat Al An’aam: 18, Thaha: 5, Al Mulk: 16, Fathir: 10, Al
Ma’aarij : 4, Ali Imran: 55 dan lainnya.
tegas beberapa kali, bahwa Diri-Nya bersemayam di atas Arsy, dan arsyi adalah
makhluk yang paling tinggi yang menjadi atap seluruh makhluk. Dia berfirman:
‘Arsy.”
(Terj. QS. Thaha: 5)
A’raaf: 54, Yunus: 3, Ar Ra’d: 2, Al Furqan: 59, As Sajdah: 4, dan Al Hadid: 4.
diterangkan Ibnu Jarir Ath Thabari adalah “irtafa’a wa ‘ala”
(tinggi dan berada di atas).
(berada di atas arsyi-Nya).
“Aku mendengar lebih dari seorang mufassir berkata tentang, “Allah
Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsyi,” (Terj. QS. Thaahaa: 5),
yaitu berada di atas.
(menguasai), maka hal ini bentuk tahrif (penyelewengan makna), menyalahi zhahir
nash, menyalahi jalan yang ditempuh kaum salaf, tidak dikenal dalam bahasa
Arab, dan dapat menimbulkan kesan batil bahwa Arsyi sebelumnya bukan milik
Allah, kemudian Dia menguasainya.
وَالْكَيْفُ مَجْهُوْلٌ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ”
bagaimana hakikatnya majhul, beriman kepadanya wajib, dan menanyakan
bagaimananya adalah bid’ah.”
wa sallam dalam sujud,
sallam,
فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
di sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya, “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului
kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
(Allah) yang berada di atas langit.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan
Nasa’i)
seorang budak wanita yang hendak dimerdekakan,
فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَنْ أَنَا؟» قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، قَالَ: «أَعْتِقْهَا،
فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»
langit.” Lalu Beliau bertanya lagi, “Siapa saya?” Ia menjawab,
“Engkau Rasulullah.” Maka Beliau bersabda, “Merdekakanlah dia,
karena dia seorang mukminah.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
“alaa” (di atas) sebagaimana kata-kata, “Fii judzu’in nakhl,”
artinya, “di atas pelepah kurma.” (Lihat surat Thaahaa: 71)
Ta’ala di atas langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya.
langit setelahnya jaraknya perjalanan lima ratus tahun. Antara masing-masing
langit jaraknya lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi jaraknya
lima ratus tahun. Antara kursi dengan air jaraknya lima ratus tahun, dan arsyi
itu di atas air, sedangkan Allah di atas Arsy. Tidak samar bagi-Nya sedikit pun
amalan kalian.”
tabi’in berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’aala dzikruh di atas ‘Arsy dan kami mengimani
semua (sifat) yang disebutkan dalam As Sunnah.” (Atsar shahih,
diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Al Asmaa’ wash Shifaat (408), Adz
Dzahabiy dalam Mukhtashar Al ‘Uluw (hal. 138), Al Albani berkata,
“Para perawinya adalah imam-imam yang tsiqah.” Al Haafizh
menjayyidkan isnadnya dalam Al Fat-h, sedangkan Syaikhul Islam
menshahihkannya dalam Majmu’ Fatawa)
kami, bahwa Dia berada di atas langit; bersemayam di atas arsyi-Nya dan
terpisah dari makhluk-Nya.”
berkata, “Kaum muslim dari kalangan Ahlussunnah sepakat, bahwa Allah
bersemayam di atas arsyi-Nya dengan Dzat-Nya.”
bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas arsyi-Nya secara hakikat, bukan
majaz.”
Malik, ia berkata, “Allah di atas langit, dan ilmu-Nya di segenap
tempat.”
dan sifat-Nya merupakan hal yang sangat jelas dalilnya, dan orang yang yang
meyakini bahwa Dzat Allah ada di mana-mana, maka ia telah menyalahi Al Qur’an,
As Sunnah, dan ijma’.
sempurna dan dibersihkan dari sifat kekurangan. Sifat tinggi merupakan sifat
sempurna, sedangkan berada di bawah merupakan sifat kekurangan.
adalah karena tidak ada seorang pun yang berdoa atau menghadap kepada Allah
Ta’ala, kecuali dalam hatinya mengarah ke atas, tidak ke arah bawah, dan tidak
ke kanan maupun kiri. Bahkan ketika kita berdoa, maka kita angkat tangan kita
ke atas, bukan ke bawah.
Allah dengan makhluk-Nya
Thalamankiy berkata, “Kaum muslim dari kalangan Ahlussunnah sepakat, bahwa
maksud firman Allah, “Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian
berada.” (Terj. QS. Al Hadid: 4) dan yang semisalnya dalam Al Qur’an
adalah, bahwa itu adalah ilmu-Nya, dan bahwa Allah di atas langit dengan
Dzat-Nya dan bersemayam di atas arsyi-Nya sesuai yang Dia kehendaki.”
melihat kita, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun
‘alaihimas salaam,
لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku
mendengar dan melihat”. (Terj. QS. Thaaha: 46)
ma’iyyah (kebersamaan) Allah ada dua macam:
Ma’iyyah ‘Aammah, yakni yang mencakup
semua makhluk. Maksudnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersama semua makhluk-Nya
dengan ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan Dia meliputi semuanya, tidak ada yang samar
satu pun bagi-Nya serta tidak ada yang dapat meloloskan diri dari-Nya. Contoh
ma’iyyah ‘aammah adalah seperti yang tercantum dalam surat Al Hadid ayat 4 yang
telah disebutkan sebelumnya.
Ma’iyyah Khaashshah, yakni kebersamaan yang
khusus kepada rasul dan wali-wali-Nya. Maksudnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala
bersama para rasul dan wali-Nya dengan memberikan pertolongan, bantuan, taufiq
dsb. Contoh ma’iyyah khaashshah adalah yang tercantum dalam surat At Taubah
ayat 40. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu)
ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang
dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia
berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah
beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan
membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan
kalimat orang-orang kafir Itulah yang rendah. Dan kalimat Allah Itulah yang
tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Terj. QS. At Taubah:
40)
mengingkari Allah Subhaanahu wa Ta’ala di atas Arsyi-Nya
pernah berkata, “Pertama kali aku mendengar perkataan orang yang
mengingkari bahwa Allah di atas Arsyi-Nya adalah dari Ja’d bin Dirham. Ia juga
mengingkari semua sifat Allah. Lalu dia dibunuh oleh Khalid bin Abdullah Al
Qasriy, dan kisahnya cukup masyhur. Kemudian pernyataannya diambil oleh Jahm
bin Shafwan, seorang imam kaum Jahmiyyah, ia menampakkan pernyataan itu dan
menguatkannya dengan beberapa syubhat. Dan hal itu terjadi di akhir masa
tabi’in, hingga kemudian pernyataannya diingkari oleh para imam pada masa itu,
seperti Al Auza’iy, Abu Hanifah, Malik, Al Laits bin Sa’ad, Ats Tsauriy, Hammad
bin Zaid, Hammad bin Salamah, Ibnul Mubarak, dan para imam petunjuk
setelahnya.”
“Allah memiliki nama dan sifat yang tidak boleh bagi seorang pun
menolaknya. Barang siapa yang menyelisihi setelah jelas hujjah atasnya, maka ia
kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, maka ia diberi uzur karena
kebodohannya.”
a’lam, wa shallallahu ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ahlihi wa shahbihi wa sallam
Maraji’:
Al Qawaa’idul Mutsla fi Asmaa’illahi wa shifaatihil ‘Ula (Muhammad bin
Shalih Al ‘Utsaimin), Fathul Majid (Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh),
Ta’liq Mukhtashar ‘alaa Lum’atil I’tiqad (Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin).




































