‘Aqidah Islam (3)
Beriman Kepada Malaikat, Kitab dan Para Nabi
أسمائهم وصفاتهم وأعمالهم بحسب علم المكلف
ما قبله طرأ عليه التحريف وأنه لذلك يجب اتباعه دون ما سبقه.
سواهم من البشر ومن زعم غير ذلك فقد كفر. وما صح فيه الدليل بعينه منهم وجب
الإيمان به معينا ويجب الإيمان بسائرهم أجمالا وأن محمدا صلى الله عليه وسلم
أفضلهم واخرهم و أن الله أرسله للناس جميعا
الأنبياء والمرسلين, ومن اعتقد خلاف ذلك كفر
Beriman kepada para
malaikat yang mulia secara ijmal (garis besar). Adapun secara tafshil (rinci),
maka berdasarkan dalil yang shahih yang menerangkan nama, sifat dan tugas
mereka sesuai pengetahuan yang dimiliki oleh seorang mukllaf (orang yang sudah
baligh).
Beriman kepada semua kitab
yang diturunkan, dan bahwa Al Qur’anul karim adalah kitab yang paling utama
serta menaskh (menghapus) kitab-kitab sebelumnya, dan bawa kitab-kitab
sebelumnya telah dimasuki oleh tahrif (perobahan). Oleh karena itu, yang wajib
kita ikuti adalah kitab Al Qur’an saja, tidak kitab-kitab sebelumnya..
Beriman kepada para
nabi Allah dan para rasul-Nya –semoga shalawat Allah dan salam-Nya terlimpah
kepada mereka-, dan bahwa mereka lebih utama dari semua manusia.
Barangsiapa yang meyakini selain itu, maka dia kafir. Dalil shahih yang
menyebutkan secara rinci tentang salah seorang di antara mereka, juga wajib
diimani secara rinci pula. Kita juga wajib beriman kepada semua rasul secara
ijmal (garis besar), dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
yang paling utama dan terakhir (tidak ada lagi nabi setelahnya) di antara
mereka. Allah telah mengutusnya kepada semua manusia.
Beriman bahwa wahyu
telah terputus setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa
Beliau adalah penutup para nabi dan rasul. Barang siapa yang meyakini selain ini,
maka dia kafir. (Mujmal Ushul Ahlissunah karya Dr. Nashir Al ‘Aql)
yang senantiasa beribadah kepada Allah. Mereka tidak memiliki sifat-sifat
ketuhanan dan tidak berhak disembah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menciptakan
mereka dari cahaya dan mengaruniakan kepada mereka sikap selalu tunduk kepada
perintah-Nya serta diberikan kesanggupan untuk menjalankan perintah-Nya.
tidak ada yang dapat menghitungnya selain Allah. Dalam hadits tentang
Israa’-Mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ
يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا
عَلَيْهِمْ
kepada Jibril (tentangnya), maka ia menjawab, “Ini adalah Al Baitul Ma’mur. Setiap
hari, 70.000 malaikat shalat di situ, setelah keluar mereka tidak kembali lagi
sebagai kewajiban terakhir mereka.” (HR. Bukhari)
adalah mengimani wujud mereka, mengimani mereka baik secara ijmal maupun
tafshil.
malaikat dalam jumlah banyak yang
senantiasa beribadah kepada Allah, selalu tunduk kepada perintah-Nya dan mampu
menjalankannya. Adapun secara tafshil sebagaimana telah diterangkan
di atas, yaitu mengimani semua dalil yang menerangkan lebih rinci tentang
malaikat seperti menerangkan namanya, sifatnya, tugasnya dsb sesuai tingkatan ilmu
yang diperoleh oleh mukallaf (setiap muslim yang sudah baligh). Contoh tentang
namanya adalah malaikat Jibril, Mikail, Israfil< Munkar, Nakir, Malik dsb.
Contoh tentang sifatnya adalah sifat malaikat Jibril. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah melihatnya dalam wujud aslinya, di mana ia memiliki
600 sayap (HR. Bukhari), masing-masing sayap menutupi ufuk (HR. Ahmad).
Sedangkan contoh tugas mereka adalah sbb:
menyampaikan wahyu.
mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.
meniup sangkakala.
nyawa.
surga dan neraka.
ruh pada janin dan mencatat rizki, ajal, amal dan apakah ia sebagai orang yang
celaka atau bahagia.
menjaga dan menulis amal perbuatan manusia. Setiap manusia dijaga oleh dua
malaikat, yang satu berada di sebelah kanan, dan yang satu lagi berada di
sebelah kiri.
menanyakan mayit di dalam kuburnya. Seorang mayit akan ditanya tentang
Tuhannya, agamanya dan nabinya.
kitab-kitab-Nya kepada para rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah bagi manusia
agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kitab-kitab tersebut
adalah firman Allah yang diwahyukan
kepada para rasul-Nya agar mereka menyampaikan kepada manusia syari’at-Nya. Firman Allah bukanlah makhluk karena firman termasuk
sifat-sifat-Nya sedangkan sifat-sifat-Nya bukanlah makhluk.
kepada kitab-kitab Allah adalah:
turun dari sisi Allah.
tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar). Secara tafshil
maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan
tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci seperti namanya adalah kitab
ini dan diberikan kepada nabi yang bernama ini dsb. Sedangkan secara ijmal
maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya
meskipun tidak disebutkan namanya.
kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti berita Al Qur’an dan
berita kitab-kitab yang belum dirubah.
karena kitab-kitab selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al
Qur’an yang dijaga kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Sedangkan
kitab-kitab selain Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh
tangan-tangan manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau
dihilangkan sehingga tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah
berfirman,
merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (Terj. An Nisaa’: 46)
hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai
dengan sikap ridha dan menerima, baik kita memahami hikmahnya maupun tidak.
Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab sebelumnya sudah mansukh
(dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya Al Qur’an saja atau
hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.
berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak
diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.”
wahyu dengan membawa syari’at yang baru, sedangkan nabi adalah orang yang
diutus dengan membawa syari’at rasul yang datang sebelumnya.
rasul adalah manusia, mereka tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah
(mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta), mereka tidak mengetahui yang
ghaib, dan tidak mampu mendatangkan manfaat atau pun menolak madharrat
(bahaya). Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyuruh Nabi-Nya Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam –di mana Beliau adalah pemimpin para rasul dan rasul yang
paling tinggi kedudukannya- untuk mengatakan:
menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak pula menolak kemadharratan kecuali
yang diikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku
banyak memperoleh kemanfa’atan dan sedikit pun aku tidak ditimpa kemadharratan.
Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman.” (Al A’raaf : 188)
rasul adalah:
bahwa risalah mereka benar-benar dari sisi Allah. Oleh karena itu, siapa saja
yang kafir kepada salah seorang rasul, maka sama saja telah kafir kepada semua
rasul.
para rasul baik secara imal maupun tafshil. Secara ijmal (garis besar)
maksudnya kita mengimani bahwa Allah Allah telah mengutus kepada setiap umat
seorang rasul untuk mengajak manusia beribadah kepada-Nya meskipun tidak
diberitahukan kepada kita nama dan kisahnya. Adapun secara tafshil adalah
mengimani rasul yang telah diberitahukan kepada kita nama dan kisahnya.
shahih.
diutus kepada kita. Rasul yang diutus kepada kita adalah Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
para rasul lebih utama dari seluruh manusia, bahkan lebih utama daripada para
wali tidak seperti yang disangka oleh sebagian kaum Shufi yang mengatakan bahwa
wali lebih utama daripada nabi. Bahkan yang benar adalah Rasul lebih utama
daripada nabi, dan nabi lebih utama daripada wali. Demikian juga kita wajib
beriman bahwa wahyu telah terputus setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Oleh karena itu, tidak ada lagi wahyu kepada seseorang pun setelahnya
untuk menjadi nabi dan rasul. Beliau adalah penutup para nabi dan tidak ada
lagi nabi setelahnya. Orang yang mengaku bahwa masih ada lagi nabi setelah Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang kafir.
berfirman:
seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup
nabi-nabi. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzaab: 40)
وَأَنَا الْمَاحِى الَّذِى يَمْحُو اللَّهُ بِى الْكُفْرَ ، وَأَنَا الْحَاشِرُ
الَّذِى يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِى ، وَأَنَا الْعَاقِبُ » .
Maahiy, di mana Allah menghapuskan kekafiran denganku, aku Al Haasyir, di mana
manusia akan dikumpulkan di hadapanku dan aku adalah al ‘Aqib (penutup para
nabi).” (HR. Bukhari)
juga bersabda:
سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُوْنَ ثَلاَثُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ
نَبِيٌّ وَاَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ
jumlahnya tiga puluh. Mereka semua mengaku nabi, padahal aku adalah penutup
para nabi, tidak ada lagi nabi setelahku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu
Majah dengan sanad yang shahih, lihat Ash Shahiihah (IV/252) oleh Syaikh Al
Albani).
Abdul Karim Al ‘Aql), Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Ust. Yazid bin
Abdul Qadir Jawas), dll.






































