untuk berbuat kebaikan dan sekali gus melarang manusia untuk berbuat keji dan
mungkar. “Innallaha ya’muru bil a’dli wal ihsaan, wa-itaa- idzil qurba wa
yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal
baghyi. Ya’izhukum la’alakum tadzakkaruun” Sesungguhnya Allah menyuruh
(kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
memerintahkannya untuk berbuat baik pula. Allah berfirman : “Wa ahsin kamaa
ahsanallahu ilaika” Berbuat baiklah (kepada manusia) sebagai mana Allah
telah berbuat baik kepadamu. (Q.S al Qashash 77).
sesama. Diantara bentuk perbuatan baik kepada manusia bisa berupa harta,
tenaga, perlindungan, ilmu, nasehat dan yang lainnya.
berterima kasih atas kebaikan orang lain. Mungkin karena kebaikan yang
diterimanya tidak seperti yang diharapkan. Bisa jadi juga sebagaimana
difirmankan Allah Ta’ala dalam beberapa ayat al Qur-an bahwa memang sedikit sekali manusia yang bersyukur.
yasykuruun”. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.(Q.S al Baqarah 243).
berfirman : “Wa huwal ladzii
ansya-alakumus sam’a wal abshaara wal af-idatun, qaliilan maa tasykuruuun”.
Dan Diala yang telah menciptakan bagimu pendengaran,penglihatan dan hati
nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. (Q.S
al Mu’minun 78).
bahwa Rasulullah telah mengingatkan kita untuk senantiasa berterima kasih
kepada orang orang yang telah berbuat baik kepada kita. Rasulullah bersabda : “Man laa yasykurun naasa laa yasykurullaha” Barang
siapa tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada
Allah. (H.R Imam at Tirmidzi dari Abu Hurairah).
al Munawi dari Ibnul Arabi, dia berkata : Tidaklah orang itu bersyukur kepada
Allah Ta’ala melainkan bila dia berterima kasih kepada manusia. Sementara itu
makna Allah bersyukur kepada manusia adalah Allah Ta’ala memuji orang yang
berbuat kebaikan dan memberi nikmat yang tidak terputus (Faidhul Qadir).
Khaththabi berkata : Hadits ini mengandung dua makna. (1) Orang yang kebiasaannya
mengingkari kebaikan manusia dan tidak mau berterima kasih kepada orang yang
berbuat baik, biasanya dia menginngkari nikmat Allah dan tidak mau bersyukur.
(2) Allah Ta’ala tidak mau menerima kesyukuran hamba kepada-Nya jika dia tidak
berterima kasih kepada orang yang berbuat kepadanya dan mengingkari kebaikan
orang lain. (Tuhfatul Ahwadzi).
memberi nasehat kepada kita untuk senantiasa membalas kebaikan orang lain
seberapa mampu, yaitu sebagaimana sabda beliau dari Jabir bin Abdullah : “Barangsiapa diberi sesuatu lalu ia
menerimanya, hendaknya ia memberi balasan. Bagi yang tidak dapat (memberi
balasan) maka hendaklah memuji maka berarti ia telah bersyukur. Dan barangsiapa
yang menutup nutupinya maka ia telah kufur (tidak pandai bersyukur). H.R at
Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al Albani).
kita semua selalu berusaha menjadi orang yang tidak pernah lalai untuk
berterima kasih terhadap kebaikan orang lain. Wallahu A’lam. (672)






































