: Azwir B. Chaniago
muslim yang memiliki iman yang benar pastilah mengakui bahkan wajib meyakini bahwa Allah Ta’ala
menciptakan makhluk-Nya yang bernama jin.
ini pertama kali diciptakan bernama al-Jan. Dialah bapak bangsa jin yaitu
sebagaimana Adam manusia yang pertama kali
diciptakan dan merupakan bapak manusia. (Lihat Ensiklopedi Islam 2/318).
jin diciptakan lebih dahulu dari manusia. Dia diciptakan dari api yang panas
yaitu sebagaimana disebutkan dalam firman Allah : “Waljaanna khalaqnaahu min qablu min naaris samuum”. Dan Kami telah
menciptakan jin sebelum (Adam) dan dari api yang panas. (Q.S al Hijr 27).
manusia jin diberi hukum taklifi yaitu kewajiban dan larangan. Allah Ta’ala
berfirman : “Wamaa khalaqtul jinna wal
insa illaa li ya’buduun”. Aku tidak
menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz
Dzaariat 56).
menciptakan jin dan manusia, dan
Allah mengutus semua Rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan
tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah,
mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari
selain-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
bangsa jin dibebani hukum taklifi tetapi kepada bangsa jin Allah tidak mengutus
Rasul dari bangsa mereka sendiri sebagai pembawa risalah yang harus mereka
ikuti. Tapi Rasul mereka adalah manusia yang diutus sebagai Rasul kepada manusia
dan juga jin. Manusia pilihan Allah
yaitu Muhammad yang diutus sebagai Rasul kepada manusia wajib mereka yakini dan
mereka ikuti.
setelah Nabi diutus membawa risalah
Islam ini kepada manusia seluruhnya maka bangsa jin juga harus mengikuti untuk menjadi
muslim dan harus pula berpedoman kepada al Qur an.
satu ayat dalam surat ar Rahman yang diulang sampai 31 kali mulai dari ayat ke
13, yaitu firman Allah : “Fabiayi aalaa-i
rabbikumaa tukadzibaan”. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu
(berdua, jin dan manusia) dustakan. ?.
Qur an juga menjelaskan bahwa Allah Ta’ala menghadapkan serombongan jin kepada
Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengarkan al Qur an. Mereka
mendengarkannya dengan penuh ketekunan. Ketika pembacaan sudah selesai mereka
kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.
Ta’ala berfirman : “Dan (ingatlah) ketika
Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) al
Qur an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan) nya mereka berkata : Diamlah
kamu (untuk mendengarkannya). Maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada
kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Sungguh kami telah mendengarkan kitab (al Qur-an) yang diturunkan setelah Musa,
membenarkan (kitab kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran
dan kepada jalan yang lurus”. (Q.S
al Ahqaaf 29-30).
manusia, bagsa jiin juga ada yang mukmin dan yang kafir. Tidak mau melaksanakan kewajiban
dan selalu melakukan yang dilarang Allah Ta’ala.
berfirman : “Wa annaa minash shaalihuuna
wa minnaa duuna dzaalika, kunnaa tharaa-ika qidadaa”. Dan sesungguhnya
diantara kami (jin) ada yang shalih da nada (pula) kebalikannya. Kami menempuh
jalan yang berbeda beda. (Q.S
al Jin 11)
Sulaiman al Asyqar berkata : Dari ayat yang mulia ini dapat diketahui bahwa jin
hidup (dalam beragama) sama seperti manusia. Mereka ada yang mukmin dan ada
yang kafir. Kekafirannya pun bermacam macam sebagaiman kekafiran manusia. Demikian
pula yang mukmin bermacam macam pula tingkat keimanannya.
jin itu ada yang ahlus sunnah dan ada pula yang ahli bid’ah. Yang ahlu bid’ah
bermacam macam pula, salah satunya ada yang sufi. (Ibnu Taimiyah, Risaalatul
Jin).
karena itu para sahabat tidak ada yang dengan sengaja ingin berhubungan dengan
jin. Memanggil jin ataupun berteman dengan jin karena sulit mengetahui mana jin
yang muslim dan mana yang kafir. Kalaupun ada sahabat yang bertemu atau
berbicara dengan jin itu adalah karena kebetulan didatangi jin dengan izin
Allah Ta’ala bukan kemauan sahabat. Para sahabat mengetahui bahwa manusia tidak
diisyaratkan untuk mengurus atau berhubungan dengan jin karena melihat tidak
ada manfaatnya.
juga para ulama kita, mereka tidak pernah dengan sengaja mencari cari urusan
dengan jin. Andaikata mereka kebetulan bertemu dengan jin maka mereka mengajak
jin itu kepada kebaikan. Ketahuilah bahwa tipu daya jin itu demikian banyak
bahkan (mungkin ?) melebihi banyaknya tipu daya manusia.
Ta’ala berfirman : “Wa annahu, kaana
rijaalun minal insi ya’udzuuna bi rijaalin minal jinni fazaaduhum rahaqaa”. Dan
bahwasanya ada beberapa orang laki laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki laki di antara jin, maka jin itu menambah bagi mereka dosa
dan kesalahan. (Q.S al Jin 6).
Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : Maksudnya, kami (jin) melihat bahwa kami
mempunyai kelebihan atas manusia karena manusia selalu meminta perlindungan
kepada kami disaat mereka singgah di suatu lembah atau tempat yang menakutkan
seperti padang Sahara dan lain lain. Ini adalah kebiasaan bangsa Arab pada masa
Jahiliah. Mereka melindungkan diri kepada penguasa jin di suatu tempat tertentu
agar tidak menimpakan malapetaka kepada mereka.
di zaman ini, karena kejahilannya,
ternyata juga ada diantara
manusia yang minta tolong atau minta perlindungan
kepada bangsa jin ketika mereka melalui tempat yang mereka anggap angker atau
dianggap ada penguasanya.
ini kesalahan yang amat besar karena :
Arab Jahiliah sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Katsir diatas.
mungkin tidak tahu atau lupa bahwa tidak ada penguasa suatu tempat di bumi
bahkan dilangit yang pemilik dan pelindungnya adalah Allah Ta’ala. Jadi
perlindungan yang diminta haruslah kepada pemilik semua tempat yaitu Allah
Ta’ala.
salah alamat karena bisa jatuh kepada kesyirikan. Bukankah kita disuruh meminta
perlindungan kepada Allah Ta’ala saja.






































