الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
pembahasan tentang wala dan bara dalam Islam. Semoga Allah
menjadikan risalah ini ditulis ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
aamin.
Walaa’ maksudnya memberikan rasa cinta, kesetiaan, dan pembelaan kepada Allah, Rasul-Nya
dan kaum mukminin. Sedangkan Al Baraa’ maksudnya berlepas diri, memusuhi, dan
membenci musuh-musuh Allah. Al Walaa’ dan Al Baraa’ termasuk bagian Akidah
Islam.
فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
keimanan yang paling kuat adalah berwala’ karena Allah, berbara’ karena Allah.
Cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabrani dalam Al Kabir,
dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 2536)
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ : أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ
إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِى النَّارِ » .
tiga yang jika semuanya ada (dalam diri seseorang) niscaya ia akan mendapatkan
manisnya iman; Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya,
cinta kepada seseorang karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran
sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim)
tempat, nasab maupun masa atau generasi adalah bersaudara. Satu sama lain
saling mencintai, mendoakan, dan memintakan ampunan. Allah Subhaanahu wa
Ta’aala berfirman,
جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
berdoa, “Ya Rabb kami, berikanlah ampun kepada kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)
mengatakan bahwa orang-orang kafir adalah saudara kita, padahal kaum muslimin
itulah saudara kita. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ
sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu
seagama. (QS. At Taubah: 11)
pembelaan) kepada orang-orang kafir
bahwa tidak mungkin kaum mukmin memberikan wala’ kepada orang-orang kafir-,
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. (QS. Al Mujaadilah: 22)
surat Al Mumtahanah ayat 8 diterangkan bahwa kita dibolehkan berbuat baik dan
bersikap adil kepada orang kafir yang tidak memerangi kita?”
ayat tersebut adalah bahwa kaum kafir mana saja yang menahan diri; tidak
memerangi kaum muslimin dan tidak mengusir kaum muslimin dari kampung halaman,
maka kaum muslimin boleh membalas sikap mereka dengan berbuat baik dan bersikap
adil dalam muamalah duniawi, namun tidak disertai rasa cinta kepada mereka
dengan hatinya, karena Allah mengatakan, “(Allah tidak melarang kamu) untuk
berbuat baik dan Berlaku adil kepada mereka.” (Terjemah QS. Al Mumtahanah:
8)
memberikan wala’ dan rasa cinta kepada mereka.”
(berbuat baik) kepada kedua orang tua yang kafir,
جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا
تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ
أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ
dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka
Aku akan beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15).”
berhubungan secara baik dan membalas seimbang adalah satu masalah, dan
kecintaan adalah masalah lain. Di samping itu, karena bermu’amalah yang baik
bisa mendorong orang-orang kafir masuk ke dalam Islam. Hal ini termasuk sarana
dakwah, berbeda dengan rasa cinta dan pemberian wala’, kedua sikap itu
menunjukkan pengakuan terhadap keyakinan orang kafir serta ridha’ terhadapnya,
dan hal itu bisa menjadi sebab yang menghalanginya untuk mengajak masuk Islam.
memberikan wala’ kepada orang-orang kafir, berikut ini contoh-contoh berwala’
kepada mereka,
(menyerupai) orang-orang kafir
menyerupai itu menunjukkan rasa cinta kepada mereka. Oleh karena itu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)
meniru, baik berupa kebiasaan, ibadah, akhlak, maupun jalan hidup mereka.
Contoh meniru mereka adalah mencukur janggut, memanjangkan kumis, dsb.
di negeri mereka dan tidak mau berpindah ke negeri kaum muslimin
cinta kepada mereka. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyuruh kaum
muslimin berhijrah (pindah) ke negeri saudaranya ketika mampu, dan melarang
tetap terus tinggal di sana kecuali jika tidak mampu. Allah Subhaanahu wa
Ta’aala berfirman,
الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ
كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ
أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ
وَسَاءَتْ مَصِيرًا
keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam
keadaan bagaimana kamu ini?” mereka menjawab, “Kami adalah
orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para Malaikat berkata,
“Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi
itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa’: 97)
sendiri di sini, ialah kaum muslimin Mekkah yang tidak mau berhijrah bersama
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan mereka mampu. Akhirnya mereka
dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar,
sehingga di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.
menerima ‘udzur tinggal di negeri orang-orang kafir selain kaum lemah yang
tidak mampu berhijrah (lihat ayat ke 98 surat An Nisa’).
bertujuan untuk dakwah (menyiarkan agama Islam).
(bepergian) ke negeri kaum kafir hanya semata-mata untuk bersenang-senang atau
tamasya
kecuali jika terpaksa. Misalnya untuk pengobatan, berdagang, dan mempelajari
tekhnologi untuk kemajuan kaum muslimin. Setelah selesai ia harus segera
kembali. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
terpenuhi tiga syarat: Pertama, dia memiliki ilmu yang bisa menangkal
syubhat (tipu daya pemikiran orang-orang kafir) yang dating. Kedua, dia
memiliki agama yang kuat yang bisa menjaganya dari berbagai syahwat. Ketiga,
dibutuhkan (untuk pergi ke sana seperti untuk berobat, mempelajari tekhnologi
untuk kemajuan kaum muslimin setelah kembali, berdagang, dsb).”
‘izzah (bangga) terhadap Islam dan mewaspadai tipu daya orang-orang kafir.
tujuan dakwah.
dan menolong mereka memerangi kaum muslimin
ini termasuk pembatal-pembatal keislaman –wal iyadz billah-.
Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
bin Musa
Contoh-contoh ini kami ambil dari Al Wala’ wal Bara’ fil Islam karya Dr.
Shalih Al Fauzan.





































