
lingkungan tempat ia tumbuh. Selalu melangkahkan kakinya kemana pun ia ingin
menuntut ilmu. Tak lelah menggunakan kendaraan umum sebagai transportasi
utamanya. Baik lingkungan rumah maupun kampus, siapa yang tidak mengenalnya?
Seorang gadis betawi pinggiran yang terpaksa mengambil masa perkuliahan yang
lama karena harus bekerja untuk menanggung biayanya.
tidak mempunyai ayah. Saat itu, ia masih menginjak sekolah menengah atas.
Menjadi salah satu binaan Ayah. Ia pembelajar yang tekun, sehingga menyerap
dengan cepat semua materi yang disampaikan oleh setiap murobbi.
Langkahnya
cepat, inisiatifnya kuat, semua yang dianggapnya benar akan dilakukan. Masih
dibina, ia sudah mencari binaan sendiri, menyampaikan ilmu yang sudah
didapatkan. Aku pun pernah menjadi binaannya. Setelah dirasa cukup, ia
menyerahkan semua binaannya pada pengurus untuk materi yang lebih khusus.
ia melambatkan untuk urusan itu, mungkin tidak terlalu ambil pusing. Bahkan
sudah beberapa pemuda yang mencoba untuk meminangnya, tidak serta merta ia
terima.
kau ajukan untuk menolak kembali?”
memberikan syarat untuk menolak secara halus. Ia masih tetap bersabar, masih
tetap beristikharah. Bukan. Bukan maksud hati untuk menolak tiap lamaran dengan
syarat yang dibuatnya. Ketahuilah, ya Akhi di mana pun kalian berada, syarat
bukan penolakan secara halus. Aku pun mengakuinya. Jika berjodoh, sudah pasti
syarat itu mampu dipenuhi. Jika tidak, untuk apa dipaksakan.
memberikan nasihat yang mungkin dapat merubah pikirannya. Ternyata tidak,
keputusannya bulat. Aku bahkan tidak tahu apa syaratnya. Hanya percaya, pasti
sudah ia pikirkan sangat matang, sudah pasti dengan istikharah berulang kali.
menerima lamaran pemuda yang dirasa dapat memenuhi syarat yang diajukannya.
Pemuda yang telah ia nantikan selama ini. Pemuda yang dengan mantap menerima
segala kekurangannya. Pemuda yang kini telah menjadi suami dan ayah bagi
anaknya. Pemuda yang senantiasa sabar merawatnya ketika ia terbaring lemas di
atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Pemuda yang sangat telaten mengurus
segala keperluan ia dan anaknya. Pemuda yang kini tengah mengurus anak
satu-satunya seorang diri. Pemuda yang mencintainya karena Allah sampai ia
berada di sisiNya.
ceritanya, aku tahu ia mempunyai kanker otak stadium akhir yang tak lama
setelah anak pertamanya lahir, telah merenggut nyawanya. Sedih.
Haru. Pemuda itulah yang memenangkan peperangan. Pemuda yang paling pantas
mendapatkannya karena ia adalah jodohnya.
memperebutkan sang gadis pujaan, Fatimah. Ia menang atas hawa nafsunya. Tak ada
bait-bait rindu, tak ada ratapan kegalauan. Inilah cinta sejati, cinta yang
hakiki. Menyimpan dalam pada ruang hati, menyerahkan semua pada Pemilik Cinta
yang tahu rasa itu. Tak perlu menebak-nebak sebelum tiba masanya.
itulah pengorbanan.
![[#AYTKTM] Pemenang Peperangan](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2024/10/pemenang.jpg?fit=289%2C268&ssl=1)






























![[#AYTKTM] Pemenang Peperangan](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2024/10/pemenang.jpg?resize=289%2C268&ssl=1)








