
Al-Quran telah menggunakan kata al-khuluq dengan makna agama dan
kebiasaan, di dalam surat al-Syu’araa’ :137, dan al-Qalam: 4. Allah
swt berfirman;
Penafsiran semacam ini juga dianut oleh al-Dlahak, Mujahid, Abu Malik,
al-Rabii’ bin Anas, dan Ibnu Zaid, Imam Ahmad dan lain sebagainya.
Sedangkan Ibnu ‘Athiyyah menafsirkan “khuluq ‘adziim” dengan “adab al-‘adziim” [budi pekerti atau karakter yang agung]. [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsiir]. Sedangkan yang dimaksud “adab” di
sini, bukanlah budi pekerti (karakter) yang lahir secara alamiah atau
nilai-nilai universal yang luhur, akan tetapi adab yang terlahir dari
al-Quran. Imam Thabariy, menyatakan bahwa maksud dari “wa innaka” la’ala khuluqin ‘adzim” adalah “adabin ‘adziim”. Maksudnya,
karakter budi pekerti Rasulullah adalah budi pekerti yang dibentuk oleh
al-Quran, bukan karakter alamiah yang terpisah dari al-Quran dan
sunnah. Dengan kata lain, budi pekerti Rasulullah saw (adab) adalah
Islam dan syariatNya (hukum-hukum Allah swt). Menurut Imam Thabariy, ini
adalah pendapat para ahli tafsir. [Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy]
Qatadah menuturkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa ‘Aisyah pernah
ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw. Beliau ra menjawab, “Akhlaq Rasulullah saw adalah al-Quran.” Sa’id bin Abi ‘Arubah, tatkala menafsirkan firman Allah swt, “wa innaka la’ala khuluq ‘adziim”, menyatakan, “Telah
dituturkan kepada kami, bahwa Sa’id bin Hisyam bertanya kepada ‘Aisyah
tentang akhlaq Rasulullah saw. ‘Aisyah menjawab, “Bukankah kamu membaca
al-Quran.” Imam
Abu Dawud dan Nasa’iy juga meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra,
yang menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw adalah al-Quran.
Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw adalah refleksi
dari al-Quran. Beliau menambahkan lagi, sesungguhnya karakter (akhlaq)
Rasulullah saw merupakan wujud dari ketaatan beliau saw terhadap
perintah dan larangan Allah swt. Beliau saw senantiasa mengerjakan apa
yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang olehNya.
Wajar saja bila di dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”. [HR. Imam Ahmad]
Akhlaq seorang muslim berbeda dengan akhlaq non muslim. Akhlaq seorang
muslim dibentuk berdasarkan al-Quran (aqidah dan syariatNya). Akhlaq non
muslim dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip non Islam. Untuk itu,
meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang
kapitalis dan seorang muslim sama-sama memiliki akhlaq yang baik. Sebab,
proses pembentukkan karakter dirinya tidaklah sama. Kejujuran seorang
muslim selalu didasarkan pada aqidah dan syariat Islam. Dengan kata
lain, kejujurannya adalah buah dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam.
Kejujurannya tidak dibentuk, semata-mata karena jujur itu adalah
nilai-nilai universal atau karena bermanfaat.
dengan kapitalis maupun sosialis. Kejujurannya tidak didasarkan pada
prinsip-prinsip Islam. Kejujurannya hanya didasarkan pada prinsip
manfaat dan kemanusiaan belaka. Kejujurannya sama sekali tidak dibangun
di atas prinsip ketaqwaan kepada Allah swt. Walhasil, akhlaq seorang
muslim berbeda dengan akhlaq orang kafir, meskipun penampakannya mungkin
sama.
seorang muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap
hukum-hukum syara’. Seseorang tidak disebut berakhlaq Islam ketika
nilai-nilai akhlaq tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang
diharamkan Allah swt. Misalnya, pegawai bank ribawi tidak disebut
berakhlaq Islam, meskipun ia terkenal jujur, disiplin dan sopan. Sebab,
ia telah melekatkan sifat-sifat akhlaq pada perbuatan yang diharamkan
Allah swt. Anggota parlemen yang membuat aturan-aturan kufur (hukum yang
berdasar pikiran manusia) juga tidak bisa disebut memiliki akhlaq
Islam, meskipun ia terkenal jujur, amanah dan seterusnya. Sebab,
nilai-nilai akhlaqnya telah melekat pada perbuatan haram.
Walhasil, akhlaq seorang muslim harus dibentuk berdasarkan al-Quran
al-Karim. Dengan kata lain, akhlaq seorang muslim adalah refleksi dari
pelaksanaan hukum-hukum Allah swt.







































