HUSNUZHAN HARUS DENGAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI MAKSIAT
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Secara
bahasa, husnudzan berasal dari dua kata yakni husnu dan dzan. Husnu artinya baik,
dan dzan artinya prasangka. Jadi husnudzan artinya berbaik
sangka. Berbaik sangka ini berlaku dalam hubungan dengan sesama manusia.
Namun demikian YANG PALING UTAMA adalah husnuzhon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sang Maha
Pencipta. Mengapa penting berbaik sangka pada Allah Ta’ala ?, karena Allah
Ta’ala adalah tempat kita dan semua makhluk menggantungkan diri dan berharap
segala kebaikan.
Berbaik
sangka pada Allah Ta’ala artinya selalu menyadari bahkwa ketetapan yang kita
terima dari Allah Ta’ala adalah ketetapan terbaik yang sudah
Dia pilihkan. Berprasangka baik pada Allah Ta’ala juga sangat penting
untuk perjalanan hidup manusia. Sungguh, Allah Ta’ala akan melakukan segala
sesuatu sesuai prasangka kita kepada-Nya. Jika kita selalu berprasangka baik
pada Allah, maka kita akan selalu menerima kebaikan begitu pula sebaliknya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي
Sesungguhnya Allah berfirman :
Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan
baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya. (H.R Imam Muslim)
Ketahuilah
bahwa husnuzhan atau berbaik sangka adalah satu keyakinan yang mendatangkan
pengaruh nyata pada diri seorang hamba. Diantaranya pengaruhnya adalah meyakini bahwa Allah merahmati semua hamba-Nya
dan memaafkan mereka jika mereka bertaubat dan kembali kepada-Nya. Allah akan
menerima amal ketaatan dan ibadah mereka. Serta meyakini pula bahwa Allah mempunyai hikmah yang sempurna dalam segala
sesuatu yang Dia takdirkan dan Dia tetapkan.
Sungguh
sangat penting untuk dipahami bahwa husnuzhan kepada Allah Ta’ala bukan sekedar
perasaan atau ucapan belaka. Husnuzhan hanya bermanfaat jika diikuti dengan amalan amalan shalih. Husnuzhan
tidaklah akan tegak pada diri seseorang dia meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan
maksiat.
Al Imam Hasan
al Bashri berkata : Sesungguhnya seorang mukmin selalu husnudzan
kepada Rabb-nya lalu ia memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa
berprasangka buruk kepada Rabb-nya sehingga ia berbuat yang buruk.
(Kitab Az Zuhud, Imam Ahmad).
Syaikh Shalih
al-Fauzan berkata : Berhusnuzhan kepada Allah harus disertai dengan
meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Jika tidak, itu termasuk (sikap) merasa
aman dari adzab Allah. Oleh sebab itu, husnudzan kepada Allah harus disertai
melaksanakan sebab-sebab kebaikan yang jelas dan mejauhi semua sebab yang
menghantarkan kepada keburukan.
Ini merupakan
pengharapan yang terpuji. Adapun husnudzan kepada Allah dengan meninggalkan
kewajiban dan menerjang keharaman, maka
ini pengharapan yang tercela dan termasuk bentuk merasa aman dari adzab Allah.
(Al Muntaqa’ min Fatawa al Syaikh al Fauzan).
Oleh karena itu seorang hamba haruslah mengiringi husnuzhannya kepada Allah Ta’ala dengan melakukan amal shalih dan menjauhi perbuatan maksiat.
Insya Allah
ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.123)










