Azwir B. Chaniago
zaman Nabi Ibrahim (awalnya), seluruh manusia yang ada di bumi ini kafir
semuanya. Kecuali Nabi Ibrahim, istrinya dan Nabi Luth keponakan Nabi Ibrahim.
Ta’ala untuk menjauhkan berbagai kejahatan dan kesesatan. Lalu Allah memberi
hidayah kebenaran kepadanya . Allah berfirman : “Wa laqad aatainaa ibrahiima rusydahuu min qablu wa kunnaa bihii
‘aalimiin”. Dan sungguh sebelum dia (Musa dan harun) telah Kami berikan
kepada Ibrahim petunjuk dan Kami telah mengetahui dia. (Q.S al Anbiyaa’ 51).
oleh Nabi Ibrahim adalah bapaknya, yaitu seorang penyembah berhala dan
dakwahnya ditolak oleh bapaknya. Lalu Ibrahim berdakwah kepada kaumnya
sebagaimana Allah berfirman : “Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata
kepada kaummnya : Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian iu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Sesungguhnya yang kamu sembah selain
Allah hanyalah berhala berhala dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa
yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu. Maka
mintalah rizki dari Allah. Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya
kepada-Nya kamu akan dikembalikan”. (Q.S al Ankabut 16-17). Lihat Qishashul
Anbiyaa’.
yang kokoh dan bersikap tegas terhadap
kesyirikan. Sungguh Nabi Ibrahim adalah contoh tauladan yang baik dalam hal ini
dan juga contoh tauladan terbaik dalam ketundukan dan ketaatan serta tawakalnya
kepada Allah Ta’ala.
mejalani ketika menghadapi berbagai perintah Allah Ta’ala yang sangat berat untuk dijalankan.
Diantaranya adalah :
dalam Kitab Shahihnya : Kemudian Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan
anaknya Ismail menuju Makkah. Ketika itu Hajar masih menyusui Ismail.
keduanya ditempat yang nantinya dibangun Baitullah, tepatnya dibawah pohon
besar yang berada diatas bakal sumur zamzam dibagian atas bakal Masjidil Haram.
Pada saat itu di Makkah tidak ada (penghuni) seorang pun dan juga tidak ada
air. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana dan meletakkan di sisi mereka
geribah yang didalamnya ada kurma dan
bejana yang didalamnya ada air.
Hajar mengejarnya seraya berkata : Wahai Ibrahim hendak kemana engkau pergi ?.
Apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat
seorang manusia pun dan tidak pula ada makanan apa pun ?.
mengatakannya. Akhirnya Hajar bertanya kepada Ibrahim : Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini ? . Ya jawab Ibrahim. Lalu
Hajar berkata : Kalau begitu kami tidak akan disia siakan Allah Ta’ala.
Ibrahim terhadap perintah Allah dan begitu kuatnya sikap tawakalnya maka dia berani meninggalkan istri dan
anaknya Ismail dilembah yang tak berpenghuni dan tidak ada makanan dan air. Tetapi Allah Ta’ala betul betul tidak mensia siakan
istri dan anaknya. Allah memberinya air yang berlimpah berupa sumur zamzam.
Akhirnya Ummu Ismail dan anaknya Ismail bisa hidup dengan selamat di Makkah. (Lihat
Kitab Qishashul Anbiyaa’ oleh Imam Ibnu Katsir).
dan menjadi anak yang menyenangkan bagi
Ibrahim lalu Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak
satu satunya itu. Kisah ini disebutkan dalam firman Allah : “Maka ketika anak itu sampai (pada umur)
sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata : Sesungguhnya aku bermimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu !. Dia (Ismail)
menjawab : Wahai ayahku !. Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.
Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. (Q.S ash Shaffaat 102).
kokoh dan ketundukan dan ketaatan serta tawakal
Nabi Ibrahim melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya meskipun
itu suatu perkara yang amat berat.
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dan juga berarti juga meneladani Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam. Insya Allah ada manfaatnnya bagi kita semua. Wallahu
A’lam. (1.092)






































