salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
tentang virus corona, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas
karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
rahimahullah dalam Thaba’iul Buldan berkata -sejak 8 abad yang silam-:
محلُّ الطواعين والأمراض القتالة، وأهلها يتحرزون من ذلك غاية التحرز “.
yang paling banyak wabah. Ia menjadi tempat wabah tha’un (semacam pes) dan
penyakit-penyakit mematikan lainnya. Penduduknya berusaha sekali menjaga diri
daripadanya.”
dikuasai oleh rezim Komunis yang tidak beragama, maka sangat wajar sekali
banyak muncul virus dari negara tersebut. Mereka tidak memperhatikan kebersihan
diri dan tempat. Berbeda dengan Islam yang memperhatikan kebersihan diri dari
hadats dan najis, serta kebersihan pakaian dan tempat shalat dari najis.
berbahaya daripada penyakit badan. Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata,
القلوب أصعب من أمراض الأبدان، لأن غاية مرض البدن أن يُفضي بصاحبه إلى الموت،
وأما مرض القلب فيُفضي بصاحبه إلى الشقاء الأبدي، ولا شفاء لهذا المرض إلا بالعلم
دار السعادة ١/٣٧٠
sebenarnya lebih berat daripada penyakit badan, karena akhir dari penyakit
badan adalah membawanya kepada kematian, sedangkan penyakit hati membawa kepada
kesengsaraan abadi, dan obatnya hanya dengan ilmu (belajar).”
1/370)
berkata tentang virus corona,
صغير
الواقي
الوضوء هو المطهر
المضاد
الاختلاط هو البلاء
kecil yang menguatkan kepada dunia bahwa,
itu sebagai pelindung
sebagai penyuci
sebagai antivirus
bebas sebagai bala bencana
قال الله تعالى : سنريهم آياتنا في الآفاق وفي أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق
tampakkan ayat-ayat kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri agar
nyata bahwa Al Quran adalah benar.”
(Qs. Fushshilat: 53)
Tersebarnya Wabah)
mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ، وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ، حَتَّى
يُصْبِحَ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ
بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ
siapa yang mengucapkan “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil
ardhi walaa fis samaa wa huwas sami’ul aliim” (artinya: dengan nama Allah
yang tidak ada sesuatu pun dapat membahayakan bersama nama-Nya baik di langit
maupun di bumi, dan Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui) sebanyak tiga kali,
maka dia tidak akan ditimpa musibah yang datang tiba-tiba sampai sore hari
(dari pagi hari), dan barang siapa yang mengucapkannya di pagi hari sebanyak
tiga kali, maka dia tidak akan ditimpa musibah yang datang tiba-tiba sampai
sore hari.” (Hr. Abu Dawud no. 5088, dishahihkan oleh Al Albani)
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini di
pagi dan sore,
الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ
وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي،
وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي،
وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
Allah, sesungguhnya aku meminta maaf dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya
Allah, aku meminta maaf dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan
hartaku. Ya Allah, tutupilah aibku, tenangkanlah rasa takutku. Jagalah aku dari
depan, belakang, kanan, kiri, atas, dan bahaya tiba-tiba dari bawahku.” (Hr.
Ibnu Majah dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)
hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa
sallam pernah melewati segolongan kaum yang mendapat bala musibah, maka Beliau
bersabda,
الْعَافِيَةَ
Allah Azza wa Jalla?” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no.
2197).
rahimahullah berkata,
meminta kepada Allah keselamatan (dari musibah) karena orang yang mendapatkan
musibah meskipun berat musibahnya tidaklah lebih berhak meminta diangkat
musibah itu daripada orang yang terjaga yang aman dari musibah. Mereka yang
mendapatkan musibah hari ini, kemarin adalah orang-orang yang sehat, dan
orang-orang yang mendapatkan musibah keesokan harinya, hari ini adalah
orang-orang yang sehat.” (Uddatush Shabirin hal. 232)
keluar menuju Syam. Ketika sampai di daerah Sargh (kampung ke arah Syam dekat
Hijaz) sampai berita kepadanya, bahwa telah tersebar wabah di Syam, kemudian
Abdurrahman bin Auf menyampaikan
kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ، فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ
بِهَا، فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»
kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah mendatanginya.
Tetapi jika wabah itu menimpa sebuah tempat sedangkan kalian berada di sana,
maka jangan keluar daripadanya karena hendak melarikan diri daripadanya.”
Bukhari dan Muslim)
Abu Ubaidah ibnul Jarrah menjadi gubernur Syam, maka ia wafat karena tha’un,
lalu digantikan oleh Mu’adz, maka Mu’adz juga wafat karena tha’un. Namun ketika
yang menjadi gubernur adalah Amr bin ‘Ash, maka ia berkhutbah di tengah-tengah
manusia sambil berkata, “Wahai
manusia! Sesungguhnya tha’un seperti api yang menyala-nyala, kalian yang
menjadi bahan bakarnya, maka berpencarlah dan tempatilah gunung-gunung agar api
itu tidak menemukan bahan bakarnya sehingga akan padam dengan sendirinya.”
mereka semua selamat dan Allah pun mengangkat bala musibah itu.
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا
وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ
وِكَاءٌ، إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ»
wadah makanan dan rapatlah bejana minuman, karena dalam setahun ada suatu malam
yang pada malam itu wabah turun, dimana tidaklah wabah itu melewati wadah atau
bejana yang tidak ada tutupan atau tidak dirapatkan melainkan akan masuk ke
dalamnya.” (Hr. Muslim)
kematian.
مِنْ آيَاتِ اللهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ،
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
kekuasaan Allah. Keduanya tidaklah terjadi gerhana karena meninggalnya
seseorang dan hidupnya seseorang. Apabila kalian melihatnya, maka bertakbirlah,
berdoalah kepada Allah, shalat, dan bersedekahlah.” (Hr. Muslim)
berkata, “Mereka diperintahkan menghindarkan bala musibah dengan berdzikir,
berdoa, shalat, dan sedekah.”
alaihi wa sallam memerintahkan ketika terjadi gerhana untuk shalat,
memerdekakan budak, bersegera berdzikir kepada Allah Ta’ala, dan bersedekah.
Ini semua dapat menolak sebab terjadinya musibah.”
menghindarkan musibah adalah:
shalat dengan khusyu dan thumaninah.
dalil bahwa barang siapa yang ditimpa perkara dahsyat seperti cobaan berat
sepatutnya segera shalat.”
beristighfar dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
kamu berada di antara mereka. Dan tidak pula Allah akan mengazab mereka, sedang
mereka meminta ampun.” (Qs.
Al Anfaal: 33)
banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.
إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Allah di waktu senggang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu susah.” (Hr.
Ahmad, Thabrani, Abu Nu’aim, dan Hakim dari Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al
Albani dalam Shahihul Jami no. 2961)
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar pada saat Idul Adh-ha
atau Idul Fitri, lalu Beliau mendatangi kaum wanita dan bersabda,
تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
kaum wanita! Bersedekahlah, karena aku diperlihatkan bahwa kalian adalah
penghuni neraka paling banyak.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
hadits ini adalah bahwa sedekah dapat menolak bala musibah.
تَقِي مَصَارِعَ السُّوْءِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَصِلَةُ
الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمُرِ
kematian yang buruk, sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dapat
memadamkan kemurkaan Allah, dan silaturrahim dapat memanjangkan umur.” (Hr.
Thabrani dari Abu Umamah, dihasankan oleh Al Albani
dalam Shahihul Jami no. 3797)
pengaruh ajaib dalam menolak berbagai bala musibah meskipun yang
mengeluarkannya orang fasik, zalim, bahkan orang kafir sekalipun, karena Allah
Ta’ala menghindarkan berbagai musibah dengannya. Hal ini adalah sesuatu yang
sudah maklum di kalangan masyarakat baik kalangan khusus maupun umum. Bahkan
semua orang mengakui hal ini karena mereka telah mencobanya.”
banyak; tidak ada yang dapat menjumlahkan manfata itu selain Allah Ta’ala. Di
antara faedahnya juga adalah bahwa sedekah dapat menghindarkan kematian buruk,
serta menolak bala musibah bahkan menghindarkan pula musibah yang menimpa orang
yang zalim.”
berdoa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَمِمَّالَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ
yang belum turun, maka hendaknya kalian wahai hamba-hamba Allah berdoa.” (Hr.
Tirmidzi, Hakim, dan Baihaqi, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami
no. 3409)
obat paling bermanfaat. Dia adalah musuhnya bala musibah, menghindarkan dan
mengatasinya, serta menolak turunnya musibah.”
Penyakit Berbahaya
أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ
الْأَسْقَامِ
shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa,
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ
الْأَسْقَامِ
aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, kusta, dan penyakit buruk
lainnya.”
dan Nasa’i no. 5493, dishahihkan oleh Al
Albani)
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يُورِدُ الْمُمْرِضُ عَلَى الْمُصِحِّ»
pemilik unta yang sakit membawa unta itu kepada unta yang sehat.” (Hr. Bukhari
dan Muslim)
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
عَدْوَى»
ada penyakit menular sendiri.”
“Bagaimana menurut engkau terkait unta yang berada di padang pasir seperti
gerombolan kijang, lalu datang kepadanya unta yang berkudis dan bercampur baur
dengannya sehingga menularinya?” Maka Nabi shallallahu
alaihi wa sallam
bersabda, “Siapa yang menulari yang pertama?” (Hr. Bukhari)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Beliau bersabda, “Tidak ada penyakit
menular,” maka pernyataan ini tertuju kepada keyakinan kaum Jahiliyyah yang
menyandarkan terjadinya hal itu kepada selain Allah, dan terkadang dengan
kehendak Allah Dia menjadikan sebab orang yang sehat terkena penyakit itu
ketika bergaul dengan yang terkena penyakit. Oleh karenanya, Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,
فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ
engkau dari orang yang berpenyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa.”
membawa unta itu kepada unta yang sehat.”
siapa yang mendengar ada wabah di sebuah tempat, maka jangan datangi.”
Bari 10/161)
kusta adalah sudah mansukh (dihapus), namun yang sahih yang dipegang oleh
kebanyakan ulama, bahwa hal itu tidak mansukh. Hadits tersebut perlu dijama’
(digabungkan dan dikompromikan), yaitu bahwa perintah menjauhinya adalah sunah
dan sebagai sikap hati-hati dan bolehnya makan dengan orang yang kusta karena
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukannya sambil bertawakkal kepada
Allah Azza wa Jalla.
terkena penyakit kusta dalam hadits di atas adalah termasuk ke dalam kaidah Saddudz
Dzara’i (pencegahan dari terjatuh ke dalam tindakan yang terlarang), yakni
agar seorang yang mendekati orang yang terkena penyakit kusta tidak beranggapan
bahwa penyakit tersebut bisa menular sendiri, akhirnya ia membenarkan anggapan
kaum Jahiliyyah itu dan jatuh ke dalam dosa, padahal tidak ada penyakit yang
menular dengan sendirinya. Oleh karena itu, seseorang diperintahkan menjauhi
orang yang terkena penyakit kusta agar dalam hatinya tidak ada anggapan kaum
Jahiliyyah, yaitu bahwa penyakit bisa menular sendiri.” (Lihat pula Taisir Musthalah Hadits karya Dr. Mahmud Ath
Thahhan hal. 47).
disampaikan, maksudnya seseorang terkadang mengucapkan kata-kata yang
menunjukkan dirinya pesimis sehingga dirinya mendapatkan musibah sesuai yang
diucapkannya.
syara, kenyataan, dan peristiwa di masa lalu maupun sekarang
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ
يَعُودُهُ، قَالَ : وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا
دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ فَقَالَ لَهُ : ” لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ
شَاءَ اللَّهُ “. قَالَ : قُلْتَ : طَهُورٌ، كَلَّا بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ
أَوْ تَثُورُ عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ الْقُبُورَ. فَقَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” فَنَعَمْ إِذَنْ
radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
pernah menemui seseorang yang sakit yang
sedang dijenguknya, lalu beliau bersabda,
apa-apa Insya Allah membersihkan (kesalahan).”
bertambah menimpa kepada orang yang sudah lanjut usia dan akan dijemput ke
kuburan,”
“Kalau begitu, memang demikian.” (Hr. Bukhari)
jika engkau tidak menerima pernyataanku, maka engkau akan memperoleh apa yang
engkau ucapkan. Tampaknya orang Arab badui ini meninggal karena sebab demam
tersebut. (Syarh Kitab At Tauhid Shahih Bukhari)
di antaranya:
bantahan terhadap kaum Atheis yang mengingkari adanya tuhan, namun anehnya
mereka percaya adanya virus ini karena ada bekas pengaruhnya, padahal adanya
Allah Ta’ala lebih banyak lagi buktinya, seperti adanya mereka, langit, bumi,
planet, bintang-bintang, dan tersusun rapihnya alam semesta ini, dst.
kelemahan manusia dengan segala teknologi dan kecerdasannya, ternyata mereka
tumbang oleh virus yang kecil ini. Oleh karenanya, mereka tidak pantas berlaku
sombong dan menyatakan ‘tidak ada yang lebih hebat daripada kami’ seperti kaum
Aad yang dibinasakan Allah Azza wa Jalla dan sekarang diikuti oleh rezim
Komunis Cina.
manusia agar tidak berlebihan mengejar dunia sampai meninggalkan beribadah dan
mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.
kebenaran Islam ketika mengharamkan mengkonsumsi makanan tertentu seperti babi,
kucing, anjing, kelelawar, ular, tikus, hewan bertaring, dsb.
bahayanya pergaulan bebas.
pentingnya bersuci untuk menghilangkan hadats dan najis.
menutup aurat.
عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي «أَنَّهُ
عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً
لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ
صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ،
إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»
anha istri Nabi shallallahu
alaihi wa sallam ia berkata,
bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang wabah tha’un,
maka Beliau menyampaikan, bahwa wabah tha’un adalah azab yang Allah kirim
kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang
beriman. Tidak ada seorang pun yang tertimpa wabah tha’un, lalu ia sabar di
negerinya sambil mengharap pahala, ia juga yakin bahwa tidak ada sesuatu pun
yang menimpanya melainkan telah ditetapkan Allah kecuali dia akan memperoleh
pahala syahid.” (Hr. Bukhari no. 3474)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam ada yang wafat karena wabah thaun seperti Abu
Ubaidah ibnul Jarrah seorang yang dijamin masuk surga dan Mu’adz bin Jabal
radhiyallahu anhuma.
Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa






































