
![]() |
| setelah menunggu 1001 purnama |
semua aktivitas pertambangan dihentikan sebab merusak lingkungan, lately penduduk sekitar menjadikan sisa
pertambangan ini sebagai tujuan wisata. Selain sisa pertambangan, Tebing Breksi
memiliki candi juga lho… ada Candi Ijo dan Candi Banyuibo. Kalau Candi Ijo
terletak di tengah sawah, Candi Banyuibo terletak di daerah yang lebih tinggi,
keduanya masih ‘nyambung’ dengan Candi Prambanan.
![]() |
| masih on |
pernah ke Tebing Breksi adalah Deya, bulan lalu malah. Deya merekomendasikan
untuk langsung naik Jeep ketimbang berfoto-foto, untuk menyewa Jeep kita
tinggal menghampiri loket yang terletak di depan kolam. Harga sewa Jeep-nya Rp.
300.000, kalau nggak dengan rombongan jatuhnya Rp. 60.000 / orang.
panjang dan setiap kali melewati spot
yang instagramable, driver akan
memberhentikan Jeep dan menyuruh kita untuk berpose. Kita juga akan melewati
jalanan berbatu khas rute off road, jadi siap-siap aja nih ya
ber-uwwuuu-uwwuuu ria 😙 dari atas kap Jeep 😆. Meski sebenarnya pantat makin
tepos kegajlug-gajlug, naik Jeep di Tebing Breksi menyenangkan sekali ya 👌🏻.
![]() |
| setting foto udah outdoor, tapi jiwa masih indoor |
langsung merekomendasikan spot
terbaik untuk berfoto, yakni di ujung Watu Payung. Disana ada menara bambu
amatir berisikan penduduk sekitar yang membuka jasa foto
amatir, kalau ingin menggunakan jasa mereka kita tinggal memasukkan smartphone / kamera ke dalam ember, nantinya
ember tersebut dikerek ke atas dan taa-daa… kita difoto dari spot mereka 😉. Nggak ada patokan harga
untuk jasa foto amatir ini, kita tinggal memasukkan uang ke dalam kotak yang
telah disediakan. Se-ikhlas-nya 😊.
mencari spot untuk setting tripod, agak tricky memang sebab orang berlalu lalang
kesana kemari. Tapi dasar warga +62, adaa aja… yang cuek bebek jadi photobomb 😭. KZL deh ini… padahal Ana
udah ngode keras biar pada minggir tapinya nggak ada yang peka dan lanjut foto
dengan kita sebagai background 😏. Well… terlepas dari gersangnya yang
bikin kulit burik 🤫, kita puas dengan Tebing Breksi apalagi bagian naik Jeep-nya.
Patut dicoba yaini.





makan siang yang asyik, maunya per-mie-an atau apalah yang pedas tapi nyegerin
selain rujak. Di Tebing Breksi tadi ada kok kios-kios makanan dan minuman, musholla dan toilet juga ada kok. Tapi
karena panasnya udah nggak nahan, kita malah jajan es krim yang ngelapak di
pinggir jalan, lumayan menyegarkan meski sebenarnya bikin brain freeze 🥶.
GITO

Jowo Mbah Gito, sekitar 30-45 menitan laya… Lokasinya terletak di pemukiman, dari
jalan utama masuk lagi ke dalam sampai ketemu lapangan yang dijadikan lahan
parkir. Tadinya kupikir konsep bangunannya memang ekletik tradisional 🤔, tapi
kata Ana bukan, bekas kandang sapi 🙄.
juga, dindingnya miring-miring yaini dan agak pengap. Saat kita kesana lantai
2nya belum dibuka, mungkin karena belum terlalu penuh maka nggak ada urgensi.
Tentcunya kita order Mie Goreng dan Mie
Rebus, dan untuk menu bersama kita order
Ayam Rica, tahu sendirilah… lapar tyada duwa 😂.
keringetan haha Panas cuy! Tadinya kita kira Ayam Ricanya bakal pedas tapi
ternyata byasa aja… 😌 malah kaya ayam di mie ayam dan bukan bagian primer. Minumannya dingin nyegerin,
apalagi di tengah cuaca yang panas begini. Untuk harganya memang cukup standar
dan udah termasuk pajak, eh iya untuk
parkir udah otomatis masuk di bill.



Yogyakarta
khawatir nggak sampai tepat waktu ke Bukit Paralayang Watugupit, tujuan Hutan
Pinus Imogiri kita coret dari list.
Lagi pula kita pikir pohon pinus mah
ada di Bandung juga haha 😅 So kita langsung menuju ke Gumuk Pasir.








































