banyak rahmat dan berkah yang hilang. Bahkan berganti dengan musibah.
Penyebabnya adalah dosa dan maksiat yang dilakukan manusia.
fabimaa kasabat aidiikum, wa ya’fuu ‘an kasyiir” Dan musibah apapun yang
menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan
banyak (dari kesalahan kesalahanmu) Q.S asy Syuura 30.
perbuatan tanganmu sendiri dalam ayat ini adalah dosa dosa kamu.
saat ini ada manusia dengan mudahnya meninggalkan perintah perintah Allah yang
wajib seperti shalat, puasa di bulan Ramadhan dan yang lainnya.
dan mengabaikan larangan larangan Allah Ta’ala. Saat ini kesyirikan terjadi di banyak
tempat dalam masyarakat. Diantaranya adalah dengan mendatangi dukun, para
normal. Minta berkah ke tempat tempat yang mereka sebut keramat bahkan minta
berkah kepada orang yang sudah mati.
ini ada pula diantara manusia yang melakukan berbagai dosa besar. Sampai sampai
dosa berupa warisan dari sebagian kaum Luth yaitu homosex sudah banyak terjadi
bahkan ditambah lagi perbuatan lesbian. Lalu dilengkapi pula dengan perkawinan
sejenis yang dipromosikan oleh kelompok LGBT. Tidak ketinggalan pula dosa
warisan dari suku Madyan kaumnya Nabi Syua’ib yaitu mengurangi takaran dan
timbangan.
itu akan menjauhkan rahmat dan berkah bahkan mendatangkan musibah berupa adzab di
dunia. Adzab di akhirat pasti lebih
berat lagi. Sungguh selagi manusia belum betul betul bertaubat dari segala
macam maksiat, maka tidaklah berkah akan turun kepada manusia.
lafatahnaa ‘alaihim barakaatin minas samaa-i wal ardhi, wa laakin kadzdzabuu fa
akhadznaa hum bimaa kaanu yaksibuun”. Dan sekiranya penduduk negeri beriman
dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
dari bumi. Tetapi ternyata (mereka) mendustakan (ayat ayat Kami) maka Kami
siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S al A’raaf 96).
melakukan amal shalih maka baginya akan selalu ada musibah berupa kehidupan
yang sempit. Allah berfirman : “Waman
a’radha ‘an dzikrii fa inna lahuu ma’iisyatan dhankaa, wa nahsyuruhuu yaumal
qiyaamati a’maa”. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku
maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat
(dibangkitkan) dalam keadaan buta. (Q.S
Thaha 124)
menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariat yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku
(dengan) berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selain petunjuknya maka baginya penghidupan yang sempit dan
sengsara, yaitu di dunia, dan tidak ada kelapangan dalam
hatinya. Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya, meskipun
(terlihat) secara zhahir (hidupnya) senang. Berpakaian , makan dan bertempat
tinggal sesukanya. Akan tetapi hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan
dan keraguan karena jauhnya dari kebenaran dan petunjuk-Nya. (Kitab Tafsir Ibnu
Katsir).
dari mengingat Allah termasuk adalah yang enggan beribadah kepada-Nya maka
kehidupannya akan senantiasa dirundung kesedihan dan duka (Adhawaul Bayan,
dinukil oleh Syaikh asy Syinqiti).
rahmat Allah. Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Bila kalian taat
kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya niscaya kalian akan mendapatkan rahmat. Dan
rahmat itu terwujud dalam bentuk diraihnya hal hal hal yang diinginkan dan
hilangnya hal hal yang dikhawatirkan.
dalam ayat adalah rahmat khusus yang berhubungan dengan kebahagian di dunia dan
akhirat, karena rahmat yang bersifat umum sudah kita dapatkan setiap saat
bahkan orang kafir pun mendapatkannya. (Lihat Tafsir Surat Ali Imran).
kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya untuk mendapatkan rahmat ilahiyah, yaitu maaf
dan ampunan (dari Allah Ta’ala) dan masuk kedalam surga-Nya. (Aisarut
Tafaasir).
dan Rasul-Nya merupakan kunci paling
utama untuk mendapatkan rahmat-Nya. Oleh karena itu maka mafhuum mukhaalafahnya
(pemahaman terbaliknya) adalah bahwa maksiat maksiat yang dilakukan seseorang akan menjauhkannya dirinya dari rahmat dan
berkah bahkan akan mendatangkan murka
dan laknat-Nya.
meninggalkan semua dosa dan maksiat. Kita bermohon kepada Allah kiranya
menurunkan rahmat dan berkahnya kepada kita semua. Insya Allah bermanfaat. Wallahu
A’lam. (977).





































