*Untuk melihat semua artikel Sejarah Cirebon dalam blog ini Klik Disini
Sungai
Citarum berhulu di Priangan Barat, tetapi hilirnya bukan di Subang. Sungai
Citarum mengalir sampai jauh hingga Bekasi melalui Purwakarta dan Krawang.
Sungai Cimanuk yang berhulu di Priangan Timur (Garut) juga tidak bermuara di
Subang, tetapi di Indramajoe melalui Soemedang. Diantara dua sungai inilah
terdapat sungai Cipunagara di Subang. Tome Pires (1515) hanya mengidentifikasi
kampong/kota pelabuhan Karawang dan Cimanuk. Bagaimana dengan Cipunagara di
Subang?

Subang adalah kabupaten di provinsi Jawa Barat.
Kabupaten dilintasi jalur pantura dan jalur tol trans Jawa Cipali (Cikopo-Palimanan)
namun ibu kota kabupaten di Subang jauh di pedalaman. Penduduk Subang umumnya Sunda.
Wilayah pesisir Subang dan hilir sungai Cipunegara dekat wilayah Indramayu menggunakan
bahasa Dermayon. Para peneliti, sedang meneliti situs Nyai Subanglarang, diduga
asal-muasal nama “Subang”. Era Hindoe Boedha wilayah Subang menjadi
bagian dari 3 kerajaan: Tarumanagara, Galuh, Pajajaran. Terddapat peninggalan pecahan
keramik Cina di Patenggeng (Kalijati). Awal masuknya Islam di wilayah Subang seorang
tokoh ulama, Wangsa Goparana berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun
1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan
Agama Islam di Subang. Pasca runtuhnya Pajajaran, wilayah Subang rebutan Banten,
Mataram, Sumedanglarang, VOC. Wilayah Subang dijadikan Gudang logistic saat Mataram
menyerang VOC di Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa
dengan Sunda, banyak tentara Sultan Agung menetap di wilayah Subang. Tahun
1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang,
tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati memerintah
secara turun-temurun. Pada era Inggris (1812) konsesi penguasaan lahan wilayah
Subang diberikan kepada swasta Eropa dengan onderneming Pamanoekan en
Tjiasemlanden. (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Subang, antara
Cirebon-Batavia dan antara laut dan Bandoeng? Seperti disebut di atas wilayah Subang
adalah dimana sungai Cipunagara berhulu di Priangan Utara mengalir, antara sungai
Tjitaroem dan sungai Tjimanoek dan bermuara ke laut. Lalu bagaimana sejarah Subang,
antara Cirebon-Batavia dan antara laut dan Bandoeng? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Subang, Antara Cirebon-Batavia dan Antara Laut dan
Bandoeng; Sungai Cipunagara, Antara Tjitaroem dan Tjimanoek
Dalam peta-peta lama, tidak teridentifikasi nama
Soebang di daerah aliran sungai Tjiasem. Di sebelah timur sungai Tjiasem ini
adalah sungai Tjipamanoekan (kini sungai Cipunagara). Kota-kota di hilir sungai
ini adalah kampong/kota pelabuhan Tjiasem dan Pamanoekan. Besar dugaan di masa
lampau, dua kota pelabuhan tersebut berada di garis pantai. Kota Subang yang
sekarang berada di wilayah hulu sungai Tjiasem (di wilayah pedalaman/pegunungan).
Hal inilah diduga mengapa nama Soebang tidak teridentifikasi pada peta-peta
navigasi/pelayaran perdagangan. Hanya kota Tjiasem dan kota Pamanoekan yang
dikenal.

Nama Soebang, pertama kali diinformasikan berada di wilayah (kesultanan) Cheribon
(lihat Bataviasche koloniale courant, 28-12-1810). Soebang berada di district
Rantjah (kini kecamatan Rancah kabupaten Ciamis). Nama district adakalanya
dipertukarkan antara Rantjah dan Soebang. Lalu bagaimana hubungan Soebang di
Cheribon dengan Soebang di wilayah Karawang?
Yang jelas bahwa pada era VOC, wilayah tanah partikelir (landerein)
hanya sebatas sungai Tjitaroem. Pada era Gubernur Jenderal Daendels, wilayah
tanah partikelir diperluas hingga batas sungai Tjimanoek. Sejak dijadikan sebagai
tanah partikelir, nama kampong Soebang di daerah alirsan sungai Tjiasem mulai
muncul ke permukaan. Pada Peta 1817 nama Soebang belum teridentifikasi di hulu
sungai Tjiasem. Dalam pet aini sungai Tjipamanoekan diidentifikasi dengan nama
sungai Tjipanagara. Pada peta ini sudah diidentifikasi jalan pos baru dari
Karawang ke Cheribon via Tjiasem, Pamaanoekan, Kandanghaur dan Djati Toedjoe.
Nama Soebang sendiri di wilayah (residentie)
Karawang baru terinformasikan pada tahun 1820 (lihat Bataviasche courant, 13-05-1820).
Tampaknya kampong Soebang (Karawang) termasuk tempat yang penting dimana sudah
ada orang Eropa/Belanda. Kampong Soebang inilah yang menjadi cikal bakal kota
Subang yang sekarang. Lambat laun nama Soebang di residentie Karawang semakin
penting. Hal ini karena di Soebang sudah dibangun pasar (lihat Bataviasche
courant, 21-12-1825). Pasar lain yang sudah ada terdapat di Karawang, Kadauong,
Tjiasem dan Pamanoekan.

Residentie Karawang terdiri dari tiga regentsachep (afdeeling): (1) Regentschap
Krawang, Gouvern, landen; (2) Regentschap Krawang Part landen: Tjiasem en Pamanoekan;
(3) Part. Landen. Regentschap Krawang Part landen: Tjiasem en Pamanoekan
terdiri dari district-district: Pamanoekan, Pegaden, Soebang, Tjiasem, Malang,
Kali Djati, Segala Erang, Batoe Sirap. Dalam struktur administrasi wilayah ini
nama Tjiasem dan Pamanoekan lebih penting dari Soebang. Ini mengindikasikan
district Soebang baru tumbuh dan berkembang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sungai Cipunagara, Antara Tjitaroem dan Tjimanoek:
Behulu di Priangan Utara Melaui Wilayah Subang
Sejarah wilayah Karawang, termasuk di dalamnya
wilayah Soebang mulai ditulis, mulai direcall pengetahuan penduduk (lihat Tijdschrift
voor Neerland’s Indie jrg 2, 1839).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






















