ketagihan untuk marah. Sehari saja ia tidak marah, mungkin akan muncul sariawan
di mulutnya. Jadi jangan heran jika suatu hari kau bertandang atau tidak
sengaja masuk ke ruang kantor kami dan menemukan bosku sedang marah-marah.
Memang begitulah dia.
satu divisi di kantor ini, sudah hafal dengan sifat bos kami. Setiap hari kami
mencoba berbuat sebaik mungkin, tapi selalu saja ada kesalahan yang terlihat
oleh bos dan membuatnya marah. Awalnya kami benar-benar mengira bahwa kami
berdua adalah orang bodoh yang tidak pernah bekerja dengan becus. Namun,
lama-lama kami tahu bahwa tidak demikian adanya. Masalahnya bukan pada kami,
tapi dia.
tampak sedikit lebih tenang. Kami bahkan juga sadar bahwa lebih baik jika dia
marah pagi-pagi. Sebab dengan begitu, ia tidak akan marah lagi sampai jam
pulang. Tapi, jika dia belum marah sampai menjelang pulang, maka
berhati-hatilah. Ia akan mencaci-maki antara sepuluh sampai lima belas menit
sebelum pulang. Tentu itu akan jadi penutup yang buruk untuk sebuah hari kerja.
mendapatkan perintah dari bosnya. Ia disuruh untuk membuat laporan kemajuan
program divisi kami. Dan bosku itu dengan santainya menunjuk aku dengan
telunjuk yang mengarah tepat ke hidungku dan berkata, “Kau saja yang kerjakan.
Aku sudah capek. Aku sudah terlalu tua. Kau yang masih muda yang
mengerjakannya.”
Selalu. Sebenarnya aku sudah teramat sungguh sangat benar-benar muak sekali
dengan kalimat-kalimat andalannya itu.
kemajuan program divisi dibuat olehku. Lalu apa tugas dia sebagai ketua divisi?
Aku melirik pada Fajri. Menggelengkan kepala melihat kelakuan sang bos.
kemudian. Tanpa mengubah ekspresi.
juga pelupa. Mungkin karena benar dia sudah tua. Dua tahun lagi pensiun.
Masalahnya, sering kali ia jadi marah dan menyalahkan orang lain karena
kelupaannya sendiri.
minta?”
bingung.
minta.”
keuangan bulan ini.”
Bapak tadi.”
tidak pegang berkasnya. Paling sudah kamu ambil lagi. Mana?”
menahan emosi.
seingat saya yang terakhir pegang berkas itu memang Bapak,” Fajri menyela.
Tampaknya ia ikut kesal.
ingat pernah memegangnya. Dengar tidak? Tidak ada. TIDAK ADA,” nada bos
meninggi.
Fajri menjawab.
Sekarang. Kerja itu jangan ditunda-tunda. Kalau nanti terus, kapan mau buatnya?
Sekarang.”
bos kami itu kembali ke kursi kekuasaannya. Membuka gawai dan membaca gosip-gosip
terkini tentang artis nusantara. Meskipun dongkol, aku sedikit merasa lega
karena hari ini bos sudah marah. Temperamennya akan jadi sedikit lebih baik di
sisa jam kerja. Sepertinya Fajri berpikiran tak beda denganku.
setelah jam kerja selesai dan bos pulang, aku membereskan ruangan seadanya. Tak
sengaja kulihat di meja bos ada dua rangkap laporan keuangan bulan ini.
keesokan harinya laporan kemajuan program divisi kami pun rampung. Aku berjalan
menuju meja bos. Menyerahkan tumpukan kertas yang telah terjilid rapi itu. Bos
kami meletakkan gawainya di meja dan mengalihkan pandangan ke arah barang yang
kubawa.
ditunggunya paling lambat hari ini juga. Jam 3. Begitu tadi katanya,” ujar
bosku.
tanganku, setengah jam lagi menuju jam 3. Aku benar-benar kesal melihat tingkah
bosku ini. Tapi kulakukan juga apa yang ia perintahkan. Bagaimanapun, ia masih
bosku. Menjelang keluar dari ruangan, Fajri memberi isyarat yang berarti, “Hari
ini bos belum marah.”
harus menyelesaikan tugas yang diberikan ini dengan baik, sebab jika tidak, bos
akan mendapatkan alasan untuk marah.
menuju ruangan bosnya bosku, aku terus-menerus mengingat-ingat Tuhan dan
memohon agar diberikan kesabaran menghadapi semua ini. Saat sampai, sekretaris
bosnya bosku mengatakan bahwa yang aku cari sedang rapat mendadak dengan dewan
direksi. Rapatnya mungkin akan berlangsung lama.
berpikir. Jika aku kembali ke ruanganku dan bos tahu bahwa ‘tanggung jawabku’
ini belum terlaksana, tentu ia akan mengamuk. Jadi, aku putuskan untuk menunggu
saja bosnya bosku itu selesai rapat.
menit, rapat itu selesai. Bosnya bosku keluar ruangan. Aku menghampiri, tapi
dia, dengan sangat sopan, memintaku untuk menunggu sebentar lagi sebab ia harus
ke toilet barang dua atau tiga menit. Tentu saja aku mengangguk.
di dalam toilet itulah, bosku datang.
belum laporan itu? Kenapa lama sekali, hah?”
menjawab, ia melihat bahwa aku masih memegang berkas yang dimaksud. Kontan saja
wajahnya memerah. Berkas di tanganku itu diambilnya secara paksa. Dengan nada
tinggi ia berujar lantang, “Yang begitu saja tidak becus. Apa guna kau kerja di
sini, hah? Bekerja kok tidak tuntas!”
di hadapan semua dewan direksi lain yang baru keluar dari ruang rapat, dan
tentu saja di hadapan bosnya bosku yang baru keluar dari toilet. Setelah
mendengar itu, semua orang menatapku.
hari ini?” tanya Fajri.
kepala. Belum. Sekarang jam kantor tinggal sebentar lagi. Bos sedang ke toilet.
Seperti yang sudah kukatakan. Berdasarkan pengalaman, jika sampai jam segini
bos kami belum marah, ia akan mencari-cari alasan sekecil apapun untuk
dijadikan bahan amuk. Maka kami pun mengecek hal-hal apa saja yang mungkin akan
jadi alasannya untuk marah. Tidak ketemu.
tahu apa yang mungkin membuatnya marah, maka tidak ada yang bisa kami lakukan
untuk mencegahnya, atau paling tidak mengurangi kadar marahnya itu.
itu, bos kami keluar dari toilet. Berjalan menuju kursi kekuasaannya. Matanya
menyusuri ruangan, senti demi senti. Aku dan Fajri menahan napas.
ia memulai.
serentak.
betul-betul? Tidak ada kesalahan rekap?”
hasil kerja kami masing-masing yang sudah terbaring indah di atas mejanya. Ia
membukanya. Membaca sepintas. Tampak sekali mencari-cari celah kesalahan. Tapi
sepertinya tidak ketemu. Ia mulai gelisah. Ingin segera menemukan alasan untuk
marah.
sekali lagi ke seluruh sudut ruangan. Memperhatikan mili demi mili. Namun,
sepertinya tetap tidak ketemu. Karena memang semua sudah kami kerjakan dengan
sebaik mungkin. Kegelisahan bos kami semakin terlihat. Ia sudah benar-benar
ingin marah, tapi belum menemukan alasan.
sangka, ia menunjuk dua rangkap laporan keuangan bulanan yang ada di atas
mejanya.
keuangan bulanan ini bisa ada dua rangkap, hah?”
saja. Ini pemborosan. Buang-buang uang.”
minta,” jawabku akhirnya.
nadanya meninggi.
menyela, “Waktu itu laporan sudah dibuat, tapi Bapak bilang tidak ada. Lalu
Bapak minta dibuatkan satu rangkap lagi. Makanya sekarang ada dua rangkap
laporan bulanan.”
memerah, “Jangan mengada-ada kau, ya!”
mengada-ada, Pak.”
pelupa? Apa buktinya, hah?” bos kami meledak.
mengeluarkan gawainya. Memutar rekaman suara dari kejadian beberapa hari lalu.
Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa Fajri begitu nekat merekam
adegan itu di telepon selulernya.
itu, mulut bos kami mengatup. Wajahnya benar-benar merah kali ini. Gerahamnya
bergemelutuk. Tangannya gemetar. Matanya menatap nyalang. Ia muntab, tapi tak
bisa menyalahkan kami sebab sekarang ada bukti kuat bahwa kami tidak bersalah. Aku
menahan napas untuk menutupi rasa takut.
Apalagi yang mau kau katakan, hah? Mau marah dengan siapa lagi kau kali ini?
Kerjamu yang tak becus, dan kau mau menyalahkan orang lain?”
tapi belum sempat berkata apa-apa, bos kami telah melanjutkan.
lupa,” tangannya menggampar meja. “Kau pikir orang lain tak tahu, hah? Kau tua
dan tak tahu diri. Hanya mengandalkan jabatan yang tak seberapa.”
kotor yang tidak pantas untuk dituliskan di sini berhamburan keluar dari
mulutnya. Belum pernah kami saksikan dia semarah itu. Napasnya megap-megap.
yang paling lama yang pernah kami saksikan. Setengah jam ia mengumpati diri sendiri
tanpa henti. Tapi, setelah setengah jam itu ia tampak puas. Benar-benar puas.
Lalu tersenyum.
mengernyitkan dahi. Pulang dalam bingung.
2017

































![Koisuru Keigo 24 Ji (2024) Episode 01-09 Subtitle Indonesia [TAMAT] + [BATCH]](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/02/SaveTwitterNet_GA4HaqraYAAZeE7.jpg?fit=456%2C322&ssl=1)


