الله الرحمن الرحيم
Belajar Mudah Ilmu Tauhid (7)
dan Kaedah Penting Dalam Tauhidul Ibadah)
puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat,
amma ba’du:
Islam, Iman, dan Ihsan, hakikat ibadah, dan kaedah penting dalam Tauhidul
Ibadah yang kami terjemahkan dari kitab At Tauhid Al Muyassar karya
Syaikh Abdullah bin Ahmad Al Huwail; semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas
karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
(definisi) Ihsan
dari berbuat buruk. Secara syara’, ihsan adalah merasa diawasi Allah baik
ketika sepi maupun ramai.
beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak
merasakan begitu, ketahuilah, bahwa Dia melihatmu.
mencakup empat perkara, yaitu: dengan harta, dengan kedudukan, dengan ilmu, dan
dengan badan.
Allah. Untuk hal ini ada dua tingkatan, yaitu:
menyaksikan, yakni engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya. Ini adalah tingkatan yang paling tinggi.
merasa dilihat dan diawasi, yakni jika engkau tidak bisa merasakan begitu,
maka ketahuilah, bahwa Dia melihatmu.
الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (Terj. QS. An Nahl: 128)
shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril tentang
ihsan,
كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak merasakan begitu,
ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Ihsan
tiga kata tersebut secara bersamaan, maka masing-masingnya memiliki arti
tersendiri.
amalan yang zahir (tampak), maksud Iman adalah perkara-perkara gaib,
sedangkan maksud ihsan adalah tingkatan agama yang paling tinggi.
disebutkan secara terpisah, maka kata ‘Islam’ sudah masuk ke dalamnya Iman.
Kata ‘iman’ sudah masuk ke dalamnya Islam. Dan kata ‘Ihsan’ sudah
masuk di dalamnya Islam dan Iman.
diri dan bersikap tunduk. Adapun secara syara’, ibadah adalah kata yang
mencakup semua yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan
maupun perbuatan; yang tampak maupun yang tersembunyi.
kepada kaum mukallaf (akil-baligh) sebagai ibadah
dan mengerjakannya dalam keadaan tunduk dan menghinakan diri kepada Allah.
takut, dan berharap.
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus.”
(Terj. QS. Al Bayyinah: 5)
wa sallam.
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” (Muttafaq
‘alaih)
Kauniyyah
Syar’iyyah
adalah ketundukan alam semesta kepada Allah. Ibadah ini mencakup semua makhluk;
tidak ada seorang pun yang terlepas daripadanya, baik orang mukmin, orang
kafir, orang baik, dan orang jahat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً
di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang
hamba.” (Terj. QS.
Maryam: 93)
ketundukan kepada perintah Allah Ta’ala yang syar’i.
taat kepada Allah dan mengikuti apa yang
dibawa para rasul. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً
Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah
hati.” (Terj. QS.
Al Furqan: 63)
berikut:
sebagai ibadah, maka mengarahkannya kepada Allah adalah tauhid, sedangkan
mengarahkannya kepada selain-Nya adalah syirk dan sama saja mengadakan
tandingan.
antaranya:
تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Terj. QS. An Nisaa’: 36)
تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ
supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (Terj. QS. Al Israa’: 23)
مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu, janganlah kamu
mempersekutukan sesuatu dengan Dia.”
(Terj. QS. Al An’aam: 151)
kepada selain Allah adalah syirk.
jika diarahkan kepada selain Allah adalah syirk.
diarahkan kepada selain Allah adalah syirk.
kepada selain Allah adalah syirk.
a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa
sallam.
Diterjemahkan dari
kitab At Tauhid Al Muyassar oleh Marwan bin Musa





































