

Setelah Bre sholat jum’at, kami jalan-jalan di lingkungan masjid yang nama jalannya banyak ditandai dengan nama daerah-daerah di Indonesia. Nama daerahnya sendiri di sini itu Lombok area. Nama jalannya ada Javastraat, Riaustraat, Balistraat, Sumatrastraat dan banyak lagi lainnya. Di Lombok area ada banyak grocery store halal di sepanjang jalan. Jadi sekalian lah kami mampir belanja bahan makanan. Dan ini pertama kalinya kami makan bacon kalkun! Setelah itu baliknya kami nyasar-nyasar tak tentu arah karena tak menemukan halte bus untuk kembali ke rumah. Masih sore, belum gelap sama sekali. Kami langsung kembali ke rumah dan masak-masak lagi.

Untuk sampai ke Slot Zuylen, kita diharuskan jalan kaki dulu melewati komplek warga. Kira-kira 650 meter dari halte bus. Penunjuk jalannya pun cukup jelas jadi ngga akan nyasar. Selain melewati komplek warga, kita juga akan menyebrangi sungai Vecht lewat jembatan yang besar. Lalu akan ada jalanan yang kanan kirinya ditumbuhi pohon-pohon besar.


Slot Zuylen adalah istana atau benteng yang berada di desa Oud Zuilen. Istana nya terletak di sepanjang sungai Vecht. Informasi lengkap tentang istana ini bisa dibaca di sini. Kami tidak berhasil masuk ke area istana ini, karena kami kepagian! Saya sendiri udah cari informasi sebelum ke sini kalau istana ini baru buka tour guide nya jam 11 siang. Saya pikir kita bisa aja masuk di area halamannya saja tanpa harus pake tour guide. Tapi ternyata, gerbangnya masih dikunci dan ngga ada orang sama sekali. Kami pun coba mengeksplor daerah sekitar yang ternyata berupa ladang luas yang banyak sekali dihuni oleh domba dan sapi. Kami pun langsung bertolak ke pusat kota.
Sampai di pusat kota, kami mencoba menembus gang-gang sempit untuk sampai ke tempat ngeprint yang kalau di sini terkenal namanya Printerette. Berhubung setelah kota Utrecht adalah pertama kalinya kami akan naik bus antar negara, jadi rada parno sama peraturan agen Flixbus yang mengharuskan kita mengeprint sendiri label untuk tas yang disimpan di bagasi. Tapi ternyata ngga terlalu pengaruh, kecuali agen bus Regiojet yang ekslusif memberikan kita label beneran tiap check in.

Sebelum sampai ke Printerette kami justru terjebak di pasar lokal, pasar dadakan yang sepertinya ngga diadain tiap hari. Dan saya suka sekali pasar. Bukan karena suka belanja di pasar tapi di pasar lah kita bisa melihat bagaimana kehidupan di suatu tempat berjalan. Duile, berlebihan sekali bahasaku. Sebetulnya seru aja kalau lagi di tempat-tempat begini. Jadi bisa lihat yang unik-unik, kain yang lucu-lucu, meskipun ngga beli sama sekali.

Oudegracht atau old canal, sebuah nama jalan yang dilewati oleh pertemuan dua sungai yaitu sungai Kromme dan Vaartse. Di sini Bre hampir kena scam! Lagi enak-enaknya jalan dipinggir sungai tiba-tiba kami disamperin orang yang mencurigakan. Malam sebelumnya, saya memang sempat membaca sebuah artikel soal scam di Utrecht. Scam yang paling sering terjadi adalah ada orang yang mengaku-ngaku turis nyasar minta bantuan, lalu orang yang mengaku-ngaku polisi minta kita nunjukin paspor dan orang yang memaksa meminta biaya foto untuk memberi makan burung saat kita sedang asyik foto-foto. Dan kita hampir kena dua scam pertama.

Awalnya ada orang nanyain jalan ke arah Utrecht central, sambil bawa-bawa hp dan buka aplikasi google maps. Duh, kita kan turis juga mana kita ngerti. Lagi pula saya dan Bre ngga konek internet sama sekali, jadi kalau jalan cuma pake feeling dan modal screenshot map dari hp. Situ kan pake GPS kenapa masih nanya kita? Di sini saya udah mulai curiga, kita pun masih diikutin. Lalu tiba-tiba ada polisi yang datangin kita dan nunjukin ID polisinya. Kita disuruh nunjukin paspor. Saya ngga mau, kalau mau kita ke kantor polisi dulu. Dengan mencoba nunjukin wajah sangar, saya pun menarik Bre dan pergi menjauh. Mau ngejar? Saya akan teriak, “Heeeelp!”
Oudegracht ini jalanannya cantik, asyik banget dinikmatin sambil berjalan pegangan tangan. Ah! Tapi gara-gara kejadian tadi kami pun terpaksa buru-buru ninggalin tempat ini. Hanya foto diatas menyimpan kenangan kami dengan Oudegracht.
Di sini kami di sapa sama mas-mas yang lagi sepedahan ngebonceng anaknya. “Mari maaaas~” Pasti karena muka Bre yang lokal jawa banget deh. Akhirnya ketemu orang Indonesia juga di sini. Di tengah area kompleks Dom Kerk, banyak bertebaran turis-turis yang lagi berteduh di depan patung di bawah pohon besar yang rindang. Kami pun ikutan duduk-duduk sambil bengong, kira-kira enaknya ngapain ya di sini?
Dan dihadapin kami ternyata ada tower tinggi yang bisa dipanjat. Kami pun langsung ke Tourist Information yang tidak jauh dari tempat kami duduk. Dan, last guide tour ke Dom Tower adalah pukul 6 sore. Saya pun langsung membeli tiket yang dihargai €9.50 untuk satu orang, tadi nya mau pesan dua namun ngga jadi karena dapat tawaran dari turis lain yang katanya ngga jadi namun sudah terlanjur beli tiket.
![]() |
| Bel yang ada di puncak Dom Tower |

Tour yang durasinya 60 menit ini menyisakan dengkul yang gemetar saat kami sudah sampai ke bawah. Kami pun langsung kembali ke rumah. Ya, kembali ke rumah, rasanya ingin langsung rebahan dan tidur. Begitu adem dan anyem nya kota Utrecht sampai membuat kami selalu kangen sama kasur. Selama empat hari tiga malam di kota ini, waktu memang lebih banyak kami habiskan di rumah. Sometimes you just need to relax, breathe, let go and live in the moment. When you try to control everything, you enjoy nothing. Halah, sebetulnya sih karena masih jetlag jadi jam tidur kami masih acak-acakan. Saya menyelesaikan tulisan ini di hampir satu bulan menjelajah Eropa. Di Budapest, kota yang masih tidak rela harus kami tinggalkan besok pagi.
































