Aopok – #ToiletJongkok dan #ToiletDuduk hingga kini masih menjadi #pilihan #masyarakat dalam #menjalankan #aktivitas buang air besar (#BAB). Keduanya memiliki #kelebihan dan #kekurangan, terutama jika dilihat dari sisi #kenyamanan, #kebiasaan, kondisi fisik, serta pengaruhnya terhadap proses #pencernaan.

Baca: Bahaya Olahraga Saat Tubuh Kurang Fit, Bisa Memperparah Infeksi Sistemik hingga Picu Komplikasi
Banyak anggapan menyebutkan bahwa toilet jongkok lebih sehat untuk BAB dibandingkan toilet duduk. Alasannya, posisi jongkok dianggap lebih sesuai dengan posisi alami tubuh ketika buang air besar sehingga proses pengeluaran feses dapat berlangsung lebih mudah.
Namun, apakah anggapan tersebut benar secara medis?
Perawat bernama Rizal melalui akun X @afrkml sebelumnya menjelaskan bahwa posisi jongkok dinilai lebih ergonomis dan sesuai dengan anatomi tubuh ketika seseorang melakukan BAB. Menurutnya, posisi tersebut dapat membantu membuat jalur keluarnya feses menjadi lebih lurus.
“Posisi jongkok bikin sudut antara rektum & anus jadi lebih kebuka sehingga jalur keluarnya feses relatif lebih lurus,” tulis Rizal.
Secara anatomi, posisi tubuh memang dapat memengaruhi sudut anorektal. Ketika seseorang jongkok, posisi pinggul dan lutut yang lebih menekuk dapat membantu meluruskan jalur antara rektum dan anus sehingga proses pengeluaran feses berpotensi menjadi lebih mudah.
Mengapa Toilet Jongkok Dianggap Mempermudah BAB?
Saat menggunakan toilet jongkok, posisi paha lebih dekat dengan perut dan tubuh berada dalam posisi berjongkok. Kondisi ini dapat membuat otot tertentu di sekitar panggul dan saluran anorektal berada dalam posisi yang berbeda dibandingkan ketika duduk di toilet.
Kajian yang diterbitkan dalam BMC Public Health pada 2025 meninjau 42 penelitian mengenai posisi jongkok dan duduk saat menggunakan toilet. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa posisi jongkok berpotensi mengurangi beban saat mengejan dan membantu proses pengeluaran feses, termasuk pada kondisi seperti sembelit. Namun, para peneliti juga menekankan bahwa bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa satu jenis toilet selalu lebih sehat bagi semua orang.
Dengan demikian, anggapan bahwa toilet jongkok memiliki keuntungan tertentu untuk proses BAB bukan sekadar mitos. Akan tetapi, bukan berarti toilet duduk selalu lebih buruk atau toilet jongkok pasti menjadi pilihan terbaik bagi setiap orang.
Toilet Jongkok Bisa Membantu Mengurangi Mengejan
Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat BAB adalah kebiasaan mengejan terlalu kuat. Mengejan berlebihan dapat meningkatkan tekanan pada area anus dan panggul.
Posisi jongkok secara teori dapat membantu tubuh memperoleh posisi yang lebih mendukung proses pengeluaran feses sehingga seseorang tidak perlu mengejan terlalu keras.
Dalam sebuah konsensus mengenai sembelit kronis pada orang dewasa, posisi jongkok disebut lebih fisiologis untuk defekasi karena dapat membantu relaksasi otot puborektalis dan memperlebar sudut anorektal. Posisi tersebut juga dinilai dapat membantu pengeluaran feses dengan lebih mudah dan mengurangi kebutuhan mengejan berlebihan.
Meski demikian, bukan berarti seseorang harus memaksakan diri menggunakan toilet jongkok apabila posisi tersebut menyebabkan nyeri atau sulit dilakukan.
Baca: 3 Posisi Hubungan Intim yang Paling Disukai Wanita
Toilet Duduk Juga Memiliki Keunggulan
Toilet duduk tidak bisa dianggap sebagai pilihan yang tidak sehat. Bagi sebagian orang, toilet duduk justru memberikan kenyamanan dan keamanan yang lebih baik.
Orang lanjut usia, seseorang dengan keterbatasan gerak, masalah pada lutut atau pinggul, serta individu yang kesulitan mempertahankan posisi jongkok dapat lebih terbantu dengan toilet duduk.
Kajian ilmiah mengenai posisi toilet menunjukkan bahwa manfaat dan risiko masing-masing posisi sangat dipengaruhi kondisi individu. Posisi jongkok dapat memberikan keuntungan dalam proses BAB, tetapi juga dapat memberikan tekanan lebih besar pada sistem muskuloskeletal pada orang tertentu. Sementara itu, toilet duduk yang dirancang dengan baik dapat mengurangi tekanan pada persendian dan memberikan akses yang lebih nyaman bagi kelompok tertentu.
Cara BAB yang Benar Menggunakan Toilet Duduk
Bagi masyarakat yang menggunakan toilet duduk, terdapat cara sederhana untuk mendapatkan posisi yang lebih menyerupai jongkok tanpa harus berdiri di atas toilet.
Salah satunya adalah menggunakan pijakan kaki yang kokoh dan aman. Pijakan tersebut dapat membuat lutut berada lebih tinggi dibandingkan posisi pinggul sehingga posisi tubuh menjadi lebih mendukung proses BAB.
Namun, pijakan harus benar-benar stabil dan tidak mudah tergelincir. Keselamatan tetap menjadi prioritas karena penggunaan pijakan yang tidak kokoh dapat meningkatkan risiko jatuh.
Selain itu, tubuh dapat sedikit dicondongkan ke depan dengan tetap menjaga posisi nyaman. Hindari mengejan terlalu kuat dan jangan berlama-lama duduk di toilet.
Jangan Terlalu Lama Duduk di Toilet
Kebiasaan menghabiskan waktu terlalu lama di toilet juga sebaiknya dihindari. Tidak sedikit orang yang menggunakan toilet sambil bermain ponsel sehingga waktu BAB menjadi jauh lebih lama daripada yang diperlukan.
Yang terpenting bukan hanya jenis toilet yang digunakan, tetapi bagaimana seseorang melakukan BAB dengan posisi yang nyaman, tidak memaksakan mengejan, serta menjaga kebiasaan buang air besar secara teratur.
Jika seseorang sering mengalami sembelit, BAB terasa sangat sulit, harus mengejan kuat, atau mengalami perdarahan dari anus, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap hanya sebagai masalah posisi toilet.
Jadi, Toilet Jongkok Lebih Sehat atau Tidak?
Jawabannya tidak sesederhana “toilet jongkok pasti lebih sehat”.
Posisi jongkok memang memiliki keuntungan secara anatomi karena dapat membantu membuka sudut anorektal dan membuat jalur keluarnya feses relatif lebih lurus. Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi manfaatnya terhadap kelancaran BAB dan pengurangan kebutuhan mengejan.
Namun, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa masih terdapat keterbatasan bukti dan bahwa kondisi setiap orang berbeda. Toilet duduk dapat menjadi pilihan yang lebih aman dan nyaman bagi orang lanjut usia, individu dengan keterbatasan mobilitas, atau mereka yang memiliki masalah pada lutut dan sendi.
Dengan demikian, toilet jongkok bukan sekadar mitos jika dikatakan dapat membantu proses BAB. Tetapi klaim bahwa toilet jongkok selalu lebih sehat daripada toilet duduk juga tidak sepenuhnya tepat.
Pilihan terbaik adalah posisi yang memungkinkan BAB berlangsung nyaman, lancar, tidak membutuhkan mengejan berlebihan, serta sesuai dengan kemampuan fisik masing-masing orang.
Pada akhirnya, kesehatan pencernaan tidak hanya ditentukan oleh jenis toilet. Asupan serat dan cairan yang cukup, aktivitas fisik, kebiasaan BAB yang baik, serta penanganan sembelit juga berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Baca: Bahaya Kratom dan Manfaatnya Bila Dikonsumsi
Kesimpulan
Perdebatan mengenai toilet jongkok dan toilet duduk sebenarnya tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua orang. Toilet jongkok mempunyai dasar anatomi dan sejumlah bukti penelitian yang menunjukkan potensi manfaat dalam membantu proses pengeluaran feses.
Namun, toilet duduk tetap dapat menjadi pilihan yang baik, terutama apabila digunakan dengan posisi yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi fisik pengguna.
Jadi, toilet jongkok dapat membantu proses BAB, tetapi bukan berarti toilet duduk otomatis tidak sehat. Yang paling penting adalah menggunakan posisi yang aman dan nyaman serta tidak memaksakan tubuh ketika buang air besar.
Sumber: Okezone Women dan kajian ilmiah BMC Public Health.























