Aopok – #Kopi selama ini #identik dengan #minuman untuk #mengusir rasa #kantuk. Namun, sebuah #penelitian terbaru justru membuat #kebiasaan #minum #kopi kembali menjadi perhatian setelah menemukan adanya kaitan antara #konsumsi #polifenol dan hasil #kesehatan yang lebih baik pada #perempuan yang telah didiagnosis #kanker payudara.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada Juli 2026. Penelitian melibatkan 95 perempuan dengan kanker payudara yang dipantau selama rata-rata 11,5 tahun.
Lantas, apakah hasil penelitian ini berarti kopi bisa menyembuhkan kanker payudara?

Jawabannya tidak sesederhana itu.
Baca: Kulit Kering dan Bersisik Saat Cuaca Panas? Ini 4 Bahan Alami yang Bisa Membantu Melembapkan Kulit
Penelitian memang menemukan hubungan menarik antara asupan polifenol, termasuk yang berasal dari kopi, dengan risiko kematian dan kekambuhan kanker payudara. Tetapi penelitian tersebut bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan bahwa minum kopi secara langsung menyebabkan kanker sembuh atau mencegah kanker kembali.
Profil Studi Kopi dan Kanker Payudara
Penelitian berjudul Intake of polyphenols, phenolic acids and lignans associated with lower mortality in women diagnosed with breast cancer dilakukan oleh Elisa R. Silva dan sejumlah peneliti dari Program Pascasarjana Nutrisi, Federal University of Santa Catarina, Brasil.
Studi tersebut dipublikasikan secara daring oleh Cambridge University Press pada 10 Juli 2026 dalam British Journal of Nutrition.
Fokus penelitian adalah melihat hubungan antara konsumsi polifenol dengan tiga hal penting, yakni kematian akibat kanker payudara, kelangsungan hidup, dan kekambuhan kanker.
Para peneliti mengikuti 95 perempuan yang telah didiagnosis kanker payudara selama rata-rata 11,5 tahun. Asupan polifenol dihitung berdasarkan kuesioner pola makan dan basis data Phenol-Explorer.
Hasil Penelitian yang Membuat Kopi Jadi Sorotan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan asupan total polifenol lebih tinggi memiliki hubungan dengan risiko kematian spesifik akibat kanker payudara yang lebih rendah.
Dalam analisis penelitian, total polifenol memiliki hazard ratio sebesar 0,20. Asam fenolik berada pada 0,09, sedangkan lignan sebesar 0,15. Asam fenolik juga dikaitkan dengan risiko kekambuhan yang lebih rendah serta penurunan risiko kematian dari berbagai penyebab.
Secara sederhana, kelompok dengan asupan polifenol lebih tinggi terlihat memiliki prognosis yang lebih baik.
Namun, ada satu hal yang menarik.
Kopi menjadi salah satu penyumbang utama polifenol dalam pola konsumsi peserta penelitian.
Inilah yang kemudian membuat publik bertanya-tanya apakah kopi memiliki manfaat khusus bagi pasien kanker payudara.
Baca: Benarkah Bawang Merah Bisa Menurunkan Demam Anak? Ini Penjelasan Dokter dan Fakta Ilmiahnya
Apa Itu Polifenol?
Polifenol merupakan kelompok senyawa alami yang banyak ditemukan pada tumbuhan.
Senyawa ini dapat ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman, termasuk kopi, teh, buah-buahan, sayuran dan sejumlah bahan pangan nabati lainnya.
Kopi sendiri mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk asam klorogenat serta senyawa lain yang memiliki aktivitas antioksidan dan berhubungan dengan proses inflamasi.
Sejumlah penelitian laboratorium memang telah meneliti bagaimana komponen tertentu dalam kopi dapat memengaruhi proses biologis yang berkaitan dengan sel kanker. Namun, hasil penelitian laboratorium tidak otomatis berarti kopi dapat digunakan sebagai terapi kanker pada manusia.
Kontroversi Terbaru: Kopi Bisa Menyembuhkan Kanker?
Di sinilah bagian yang paling penting untuk diluruskan.
Judul yang menyebut “kopi membantu penyembuhan kanker” berpotensi membuat pembaca salah memahami hasil penelitian.
Penelitian terbaru tersebut tidak membuktikan bahwa kopi menyembuhkan kanker payudara.
Studi hanya menemukan hubungan antara konsumsi polifenol yang lebih tinggi dan sejumlah hasil kesehatan yang lebih baik pada perempuan yang telah didiagnosis kanker payudara.
Peneliti sendiri menyatakan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hubungan tersebut.
Okezone juga menegaskan bahwa penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, penelitian dapat menemukan hubungan antara dua hal, tetapi tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Karena itu, pasien kanker payudara tidak boleh mengganti kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, terapi target, imunoterapi atau pengobatan dokter dengan kopi.
Apakah Kafein yang Memberikan Manfaat?
Belum tentu.
Salah satu hal menarik dari penelitian ini adalah sorotan terhadap polifenol, bukan sekadar kafein.
Kopi mengandung lebih dari seribu senyawa bioaktif. Beberapa di antaranya adalah kafein, asam klorogenat, kafestol dan kahweol. Senyawa tersebut memiliki karakteristik biologis yang berbeda dan terus diteliti oleh para ilmuwan.
Karena itu, terlalu dini menyimpulkan bahwa kafein adalah zat yang bertanggung jawab atas hubungan positif yang ditemukan dalam penelitian.
Dengan kata lain, istilah “kopi melawan kanker” terlalu sederhana untuk menggambarkan temuan ilmiah tersebut.
Berapa Banyak Kopi yang Aman?
Bagi orang dewasa sehat, konsumsi kafein hingga sekitar 400 miligram per hari umumnya dianggap masih dalam batas yang dapat ditoleransi. Jumlah kafein dalam satu cangkir kopi bisa berbeda-beda tergantung jenis kopi, ukuran sajian dan metode penyeduhan.
Namun, batas tersebut bukan berarti setiap pasien kanker harus minum tiga hingga lima cangkir kopi setiap hari.
Kondisi setiap pasien berbeda.
Orang yang mengalami gangguan irama jantung, kecemasan, gangguan tidur atau refluks asam lambung mungkin perlu membatasi konsumsi kopi. Perempuan hamil atau menyusui juga memiliki pertimbangan tersendiri terhadap konsumsi kafein.
Kopi dengan Banyak Gula Justru Perlu Diperhatikan
Cara mengonsumsi kopi juga penting.
Kopi hitam tanpa tambahan gula berlebihan tentu berbeda dengan minuman kopi yang mengandung banyak gula, sirup, krimer atau topping.
Penambahan gula dan bahan berkalori tinggi dapat meningkatkan asupan energi dan gula secara keseluruhan. Karena itu, bagi orang yang tetap ingin menikmati kopi, pilihan dengan sedikit tambahan gula dapat menjadi pertimbangan.
Tetapi sekali lagi, pilihan minuman tersebut bukan bagian dari terapi kanker.
Bukan Pengganti Pengobatan Medis
Temuan penelitian terbaru memang menarik karena membuka kemungkinan bahwa pola makan dan senyawa bioaktif tertentu memiliki hubungan dengan perjalanan penyakit kanker.
Namun, penelitian terhadap hanya 95 peserta memiliki keterbatasan. Selain itu, sifat observasional membuat peneliti belum dapat memastikan bahwa polifenol atau kopi secara langsung menyebabkan penurunan kematian maupun kekambuhan.
Karena itu, pasien kanker payudara sebaiknya tidak mengambil keputusan pengobatan hanya berdasarkan berita mengenai kopi.
Jika ingin mengubah pola makan atau menambah konsumsi kopi selama menjalani terapi, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan yang menangani.
Kesimpulan
Baca: Viral Siswa SD Temukan Benda Diduga Peluru dalam Daging Menu MBG di Lampung Utara
Studi terbaru tahun 2026 memberikan kabar menarik mengenai hubungan antara polifenol, kopi dan kanker payudara.
Perempuan yang memiliki asupan polifenol lebih tinggi dalam penelitian tersebut menunjukkan hubungan dengan risiko kematian akibat kanker payudara dan beberapa luaran penyakit yang lebih rendah. Kopi menjadi salah satu sumber utama polifenol pada peserta penelitian.
Namun, temuan tersebut bukan bukti bahwa kopi dapat menyembuhkan kanker payudara.
Kontroversi yang muncul lebih banyak berasal dari cara hasil penelitian diterjemahkan menjadi klaim kesehatan. Secara ilmiah, yang ditemukan adalah hubungan, bukan bukti bahwa kopi merupakan obat kanker.
Jadi, bagi pencinta kopi, kabar ini memang menarik. Tetapi bagi pasien kanker payudara, kopi tetap harus dipandang sebagai bagian dari pola konsumsi makanan dan minuman, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.






















