
Yeay, aku selesai dengan kecepatan “agak” mengerikan! Yah, walau aku mengakui, aku skip episode 1-3 dan aku juga skip separuh awal episode 13, tetapi sisanya aku melihat semua. Dan aku menghitungnya sebagai berhasil menyelesaikan. Ohoho. Aku selesaikan lakorn ini dari tanggal 10 Nov’18 (Sabtu) sampai hari ini jam 1 pagi (14 Nov’18). Lakorn ini sudah pernah aku bahas sinopsisnya di sini. Kali ini aku hanya akan menyelesaikan review ini mumpung masih segar di ingatan, aku juga akan membahas keunggulan dari lakorn ini.
Secara overall, inilah keunggulan lakorn ini yang membuat aku menikmati setiap menit waktu yang aku gunakan untuk menontonnya:
- Sejarah Thailand

Sejak dulu aku selalu suka dengan sejarah. Semakin tebal, semakin detil, semakin lengkap, justru semakin bagus buat disimak. Tidak peduli apakah sejarah itu melibatkan perang, intrik atau apa pun. Aku juga tidak pandang apakah sejarah itu adalah sejarah Indonesia, atau luar, selama mereka sejarah, aku suka. Itulah yang membuat aku menikmati waktuku melihat lakorn ini. Karena setting sejarahnya! 😍 Aku tahu Thailand berbentuk kerajaan, tetapi hanya sebatas itu saja. Sejarah negara di luar Indonesia tidak dibahas dalam kurikulum sekolah, dan membutuhkan waktu (serta ketertarikan) untuk mulai mencari tahu sejarah di luar kurikulum. Setiap kali aku mengenal satu kisah period drama/lakorn, aku selalu menemukan ketertarikan (sejarah) itu, dan mencari tahu. Bikin puas!
Meski tidak lengkap (karena jelas bukan sejarah fokus utama dari lakorn ini), tetapi sejarah yang disuguhkan sudah cukup untuk menarik dan kalau mau lebih lengkap, bisa mencari tahu sendiri di luar lakorn. Yah, hati-hati spoiler saja ya. 😅
- Sismance

Istilah ini berarti Sister Romance, kalau Bromance sudah sering didengar, dan cukup banyak juga kisah yang mengangkat tentang itu, yang satu ini rupanya cukup menyenangkan buat dilihat. Kenapa? Karena biasanya drama/lakorn, selalu menyuguhkan kisah di mana para wanitanya cakar-cakaran, untuk menyelesaikan masalah (pria, biasanya). Cakar-cakarannya pun bisa inplisit maupun eksplisit. Bisa menyenangkan (seru) tapi juga bisa bikin eneg saat disaksikan. 😅
Lakorn ini tidak. Alih-alih cakar-cakaran, hubungan yang dibahas antara para wanitanya justru manis dan adem. Hubungan yang paling aku suka justru antara Mae Karakade (setelah Kadesurang berada di tubuhnya) dengan para pelayannya. Bagaimana mereka saling melindungi menghadapi setiap masalah, dan wajah mereka saat melihat hubungan Karakade membaik dengan Por Date juga menggemaskan! Bisa bikin ikutan senyum. 😊
- Perjalanan waktu (time travel)

Aku tidak tahu denganmu, tetapi kisah yang mengangkat time travel sudah cukup banyak. Mayoritas, yang drama akan berakhir menyedihkan, sad ending. Sementara yang novel, belum bisa aku berikan pendapat karena semuanya belum selesai aku baca. Sebagian belum tamat pula. 😅 Tetapi lakorn ini berbeda, dia memberikan kisah yang berakhir dengan manis (more or less), dan bisa membuatmu tersenyum hingga menit terakhirnya.
Kalau drama lainnya, yang membahas time travel, tidak pernah membahas time gap si tokoh, lakorn ini membahas. Cara pembahasannya dibahas dengan cara yang kocak dan mengundang tawa. Yah, kita pikirkan secara simpel saja. Segalanya serbamudah di era modern, bahkan toilet sederhana saja sudah mudah, bagaimana di masa lalu? Tentu berkebalikannya, bukan? Namun bukannya dibahas dengan cara serius, justru isu ini dibahas dengan cara yang ringan.
Namun, penjelasan mengenai banyak hal yang ditanyakan oleh para tokoh lain kepada tokoh utama, tidak ditanyakan dengan keukeuh. Cenderung sekelibat saja. Bahkan banyak yang justru mengabaikan saja setiap kali dia berbicara bahasa modern, yang sering dan bertebaran di mana-mana. Menurut logikaku, bisa saja Karakade mengalami kemalangan kalau rahasianya sebagai time traveller diketahui oleh orang lain. Dia beruntung tidak mengalaminya, dan orang di sekitarnya tidak menganggap cara berpikirnya yang aneh itu ketidakwajaran.
- OST, setting lokasi dan pakaian

Aku suka dengan iringan lagu, baik instrumen atau OST-nya. Rasanya pas saja di setiap adegan. Belum lagi kalau digunakan untuk mengiringi tingkah polah kocak dari Mae Karakade, Por Date yang lain. Jadi selain kata-kata yang kocak, iringan lagunya juga bernuansa komedi. Sekarang aku tidak bisa berhenti mendengarkan OST-nya.
Setting lokasi, beberapa memang menggunakan CGI, terutama untuk bangunan-bangunannya, tetapi yang benar-benar ada bangunannya, taste-nya sejarah banget! 😍 Bukan hanya bangunan dan lokasi, pakaian/outfit yang digunakan bikin terasa setting kerajaan kuno-nya.
- Chemistry

Mayoritas chemistry lakorn dari Channel 3 biasanya aku suka, tetapi khusus pairing yang satu ini aku lebih suka daripada yang lainnya. Rasanya menyenangkan bisa melihat mereka berperan bersama. Bahkan tanpa perlu berbicara pun, mereka berdua sudah bisa menyampaikan banyak hal dengan tatapan mata mereka. Aku tidak yakin apakah aktor/aktris lain bisa memerankan peran Mae Karakade dan Por Date sebaik Ranee Campen dan Thanawat Wattanaputi.
Wajar sajalah kalau lakorn ini diterima dengan baik oleh masyarakat, dan akhirnya diputuskan dibuat sequelnya. Sayangnya, kita harus banyak bersabar, sequel paling cepat baru akan tayang di 2020, mari kita menunggu dengan manis. ETA (04/11/21). Sekuelnya Prom Likit melakukan boot ceremony hari ini. Kemungkinan tayang bisa jadi 2022. 🙏
Kekurangan dari lakorn ini, akan aku bahas di bawah:
Ada beberapa informasi (sejarah) yang tidak sama dengan catatan sejarah yang terjadi. Tentu ini perlu disingkapi dengan lebih bijak. Sebagai penikmat lakorn dari luar Thailand, mungkin kita tidak akan sadar hal ini, tetapi kalau kamu penikmat dan pemerhati sejarah, ada beberapa hal yang tidak sinkron. Ini kembali kepada tujuan semula dari lakorn ini. Kita bisa menganggap kisah ini adalah fiksi, yang kebetulan beberapa tokohnya adalah tokoh nyata. Jika kita berpendapat seperti ini, jadi kalau ada yang tidak sinkron tidak menjadi masalah.
Masalah utama yang juga aku alami sendiri, ada beberapa fakta sejarah yang membuat bingung dan butuh konsentrasi tinggi. Buat yang tidak suka, ini akan membosankan dan bikin pengen di-skip saja. Yang juga aku lakukan di beberapa bagian. Karena rasanya ingin menyaksikan langsung kisah kedua tokoh utamanya dan mengabaikan semua pairing pendukung. Hahaha. Ini hanya di aku saja, semoga kamu tidak mengalaminya.
Bagiku, seseorang yang tahu banyak hal, bisa saja diinterogasi karena tingkahnya yang aneh, seringkali Mae Karakade lolos dari semua pertanyaan itu karena keluarga barunya hanya menganggap dia berubah menjadi aneh, yang menurutku pun itu juga aneh. Masa iya mereka tidak penasaran sama sekali? Ini akan terjawab di bagian akhir, tetapi tetap saja tidak mengubah pandangan aneh dariku.
Karena ini diangkat dari novel, tentu saja pasti ada perbedaan antara versi novel dengan versi lakorn, sama seperti yang dialami oleh semua drama yang diangkat dari novel. Ada penikmat yang menyukai melihat dua versi, tetapi pasti banyak yang terlalu setia dengan versi novel dan tidak suka dengan versi drama. Aku, sebagai seseorang yang melihat hanya versi drama, tidak merasa terganggu dengan ini, tetapi menurut yang sudah pada baca, mereka membandingkan keduanya.
Terlepas dari semua keunggulan dan kekurangannya, aku tetap suka dengan lakorn ini. Semua detil informasi, pakaian dan settingnya menyenangkan untuk dinikmati. I love it! Aku juga mendapatkan informasi bahwa lakorn ini akan dibuat sequel, yang akan aku bahas di update berikutnya. Untuk review ini akan aku tuntaskan di sini, dan aku tutup dengan link MV dari OST-nya.
- บุพเพสันนิวาส / Bhuppae Sunniwat (Love Destiny) oleh Ice Sarunyu Winaipanit (Opening Theme)
- เพียงสบตา / Piang Sobta (Just Eye contact) oleh Lydia Sarunrat Visutthithada (Ending Theme)
- ออเจ้าเอย / Or Jao Oei (You or Oh My Dear) oleh Pete Pol
- เธอหนอเธอ / Tur Nor Tur ( You Oh You) oleh Nan Watiya
- ออเจ้าเอย / Or Jao Oei (You or Oh My Dear) oleh Pope Thanawat Wattanaputi (Special Version)
- เธอหนอเธอ / Tur Nor Tur (You Oh You) oleh Bella Vanita (Special Version)

Season I Part I | Part II | Part III
Season II Part I | Part II





