semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
meraih Husnul Khatimah (akhir kehidupan yang baik), semoga Allah Subhaanahu wa
Ta’ala menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
yakni dengan istiqamah menjaga tauhid dan mengikuti sunnah Nabi shallallahu
alaihi wa sallam.
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا
تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون
mengatakan, “Tuhan Kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan,
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih;” dan gembirakanlah
mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs.
Fushshilat: 30)
dapat dicapai kecuali dengan terus belajar tauhid, mengamalkannya dalam
keseharian, dan mendakwahkannya, serta istiqamah di atasnya, dimana
keutamaannya sebagaimana ayat di atas adalah mendapatkan kabar gembira ketika
akan meninggal dunia berupa penjagaan dari hal yang dikhawatirkan (di
hadapannya), dan mendapatkan hiburan sehingga tidak bersedih (terhadap masa
yang telah berlalu dan apa yang ditinggalkannya), serta kabar gembira berupa
surga yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla, di samping mendapatkan keteguhan dalam kehidupan dunia
dan dalam kehidupan akhirat sebagaimana firman Allah Ta’ala di surah Ibrahim
ayat 27, “Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (kalimat tauhid) dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah akan menyesatkan orang-orang yang
zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Tafsir Hidayatul Insan karya penulis surah Fushshilat: 30)
tidak menjadikan maksiat sebagai amal yang terus menerus dilakukan.
Azza wa Jalla
meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Anas, bahwa Nabi shallallahu
alaihi wa sallam pernah menemui seorang pemuda yang akan meninggal dunia, lalu
Beliau bersabda, “Apa yang engkau rasakan?” Ia menjawab, “Demi Allah, wahai
Rasulullah, aku berharap kepada Allah, namun aku takut akan dosa-dosaku,” maka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ»
hati seorang hamba di saat seperti ini, melainkan Allah akan memberikan
harapannya dan mengamankannya dari yang ditakutinya.” (Dihasankan oleh Al
Albani)
sallam juga bersabda,
الظَّنَّ»
antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada
Allah.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Jabir)
Berbuat baik kepada orang lain
alaihi wa sallam bersabda,
الْمَعْرُوْفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوْءِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ
الرَّبِّ وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمُرِ
orang lain dapat menjaga dari kematian yang buruk, sedekah yang dilakukan
secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah, dan silaturrahim
dapat memanjangkan umur.” (Hr. Thabrani dari Abu Umamah, dihasankan oleh Al Albani
dalam Shahihul Jami no. 3797)
waktu shalat, berjalan kaki ke masjid, dan menyempurnakan wudhu.
sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata,
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَحْسَنِ صُورَةٍ، – قَالَ أَحْسَبُهُ فِي الْمَنَامِ – فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ
هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ المَلَأُ الأَعْلَى؟ ” قَالَ: ” قُلْتُ:
لَا “، قَالَ: «فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا
بَيْنَ ثَدْيَيَّ» أَوْ قَالَ: ” فِي نَحْرِي، فَعَلِمْتُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ، قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَلْ تَدْرِي فِيمَ
يَخْتَصِمُ المَلَأُ الأَعْلَى؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فِي الكَفَّارَاتِ،
وَالكَفَّارَاتُ المُكْثُ فِي المَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَالْمَشْيُ عَلَى
الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَإِسْبَاغُ الوُضُوءِ فِي المَكَارِهِ، وَمَنْ
فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَمَاتَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ خَطِيئَتِهِ
كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلْ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ،
وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي
إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ، قَالَ: وَالدَّرَجَاتُ إِفْشَاءُ السَّلَامِ،
وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ “
penampilang yang sangat indah –sepertinya ketika aku tidur- lalu berfirman,
“Wahai Muhammad, tahukah engkau dalam hal apa para malaikat
berbantah-bantahan?” Aku menjawab, “Tidak tahu.” Maka Allah meletakkan
Tangan-Nya di antara kedua pundakku sehingga aku merasakan kesejukan di antara
kedua dadaku –atau pada leherku-, maka aku pun tahu apa yang terjadi di langit
dan di bumi.” Dia berfirman lagi, “Wahai Muhammad, tahukah engkau dalam hal apa
para malaikat berbantah-bantahan?” Aku menjawab, “Ya, dalam hal kaffarat
(pengampunan dosa), dan kaffarat itu terjadi dengan berdiam di masjid setelah
shalat, berjalan kaki menuju shalat berjamaah, dan menyempurnakan wudhu ketika
kondisi tidak menyenangkan. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka dia akan
hidup di atas kebaikan dan meninggal di atas kebaikan, dan dosa-dosanya bersih
sebagaimana ketika dia dilahirkan oleh ibunya.” Dia juga berfirman, “Wahai
Muhammad, ketika engkau shalat ucapkanlah,
إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ
المَسَاكِينِ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ
غَيْرَ مَفْتُونٍ
meminta kepada-Mu agar dapat mengerjakan berbagai kebaikan, meninggalkan
kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan jika Engkau hendak menimpakan
cobaan kepada hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak
terfitnah.”
derajat, yaitu ketika menyebarkan salam, memberi makan orang lain, shalat di
malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” (Dishahihkan oleh Al Albani)
tidak berlebihan dalam mencintai dunia
setan saat menjelang ajal
shallallahu alaihi wa sallam biasa berdoa,
مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرَقِ، وَالْهَرَمِ،
وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ
بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ
لَدِيغًا»
kepada-Mu dari tertimpa reruntuhan, jatuh dari tempat yang tinggi, dari
tenggelam, terbakar, dan penyakit tua. Aku juga berlindung kepada-Mu dari
dikuasai setan saat akan meninggal dunia. Aku juga berlindung kepada-Mu dari
mati di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri, dan aku berlindung kepada-Mu
dari mati karena terpatuk (hewan berbisa).” (Hr. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)
memperoleh Husnul Khatimah
بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ
Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah dan janganlah Engkau akhiri
hidup kami dengan su’ul khatimah (akhir yang buruk).“
pagi dan petang
Syaddad bin Aus, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا
صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ
لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ” قَالَ: «وَمَنْ
قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ
يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ
مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»
(Pemimpin istighfar) adalah engkau mengucapkan, “Allahumma anta Rabbi…dan
seterusnya sampai illaa anta.” (artinya:
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku
adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku
berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat–Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah
aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
membacanya dengan yakin di bagian dari siang hari (pagi hari),
lalu ia meninggal dunia pada hari itu, maka ia akan masuk surga. Demikian juga jika membacanya di
bagian dari malam hari (sore hari) sambil meyakininya, lalu ia meninggal dunia sebelum tiba pagi hari maka
ia akan termasuk penghuni surga.”
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku,
فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ،
وَقُلْ:” اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ
وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ،
رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا
إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي
أَرْسَلْتَ ” فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ
مَا تَقُولُ
sebagaimana wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah ke sisimu sebelah
kanan, dan ucapkanlah, “Allahumma aslamtu…sampai arsalta.” (artinya: Ya
Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku
serahkan urusanku kepada-Mu, aku meminta perlindungan kepada-Mu terhadap
punggungku dengan rasa harap dan cemas kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung
dan tempat keselamatan selain kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau
turunkan dan Nabi-Mu yang engkau utus). Jika engkau wafat pada malam hari itu,
maka engkau wafat di atas fitrah, dan jadikanlah kalimat itu sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur).” (HR. Bukhari dan Muslim)
اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ
الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ
عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ
أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ
وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا .
yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang
melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya
tinggal sehasta, akan tetapi catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan
perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada
orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan
neraka hanya tinggal sehasta, akan tetapi catatan mendahuluinya, akhirnya dia
melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
orang yang melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan
surga hanya tinggal sehasta akan tetapi catatan itu mendahuluinya, akhirnya dia
melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka,”
hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya orang yang mengerjakan amalan ahli
surga niatnya baik, karena orang tersebut meskipun tampak di hadapan manusia
mengerjakan amalan penduduk surga namun memiliki niat yang buruk, dan niat
buruk itu menguasai dirinya sehingga ia mendapatkan suu’ul khaatimah (akhir
hayat yang buruk), nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.
meninggal dunia sesuai keadaannya ketika hidup, maka hendaknya ia berusaha
tetap di atas iman dan amal saleh. Kita meminta kepada Allah agar Dia
memberikan kepada kita Husnul Khatimah, aamin,
berkata, “Saat Bilal bin Rabah akan meninggal dunia ia berkata,
“Besok kami akan menemui para kekasih,
yaitu Muhammad dan para pengikutnya.” Ketika itu istrinya berkata, “Aduh
sengsaranya diriku.” Bilal berkata,
“Aduh bahagianya diriku.”
1/359)
berkata, “Aku menemui Imam Syafi’i saat ia sakit yang membawanya kepada
kematian, aku pun bertanya kepadanya, “Wahai
Abu Abdillah, bagaimana keadaanmu di pagi ini?”
kepalanya, “Keadaanku
di pagi ini akan pergi meninggalkan dunia, akan berpisah dengan
saudara-saudaraku, akan menemui amal burukku, dan akan menghadap Allah Ta’ala.
Aku tidak tahu nasib ruhku, akankah menuju ke surga sehingga Aku mengucapkan
selamat kepadanya, ataukah ke neraka sehingga aku berduka cita terhadapnya?”
Lalu beliau pun menangis. (As Siyar
10/75)
berkata,”Ketauhilah, bahwa yang dipilih untuk seorang hamba pada saat sehatnya
adalah memiliki rasa takut dan rasa harap secara sama, sedangkan ketika sakit,
maka didahulukan rasa harap.”
sallam bersabda,
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ
antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada
Allah.” (Hr. Muslim)
wa shahbihi wa sallam.
bin Musa
Maraji: Maktabah Syamilah, Kutubus Sittah, Riyadhush
Shalihin (Imam Nawawi), Hidayatul Insan (Penulis), 10 Kiat Meraih Husnul Khatimah (tulisan
Ust. Najmi Umar Bakkar), dll.





































