الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Riyadhush Shalihin yang banyak kami rujuk dari kitab Syarh
Riyadhush Shalihin karya Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy, kitab
Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin Ied Al Hilaliy, dan lainnya. Hadits-hadits di dalamnya merujuk kepada kitab Riyadhush
Shalihin, akan tetapi kami mengambil matannya dari kitab-kitab
hadits induk. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini
ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ
أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ
يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»
berkata, “Ada dua orang bersaudara di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;
yang satunya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk belajar
agama), sedangkan yang satu lagi bekerja, lalu yang bekerja ini mengeluhkan
tentang saudaranya yang hanya datang belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam (tidak bekerja), maka Beliau bersabda, “Boleh jadi engkau mendapatkan
rezeki karena sebabnya.” (HR. Tirmidzi dengan isnad yang shahih sesuai syarat
Muslim)
menjaga syariat Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.
para penuntut ilmu syar’i.
pekerjaan dan tidak menjadi tanggungan orang lain.
rezeki.
sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud: 112)
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ—نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي
الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي
أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ —نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
“Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan,
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka
dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”–Kamilah
pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang
kamu minta.–Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS.
Fushshilat: 30-32)
اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ—أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً
بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Tuhan Kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, maka
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak (pula) berduka
cita.–Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai
balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaaf: 13-14)
قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا
أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ: ” قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ،
فَاسْتَقِمْ “
berkata, “Aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku sebuah
perkataan dalam Islam yang tidak saya tanyakan kepada seorang pun setelahmu.”
Beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim)
menghimpun semua perkara kebaikan.
wujud-Nya, Rububiyyah-Nya (keesaan-Nya dalam menguasai dan mengatur alam
semesta), Uluhiyyah-Nya (keesaan-Nya untuk diibadati), nama dan sifat-Nya,
hukum-hukum-Nya, berita yang disampaikan-Nya, kemudian tetap istiqamah di atas
syariat-Nya.
istiqamah kembali kepada dua hal, yaitu: benarnya keimanan kepada Allah dan
mengikuti apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir maupun
batin.”
mengetahui.
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَارِبُوا وَسَدِّدُوا، وَاعْلَمُوا
أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ
وَلَا أَنْتَ؟ قَالَ: «وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَةٍ
مِنْهُ وَفَضْلٍ»
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mendekatlah dan
bersikap luruslah! Ketahuilah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang
selamat karena amalnya.” Para sahabat berkata, “Apakah engkau juga wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Demikian pula saya, hanyasaja Allah telah
melimpahkan kepadaku rahmat dan karunia-Nya.” (HR. Muslim)
tanpa berlebihan dan meremehkan, sedangkan maksud “sikap lurus” adalah
istiqamah.
tetap menaati Allah Ta’ala.”
Ta’ala. Akan tetapi, amal saleh merupakan sebab yang memasukkan seseorang ke
surga sebagaimana firman Allah Ta’ala di surat An Nahl ayat 32, dan seseorang
diberi taufik untuk beramal saleh adalah karena karunia Allah dan rahmat-Nya.
istiqamah di atas jalan Allah Ta’ala tanpa bersikap berlebihan dan meremehkan.
dan tertipu) oleh amalnya, sehingga berjalan di atas sikap raja (berharap)
tanpa ada rasa khauf (takut) dalam dirinya.
Bersikap istiqamah disesuaikan dengan kemampuan.
beramal saleh dan tidak bersandar kepada kemampuan diri sendiri.
KIAMAT, SEMUA PERKARA YANG TERKAIT DENGAN KEDUANYA, KETELEDORAN JIWA, BAGAIMANA
MENATANYA, DAN MEMBAWANYA UNTUK TETAP ISTIQAMAH
للهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas)
berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu berfikir.” (QS. Saba’: 46)
وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآياتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ—الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا
خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ
dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal,–(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau.” (QS. Ali Imran: 190-191)
خُلِقَتْ–وَإِلَى السَّمَاءِ
كَيْفَ رُفِعَتْ–وَإِلَى الْجِبَالِ
كَيْفَ نُصِبَتْ–وَإِلَى الأَرْضِ
كَيْفَ سُطِحَتْ–فَذَكِّرْ إِنَّمَا
أَنْتَ مُذَكِّرٌ
bagaimana dia diciptakan,–Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?–Dan gunung-gunung
bagaimana ia ditegakkan?–Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?–Maka berilah
peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al Ghasyiyah: 17-21)
di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan…dst.” (QS. Muhammad: 10)
banyak, sedangkan dalam hadits sebelumnya sudah disebutkan,
menghisab dirinya.” (Namun hadits ini dhaif sebagaimana disebutkan pada hadits
no. 66)
seseorang menggunakan akal-fikirannya agar dapat menyimpulkan sesuatu dari yang
dia fikirkan, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan demikian.
Maraji’: Tathriz Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy),
Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin Shalih Al Utsaimin), Bahjatun Nazhirin (Salim bin ’Ied Al
Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, dll.
seseorang tetap berada di atas syariat Allah Ta’ala sebagaimana yang
diperintah-Nya, tentunya diawali sikap ikhlas sebelumnya (Syarh Riyadhush
Shalihin 1/302).






































