Tidak Ada Istilah “Nganggur”
istilah “nganggur” dalam hidupnya. Mengapa demikian, bukankah di hadapannya ada
pekerjaan-pekerjaan yang menguntungkannya di dunia dan akhirat.
sekali pekerjaan yang bisa dilakukan. Ada
pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh hati, ada yang bisa dikerjakan oleh lisan
dan ada juga oleh anggota badan. Bahkan ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh
hati, lisan dan anggota badan secara bersamaan seperti shalat.
‘aqidah/keyakinan yang benar –tentunya dengan mempelajari ‘Aqidah Islam yang
benar-, berniat ikhlas, memiliki niat untuk mengerjakan amal saleh, meniatkan
perbuatan biasa untuk dapat menjalankan ibadah, dan adanya keinginan untuk
memberikan hal yang terbaik buat saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
salah seorang di antara kamu sampai ia menginginkan kebaikan didapatkan
saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan didapatkan oleh dirinya.” (HR.
Bukhari)
Qur’an dan mengajarkannya, berdzikr, memberikan nasehat, dsb.
adalah berbakti kepada kedua orang tua, membantu orang yang membutuhkan
bantuan, bersilaturrahmi, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan,
mencari rizki dengan cara yang halal dll.
ringan namun memiliki keutamaan yang besar, yaitu Dzikrullah.
وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيْرٍ
لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ
تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ
؟” قَالُوْا بَلَى .قَالَ : ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى
beritahukan amalan yang paling baik, paling suci di sisi Tuhan kalian, lebih
meninggikan derajat kalian dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak
serta lebih baik daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian pancung leher
mereka dan mereka pancung leher kalian?!” Para
sahabat menjawab, “Ya.” Beliau menjawab, “Dzikrullah.” (Shahih At
Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/316)
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
syari’at Islam begitu banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku amalan yang
mudah aku tekuni.” Beliau menjawab:
ذِكْرِ اللهِ
lisanmu basah karena menyebut nama Allah.” (Shahih At Tirmidzi 3/139 dan Shahih
Ibnu Majah 2/317)
خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ
اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ
dicintai Allah Ar Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu
Subhaanallahi wa bihamdih, subhaanallahil ‘azhiim (artinya ”Maha Suci Allah
sambil memuji-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
اَللَّهِ أَرْبَعٌ, لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اَللَّهِ,
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
empat, tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja, yaitu: Subhaanallah
wal hamdulillah wa laa ilaaha illallallah wallahu akbar.” (HR. Muslim)
kapan saja selama tidak bertepatan dengan Dzikr Muqayyad. Sedangkan Dzikr
Muqayyad adalah dzikr yang ditentukan kapan dibacanya, misalnya dzikr
setelah shalat, dzikr masuk atau keluar rumah, dzikr ketika makan dsb. Tidak
bisa Dzikr Mutlak ini dibaca pada Dzikr Muqayyad.
Dzikr ketika hendak tidur.
Allah, aku mati dan hidup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dzikr ketika bangun tidur.
أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
yang telah menghidupkan kami setelah kami mati dan kepada-Nyalah kami
dibangkitkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dzikr ketika memakai pakaian
وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
yang telah memakaikan aku pakaian ini dan mengaruniakanku tanpa jerih payah
dariku.” (HR. Para pemilik kitab Sunan selain Nasa’i, Irwaa’ul Ghalil 7/47)
Dzikr melepas pakaian.
bersabda:
وَضَعَ أَحَدُهُمْ ثَوْبَهُ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ
mata jin melihat aurat anak Adam adalah jika ketika melepaskan pakaiannya ia
mengucapkan “Bismillah.” (HR. Tirmidzi 2/505 dan lainnya, Irwaa’ul
Ghalil no. 49 dan Shahihul Jaami’ 3/203)
Doa masuk WC
kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Doa keluar WC
aku minta.” (HR. As-habus Sunan, selain Nasa’i, ia meriwayatkannya dalam Amalul Yaumnya)
Doa sebelum wudhu’.
wudhuuu’a…dst”, maka hal ini tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, di samping itu tempat niat adalah di hati.
Doa setelah wudhu’
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
berhak disembah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Muslim)
Doa keluar rumah.
إِلاَّ بِاللهِ
bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan
Allah.” (Shahih At Tirmidzi 3/151)
تَوَكَّلْنَا
masuk, dengan nama Allah kami keluar dan kepada Tuhan kamilah bertawakkal.”
(HR. Abu Dawud)
akan tetapi maknanya diperkuat oleh hadits shahih yang menerangkan bahwa setan tidak
akan masuk ke dalam rumah yang disebut nama Allah ketika seseorang memasukinya,
sehingga dapat diamalkan.
قَلْبِى نُورًا وَفِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى
بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُورًا وَمِنْ أَمَامِى نُورًا وَاجْعَلْ
مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا . اللَّهُمَّ أَعْطِنِى نُورًا »
dalam hatiku cahaya, di lisanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya, pada
penglihatanku cahaya, di belakangku cahaya, di depanku cahaya. Jadikanlah di
atasku cahaya, di bawahku cahaya. Ya Allah, berikanlah aku cahaya.” (HR. Muslim)
untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR. Muslim)
aku meminta kepada-Mu sebagian karunia-Mu.” (HR. Muslim)
bersabda:
النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
mendengar azan, maka ucapkanlah kata-kata yang sama dengan yang diucapkan muazin.”
(HR. Muslim)
Hayya ‘alal falaah”, yang kita ucapkan adalah “Laa haula wa laa quwwata
illaa billah” berdasarkan riwayat Muslim juga.
Muslim bahwa orang yang mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang diucapkan
muazin dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga.
dianjurkan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya mengucapkan
“Allahumma shalli wa sallim ‘alaa nabiyyinaa Muhammad” atau bershalawat
secara sempurna seperti shalawat dalam shalat setelah tasyahhud. Setelah itu
orang yang mendengar adzan dianjurkan mengucapkan:
الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا
مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
tukhliful mii’aad” menurut Syaikh Masyhur Hasan Salman adalah syaadz)
yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا
مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
kursiy dan membaca surat-surat mu’awwidzat (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas),
lih. Hisnul Muslim karya Sa’id Al Qahthaniy.
shalat Subuh –setelah membaca dzikr setelah shalat- sampai terbit matahari.
Sedangkan dzikr petang waktunya dari setelah shalat ‘Ashar sampai tenggelam
matahari. Adapun dzikr pagi-petang di antaranya adalah:
Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas, masing-masing 3 x (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi).
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا
عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ
مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوْءُ
بِذَنْبِى ، فَاغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
(البخاري)
“اَمْسَيْنَا”)عَلىَ فِطْرَةِ الْإِسْلاَمِ وَكَلِمَةِ الْإِخْلاَصِ،
وَدِيْنِ نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلَّةِ
أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
(صحيح الجامع 4: 209)
وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
3x (رواه مسلم)
bersabda:
فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
di antara kamu makan, maka ucapkanlah “Bismillah” (tanpa tambahan Ar Rahmaanir
rahiim-pent). Jika lupa, maka ucapkanlah “Bismillah fii awwalihi wa aakhirih.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
أَطْعَمَنِيْ هَذَا، وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
yang telah memberiku makanan ini dan mengaruniakanku tanpa jerih payah dariku.”
(HR. Pemilik kitab Sunan selain Nasa’i)
wa saqaanaa wa ja’alanaa minal muslimin” Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
isnadnya dha’if (lih. Tahqiq Al Kalimith Thayyib oleh Syaikh Al Albani).
Maraji’: Hisnul Muslim, Al Qaulul Mubiin dll








































