Rasul-Nya kepada hamba hamba-Nya agar tidak mengutamakan dunia. Peringatan peringatan itu bermaksud agar
manusia tidak tertipu dengan kehidupan dunia yang sementara, fana. Akhirat itu tak sebanding
sedikitpun dengan dunia. Allah berfirman
: “Walal aakhiratu khairul laka mina uula” Dan sungguh yang kemudian itu lebih baik
bagimu dari pada yang permulaan (Q.S ad Duhaa 4).
dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan yang sementara saja. Allah
berfirman : “Wa maa haadzihil hayaatud dun-yaa illaa lawun wa la’ibun, wa innad daaral
akhirata lahiyal hayawaan. Lau kaanuu ya’lamuun”. Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan
permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya
sekiranya mereka mengetahui. (Q.S al Ankabut 64).
bahwa sesuatu yang namanya senda gurau ataupun permainan hakikatnya adalah
tidak berharga. Dan kehidupan dunia ini dinamakan dunia karena rendah dan hina,
karena salah satu makna dun-yaa adalah
rendah atau hina. Kehidupan dunia adalah sesuatu yang sedikit dan kecil, jadi
tidak memiliki harga.
antara dunia dan akhirat. Perbandingan antara keduanya bagaikan seseorang yang
mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka dunia bagaikan setetes air yang
melekat pada jari-jarinya itu. Al-Mustaurid bin Syaddad berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda : “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan
seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini (perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk)
ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan
apa yang di dapat pada jari tangannya”. (H.R Imam Muslim, no. 2858).
kecintaan kepada perhiasan dunia. Allah berfirman : “Dijadikan terasa indah dalam pandangan mansia cinta terhadap apa yang diinginkan
berupa perempuan perempuan, anak anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk
emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (Q.S Ali Imran 14).
mengabarkan dalam ayat ini tentang kondisi manusia ketika mendahulukan dunia
atas akhirat. Lalu Allah Ta’ala menjelaskan perbedaan yang besar dan
ketidaksamaan antara kedua alam tersebut. Allah mengabarkan bahwa manusia
dihiasi dengan perkara perkara tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata
mereka, dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka. Jiwa jiwa mereka
terbuai dalam kenikmatan kenikmatannya.
satu jenis dari jenis jenis kenikmatan tersebut. Dan sebenarnya mereka telah
menjadikannya sebagai cita cita terbesar mereka dan puncak dari pengetahuan
mereka. Padahal itu semua hanyalah kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap
dalam waktu yang sekejap. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
sampai terpedaya dengan kehidupan dunia
yaitu diantaranya disebutkan dalam firman-Nya :
hayaatud dun-ya wa laa yaghurannakum billahil gharuur” Maka janganlah
sekali kali kamu terpedaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai kamu
terpedaya oleh penipu dalam (mentaati) Allah. (Q.S Luqman 33).
wa’dallahi haqqun, fa laa
taghurannakumul hayaatud dun-yaa. Wa laa
yaghurannakum billahil gharuur”.Wahai manusia !. Sungguh janji Allah itu
benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah
(syaithan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Q.S Faatir 5).
segala harta dan perhiasannya. Kejarlah negeri akhirat dengan segala
kenikmatannya. Jadikan akhirat sebagai tujuan. Ambillah dunia sekedar kebutuhan
untuk bekal menuju negeri akhirat yang abadi.
adalah cara yang terbaik dalam menjalani
kehidupan ini. Karena Allah Azza wa
Jalla akan memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang berbuat demikian,
sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau : Dari Anas bin Malik, ia berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan
menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, Dia akan mengumpulkan segala urusannya
yang tercerai-berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina.
menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allah akan menjadikan kefakiran berada di
depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan segala urusannya yang menyatu, dan
tidak datang kepadanya dari dunia kecuali sekadar yang telah ditakdirkan
baginya”. (H.R at
Tirmidzi no. 2465. Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini shahih lighairihi.
Lihat Shahih at Targhib wat Targhib, no. 3169)
(996)






































