
NABHANI (1909 – 1977)
Muhammad Taqiyyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf An Nabhani,
dinisbahkan kepada kabilah Bani Nabhan, yang termasuk orang Arab penghuni
padang sahara di Palestina. Mereka bermukim di daerah Ijzim yang termasuk
wilayah Haifa di Palestina Utara.
di daerah Ijzim pada tahun 1909. Beliau mendapat didikan ilmu dan agama di
rumah dari ayah beliau sendiri, seorang syaikh yang faqih fid din. Ayah beliau seorang pengajar ilmu-ilmu syari’ah di
Kementerian Pendidikan di Palestina. Ibu beliau juga menguasai beberapa cabang
ilmu syari’ah, yang diperolehnya dari ayahnya, Syaikh Yusuf bin Ismail bin
Yusuf An Nabhani. Beliau ini adalah seorang qadhy (hakim), penyair, sastrawan,
dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah. Mengenai Syaikh
Yusuf An Nabhani ini, beberapa penulis biografi menyebutkan :
Muhammad An Nabhani Asy Syafi’i. Julukannya Abul Mahasin. Dia adalah seorang
penyair, sufi, dan termasuk salah seorang qadly yang terkemuka. Dia menangani
peradilan (qadla’) di Qushbah Janin, yang termasuk wilayah Nablus. Kemudian
beliau berpindah ke Konstantinopel (Istambul) dan diangkat sebagai qadhy untuk
menangani peradilan di Sinjiq yang termasuk wilayah Moshul. Dia kemudian
menjabat sebagai ketua Mahkamah Jaza’ di Al Ladziqiyah, kemudian di Al Quds.
Selanjutnya dia menjabat sebagai ketua Mahkamah Huquq di Beirut. Dia menulis
banyak kitab yang jumlahnya mencapai 80 buah.”
Taqiyyuddin dalam suasana keagamaan yang kental seperti itu, ternyata mempunyai
pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian dan pandangan hidup beliau.
Beliau telah hafal Al Qur’an seluruhnya dalam usia yang amat muda, yaitu di
bawah usia 13 tahun.
pengaruh dari kakek beliau, Syaikh Yusuf An Nabhani, dan menimba ilmu beliau
yang luas. Syaikh Taqiyyuddin juga sudah mulai mengerti masalah-masalah politik
yang penting, di mana kakek beliau mengalami langsung peristiwa-peristiwanya
karena mempunyai hubungan erat dengan para penguasa Daulah Utsmaniyah saat itu.
pelajaran dari majelis-majelis dan diskusi-diskusi fiqih yang diselenggarakan
oleh kakek beliau, Syaikh Yusuf An Nabhani. Kecerdasan dan kecerdikan Syaikh
Taqiyyuddin yang nampak saat mengikuti majelis-majelis ilmu tersebut telah
menarik perhatian kakeknya.
begitu memperhatikan Syaikh Taqiyuddin dan berusaha meyakinkan ayah beliau
-Syaikh Ibrahim bin Musthafa- mengenai perlunya mengirim Syaikh Taqiyuddin ke
Al Azhar untuk melanjutkan pendidikan beliau dalam ilmu syari’ah.
pendidikan dasar-dasar ilmu syari’ah dari ayah dan kakek beliau, yang telah
mengajarkan hafalan Al Qur’an sehingga beliau hafal Al Qur’an seluruhnya
sebelum baligh. Di samping itu, beliau juga mendapatkan pendidikannya di
sekolah-sekolah negeri ketika beliau bersekolah di sekolah dasar di daerah
Ijzim.
sebuah sekolah di Akka untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah.
Sebelum beliau menamatkan sekolahnya di Akka, beliau telah bertolak ke Kairo
untuk meneruskan pendidikannya di Al Azhar, guna mewujudkan dorongan kakeknya,
Syaikh Yusuf An Nabhani.
meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah Al Azhar pada tahun 1928 dan pada tahun
yang sama beliau meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan. Lalu beliau
melanjutkan studinya di Kulliyah Darul Ulum yang saat itu merupakan cabang Al
Azhar. Di samping itu beliau banyak menghadiri halaqah-halaqah ilmiyah di Al
Azhar yang diikuti oleh syaikh-syaikh Al Azhar, semisal Syaikh Muhammad Al Hidlir
Husain -rahimahullah- seperti yang pernah disarankan oleh kakek beliau. Hal itu
dimungkinkan karena sistem pengajaran lama Al Azhar membolehkannya.
menghimpun sistem Al Azhar lama dengan Darul Ulum, akan tetapi beliau tetap
menampakkan keunggulan dan keistimewaan dalam kesungguhan dan ketekunan
belajar.
menarik perhatian kawan-kawan dan dosen-dosennya karena kecermatannya dalam
berpikir dan kuatnya pendapat serta hujjah yang beliau lontarkan dalam
perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi fikriyah, yang diselenggarakan oleh
lembaga-lembaga ilmu yang ada saat itu di Kairo dan di negeri-negeri Islam
lainnya.
Nabhani menamatkan kuliahnya di Darul Ulum pada tahun 1932. Pada tahun yang
sama beliau menamatkan pula kuliahnya di Al Azhar Asy Syarif menurut sistem
lama, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa syaikh Al Azhar dan
menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab, dan ilmu-ilmu syari’ah
seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid, dan yang sejenisnya.
ilmiyah tersebut, An Nabhani dikenal oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat
terdekatnya dari kalangan Al Azhar, sebagai sosok dengan pemikiran yang genial,
pendapat yang kokoh, pemahaman dan pemikiran yang mendalam, serta berkemampuan
tinggi untuk meyakinkan orang dalam perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi
fikriyah. Demikian juga beliau sangatlah bersungguh-sungguh, tekun, dan
bersemangat dalam memanfaatkan waktu guna menimba ilmu dan belajar.
Taqiyuddin An Nabhani











































