Azwir B. Chaniago
diperoleh manusia kecuali dari Allah Ta’ala datangnya. Allah berfirman : “Wamaa bikum min ni’matin
fa minallahi” Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari
Allah. (Q.S an Nahl 53)
baik jumlahnya maupun jenisnya sehingga kita tidak akan pernah mampu menghitungnya.
Allah berfirman : “Wain ta’uddu ni’matalahi laa tuhshuhaa” Dan
jika kalian menghitung nikmat Allah maka engkau tidak akan mampu
menghitungnya. (Q.S Ibrahim 34).
semuanya datang dari Allah Ta’ala bahkan Allah menjamin rizki semua makhluk-Nya
Allah berfirman : “Wa maa min daabbatin
fil ardhi illaa ‘alallahi rizquhaa” Dan tidak satu pun makhluk bergerak
(bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. (Q.S Huud 6).
mengurus rizki baginya namun tetap memperoleh rizki dengan berbagai cara dan
pengaturan dari Allah Ta’ala yaitu sebagaimana firman-Nya : “Dan berapa banyak makhluk bergerak yang
bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allahlah yang
memberi rizki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S
al Ankabuut 60).
Ta’ala Sang Pencipta telah menjamin rizki seluruh makhluk, yang kuat maupun
yang lemah. Betapa banyak “binatang
melata”, di muka bumi ini yang lemah kekuatannya, rendah akalnya, “yang tidak dapat membawa (mengurus)
rizkinya sendiri”. Dan tidak pula dapat menyimpannya,
bahkan ia senantiasa tidak dapat dapat membawa rizkinya sedikitpun, namun Allah
terus menyediakan rizki untuknya pada setiap saat sesuai dengan waktunya. (Lihat
Tafsir Taisir Karimir Rahman).
rizki sesuai ukuran, kehendak, hikmah dan ilmu-Nya. Ada yang secara materi
berlimpah ada pula yang memperoleh secukupnya. Diantara hikmahnya adalah sebagaimana dimaksud dalam
firman-Nya dalam surat al Zukhruf 32 : “Apakah
mereka yang membagi bagi rahmat Rabb-nya ?. Kamilah yang menentukan penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan
sebagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan”.
Sa’di berkata : Dalam ayat ini terdapat peringatan atas hikmah Allah Ta’ala
dalam melebihkan sebagian orang atas yang lain di dunia, agar mereka dapat mempergunakan sebagian yang lainnya, yaitu agar
sebagian dari yang lain menguasai atas sebagian yang lain dalam tugas,
pekerjaan dan perindustrian.
segi kekayaan, pasti tidak ada yang saling memerlukan satu sama lain dan pasti
banyak kepentingan dan manfaat mereka
yang terbengkalai. Didalam
ayat ini juga terdapat dalil bahwa nikmat agama lebih baik daripada nikmat
duniawi. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
Utsaimin memberikan penjelasan tentang hikmah dari perbedaan tingkatan rizki
seorang manusia dengan manusia yang lainnya adalah : Agar orang kaya menghargai nikmat Allah (yang diberikan) padanya yang
berupa keluasan rizki. Lalu ia pun mensyukuri-Nya atas nikmat tersebut sehingga ia tergolong kedalam
syaakirin yaitu orang orang yang bersyukur. Sementara orang yang fakir, Allah
menguji mereka dengan kekurangan supaya ia dapat bersabar dan menggapai derajat
shaabiriin yaitu orang yang bersabar.
kemashlahatan ini dan kemashlahatan lainnya tidak terwujud bila manusia setara
dalam tingkatan rizkinya. Oleh karena itu Allah menentukan rizki bagi mereka dan memerintahkan orang berkecukupan untuk bersyukur dan
berinfak dan memerintahkan orang fakir untuk bersabar dan menunggu kelapangan
dari Allah Ta’ala.
terhadap pembagian dan takdir-Nya dan ridha kepada-Nya sebagai dzat Penentu
untuk kita imani hikmah hikmah dan rahasia dari ketentuan ketentuan-Nya.
kita semua. Wallahu A’lam. (764)





































